BALAS DENDAM TAK BERTEPI

BALAS DENDAM TAK BERTEPI
Part.5


__ADS_3

"Jacqueline, siapa yang kamu hubungi". Tanya V,saat istrinya selesai menerima telpon Seseorang.


"Garrix,yang menelponku. Katanya, Melda bersama Orion. Mereka berdua dan teman Melda, sekarang berada di kapal pesiar. Katanya, menikmati pesta di atas air". Jawab Jacqueline, tersenyum manis. Sesekali,dia mendelik ke arah Frans. Raut wajahnya, nampak gelisah.


"Baguslah, sekarang tidak memikirkan keadaan Melda. Kita turun,kuda Nil dan kedua orangtuanya sudah di bawah". V, langsung menggenggam tangan Jacqueline.


Frans, menyusul dari belakang. Matanya, memandang keharmonisan rumah tangga bosnya. Ada canda tawa dan penuh dengan cinta.


V dan Jacqueline,duduk di sofa. Frans, berdiri di samping V. "Ngapain,kamu ke sini? Sana, pergi". Ucap V, dengan pelan. Dia, mengusir Frans. Untuk tidak ikut campur, dalam urusan keluarga satu ini.


"Beristirahat,kamu lelah melakukan pekerjaan kantor". Irfan, menepuk pundak Frans dan di anggukinya.


Huda dan Kedua orangtuanya, menatap kepergian Frans. Sesekali,dia menoleh ke arah ruang tamu. Jujur saja, sangat penasaran apa yang di bicarakan.


"Ngomong-ngomong,jeng Sarah. Mana Melda,". Tanya kelin, tersenyum.


"Maaf, Melda tidak ada". Jawab Sarah, merasa tidak nyaman jadinya.


"Eeee...Kami ke sini, untuk melamar Melda. Kenapa, dia tidak ada? Kata Huda, Melda menyetujuinya". Kelin, penasaran dengan Semuanya.


Huda, gelisah gusar karena idenya sendiri. Memang benar,dia mengada-ada agar memiliki Melda lagi.


"Tunggu dulu,jadi semua ini dari perkataan Huda". Tanya Irfan, langsung di angguki Karle. "Astaga, Melda mengirim pesan kepada kami. Jika dia, tidak ingin memiliki hubungan apa-apa dengan Huda. Karena masa lalu, hatinya begitu terluka dan tertutup hatinya untuk Huda".


"Pak Irfan,kami ingin mendengar secara langsung dari mulut Melda. Biar anak kami,paham dengan Semuanya. Untuk masa lalu,anak kami meminta maaf sebesar-besarnya. Dia, menyesali perbuatannya". Karle, menepuk pundak anaknya yang duduk di samping.


"Oke,kita tunggu Melda. Katanya,dia menuju ke sini". Sahut Jacqueline, mendapatkan kabar.


"Om, Tante dan lainnya. Aku, benar-benar minta maaf dan sangat menyesali. Aku mohon, berilah kesempatan untuk memperbaiki hubungan ku dan Melda. Setelah lamaran di terima,aku akan segera menikahi Melda". Ucap Huda, tertunduk di hadapan Irfan dan Sarah.

__ADS_1


Membuat Irfan dan Sarah, merasa tidak nyaman. Apa lagi, Huda bersimpuh di kaki Irfan. "Eeee...Nak Huda, jangan seperti ini. Kami, memaafkan dirimu. Tapi, keputusan untuk bersama Melda. Tentu saja,kami tidak ada hak. Hanya Melda, yang bisa menjawabnya dan apa pilihannya". Kata Irfan, tersenyum.


"Om dan Tante,aku mohon meminta bantuan kalian. Bujuk Melda,dia pasti mau". Pinta Huda, dengan wajah sedih.


"Aku tidak setuju,karena Melda akan mendapatkan calon suami yang terbaik. Tepatnya, pilihan ku sendiri ". Sahut V,kini angkat bicara.


"V,mamah tidak percaya dengan ucapan mu". Kata Sarah, membantah perkataan anaknya.


"Sama,aku juga tidak percaya" Gumam Jacqueline,karena dia korban dari perkataan kakaknya.


"Yakin, tidak percaya? Buktinya,kamu dapat aku". Bisik V, tersenyum smrik.


"Jeng, bukankah kita sama-sama ingin jadi besan. Ayolah,bujuk rayu Melda. Aku yakin, dia bakalan nurut sama kamu". Kelin,membujuk Sarah teman sosialitanya itu.


"Eeee...Akan aku, usahakan jeng. Kamu,tenang saja". Jawab Sarah, sebenarnya dia ragu untuk membujuk Melda. Apa lagi,saat Huda menduakannya.


Sedangkan Frans, mondar-mandir di dalam kamar. Dia, kebingungan apa yang di bicarakan mereka. Ingin sekali pergi ke sana,tapi tidak mungkin. Frans,keluar kemungkinan dia bisa melihat dari atas.


Dia,di kejutkan kedatangan Melda. Kapan, kembalinya Melda? Bahkan, dia tidak tahu apa-apa.


"Melda, maukah kamu menerima lamaranku". Huda, mengeluarkan cincin di hadapannya.


Adegan tersebut langsung, terlihat sangat romantis. Melda,hanya diam dan memikirkan sesuatu.


"Maafkan aku, Huda. Aku, tidak bisa menerimamu. karena kamu, sudah mengecewakan diriku. Sulit, untuk menerima lagi". Melda, langsung menolak Huda dan pergi meninggalkan ruang tamu. Dia, langsung menaiki anak tangga sedikit berlarian.


Jacqueline dan V, merasa lega karena Melda menolaknya. Sedangkan Huda dan kedua orangtuanya. Sungguh, kecewa dengan jawaban Melda.


Huda, terduduk lemas dan bersandar di sofa. Karle dan kelin,merasa kasian kepada anaknya. Karena gagal, mendapatkan Melda. Hatinya, sangat sulit untuk di luluhkan.

__ADS_1


"Tidak apa, sayang. Waktu masih panjang, Om Irfan dan Tante Sarah. Mereka,akan membujuk Melda". Kelin, mencoba menenangkan pikiran dan perasaan anaknya.


Mau tak mau, Irfan dan Sarah. Hanya mengangguk, walaupun tidak mungkin membujuk Melda.


Huda dan kedua orangtuanya,pamit pulang. Berharap,ada perubahan dari pilihan Melda.


V, beranjak pergi meninggalkan ruang tamu. Dia,naik ke atas dan menemui Frans.


"Secepatnya, kamu harus cari tahu? kenapa,kuda nil berani sekali melamar Melda. Aku yakin,ada sesuatu yang terjadi". Perintah V, kepada sekretaris pribadinya.


"Dua hari yang lalu,aku masih melihat Huda dengan kekasihnya. seperti yang di katakan dulu, jika kedua orangtuanya Huda. Tidak merestui hubungan antara mereka, kemungkinan Melda akan jadi tamengnya". Kata Frans, tersenyum tipis.


"Maksudnya,jika dia mendapatkan Melda. Tentunya, dia memiliki warisan terbanyak. Seseorang saudara tirinya,hanya berapa persen saja. Jika Huda, menikah dengan kekasihnya. Dia, tidak mendapatkan warisan terbanyak". Tebak V, langsung.


"Benar sekali, Huda bersaing dengan saudara tirinya. Yang di khawatirkan adalah, saudara tirinya akan mendekati Melda. Aku, sudah menyelidikinya. Melda dan James, berteman lama". Ucap Frans, membuat V tercengang mendengarnya.


"Waw, jangan-jangan Melda bekerjasama dengan James. Siapa tahu, Melda menaruh rasa dendam kepada Huda. Lebih baik,kamu secepatnya menikahi Melda. Untuk apa lagi,kamu menunggu wanita itu". V, menepuk pundak Frans.


Frans, menghembuskan nafas beratnya. Saat ingin menjawab, perkataan bosnya. "Tidak,bos. Sebelum dia pulang,aku akan menunggunya". Jawabnya, dengan tegas.


"Sampai kapan, Frans. Dia, bertugas di perbatasan antara hidup dan mati. Bertahun-tahun,kamu menunggunya. Nyatanya,mana? Dia, tidak memberikan kabar atau sepucuk surat pun. Jangan sampai,kamu menyesali di kemudian hari. Setelah ini, kemungkinan Melda akan menjauhi mu". Senyum smrik V, berlalu meninggalkan Frans.


Frans,hanya diam dan menatap ke arah langit. Saat ini,dia berada di balkon kamarnya. Membuka isi dompet, terlihat seorang wanita tersenyum manis. Kenangan silam,di ingat oleh Frans.


Dimana dia, mengantar sang wanita pergi bertugas di perbatasan. "Berjanjilah padaku,saat aku pulang nanti. Apa kamu,akan menikahi ku". Ucap wanita itu, tersenyum semanis mungkin.


"Janji, aku akan menikahi tanpa alasan apapun". Jawab Frans, mereka berdua berpelukan dengan mesra. Hingga akhirnya, berpisah di penuhi dengan kesedihan.


Angan-angan perjanjian, membuat Frans menutup pintu hatinya. Tiba sang wanita,pulang dari tugasnya.

__ADS_1


Jawaban sang wanita, membuat hati Frans terluka. Sang wanita, meminta tempo waktu untuk menikah. Karena dia,harus pergi bertugas lagi. Janji,hanya janji yang di lontarkan sampai tidak ada kabar. Bagaikan,di telan bumi.


__ADS_2