BALAS DENDAM TAK BERTEPI

BALAS DENDAM TAK BERTEPI
Part. 8


__ADS_3

Frans,masih santai menghadapi wanita di hadapannya.


"Ayolah, Frans. Janjiku kepadamu, anggap saja cinta monyet. Maaf,aku tidak menghubungimu dan memberitahu jika aku menikah dengan pria lain. Frans,jodoh sudah ada yang atur. Jadi,kita tidak berjodoh. Makasih,atas bantuan mu selama ini. Tenanglah,aku akan menggantikan semua uang yang kamu berikan kepada ku". Kata herlin, seakan-akan menyombong dirinya sendiri.


"Tidak perlu,uang yang sudah aku berikan kepadamu. Bukan apa-apa, palingan cuman lima milyar, sepuluh milyar,atau triliun. Anggap saja,aku bersedekah dengan orang yang tidak mampu. Karena kemampuannya, adalah membohongi orang lain" Frans,menolak mentah-mentah.


Herlin, terduduk lemas. Dia, tidak percaya dengan mudahnya mengabaikan uang tersebut. " Tidak, Frans. Aku,akan mengembalikan uang itu. Takutnya,kamu malah berhutang kepada bos mu".


"Herlin,kau salah menilai ku. Uang yang aku berikan, kepada mu. Bagiku,hanya seujung kuku ku saja. Selamat atas pernikahanmu, semoga saja. Dia, adalah pilihan terbaik mu". Frans, membalikkan badannya dan melangkah pergi.


Herlin,menghela nafas panjang. Dia,masih tidak percaya dengan ucapan Frans. "Tidak,dia bukan siapa-siapa. Frans, hanyalah seorang supir pribadi. Bekerja di tempat orang kaya,aku yakin itu". Herlin, menggelengkan kepalaku.


Saat keluar dari rumah, Herlin. Frans, bertemu dengan seorang pria yang di kenalnya.


"Kau, astaga....kau,kau...". Pria itu, menerka-nerka siapa pria di hadapannya.


"Aku Frans,mantan kekasihnya Herlin. Apa kabar, Samir Ghanem? Lama kita tidak, bertemu". Frans, tersenyum smrik.


"Haa...!! Aku,baru ingat. Tapi, Herlin lebih cocok dengan ku. Di bandingkan dirimu,hanya seorang supir pribadi orang kaya". Samir, mengejek-ejek Frans.


Frans,hanya tersenyum kecil. Dia, menatap tajam ke arah Samir. "Yah,aku seorang supir pribadi orang kaya. Kau benar sekali,aku memang tidak pantas dengan Herlin. Karena Herlin, seorang pembohong besar". Kini Frans, mengejek istri Samir.


"Ck,jaga ucapan mu Frans. Jangan sampai,kamu mendapatkan bogem mentah dariku. Bilang saja,kamu cemburukan". Ledek Samir, kebetulan Herlin keluar dari rumah dan mendekati suaminya.


Samir, langsung merangkul pinggang Herlin. Agar Frans, semakin panas dengan kecemburuan.


"Aku ke sini,karena janji Herlin. Seorang pria sejati,harus menepati janjinya. Jika seorang wanita, mengingkari janjinya kepada pria. Di kemudian hari,si pria mulai tenang menjalin hubungan dengan wanita lain. Karena tidak ada,rasa was-was dan ketakutan atas kesalahannya. Satu kata untukmu, Herlin. Jangan menyesali,atas pilihanmu sendiri". Kata Frans, mampu membuat Herlin terdiam membisu.


"Silahkan pergi,jangan usik di kehidupan kami". Samir, mempersilahkan Frans untuk pergi dari halaman rumahnya.

__ADS_1


Frans,masuk ke dalam mobil. Tanpa, melihat wajah mereka berdua lagi. "Baiklah, sampai mana kesombongan kalian". Seringai tajam Frans,dia memiliki rencana untuk menghancurkan kesombongan mereka.


************


"Tumben sekali,wajahmu kusut sekali Melda. Bagaimana, dengan pekerjaan mu". Tanya Sarah, melihat Melda baru pulang kerja.


"Jelek amat,mukamu Melda. Seperti penagih utang,yang tidak dapat bayaran ". Kekehnya Jacqueline, tersenyum kecil.


"Kakiku pegel,pantat ku juga. Gak enak banget, jadi resepsionis hotel. Bete malahan,gak boleh ngemil. Mana kursinya gak empuk,". Gerutu Melda, karena tidak di perbolehkan kerja sambil makan cemilan.


"Melda,jangan ngomong aneh-aneh. Bersyukur, kamu mendapatkan pekerjaan bagus. Lalu,kenapa juga keluar dari perusahaan Fernandez ha? Bilang saja,kamu nyesalkan". Kata Sarah, membuat Melda salah tingkah.


"Mah,aku tidak menyesal. Masalahnya,otak ku hampir meledak mengerjakan berkas-berkas setumpuk. Frans, benar-benar menyiksa ku. Pengen jadi,staf kantor biasa aja. Kan enak, pekerjaan ku gak sulit-sulit amat". Rengek Melda, bersandar di sofa.


"Maklum, Melda dulu kerja sama aku mah. Kerjaannya, gampang dan tidak menguras otak. Kalau kerja kantoran, seperti itu. Putar otak, sampai jungkir balik. Hahahhaahah....". Jacqueline, tertawa lepas.


Sarah, hanya geleng-geleng kepala. Melihat kelakuan mereka berdua, saling bercanda.


**************


Sore harinya Melda, mengajak Jacqueline berkeliling mall. Mumpung anaknya,di asuh oleh sang ibu mertua.


"Tumben, beli kemeja. Buat siapa, Mel? Jangan bilang,kamu sudah punya pacar". Jacqueline, terheran-heran melihat Melda. Yang dari tadi, memilih beberapa kemeja pria.


"Orion, ulangtahun besok. Jadi, sekalian beliin dia kado". Jawab Melda, sambil menanting satu kemeja berwarna navy di tangannya.


"Hemmm.. Sangat pas,di badan Orion. Emang, Orion gak punya kekasih? Takutnya,kamu malah di labrak lagi". Kekehnya Jacqueline, tersenyum.


"Gak tahu,sih? Semoga aja,belum ada. Takut juga, kalau di labrak sama yayang Orion. Serem tau,mana harga diriku pasti di injak-injak oleh wanita itu". Melda, bergidik ngeri.

__ADS_1


"Apa kamu, mendapatkan kabar? Siapa tahu, Frans mengirim pesan kepada mu". Tanya Jacqueline,di belakang Melda. Dia,juga memilih kemeja untuk V.


"Tidak ada,kenapa? Aku, tidak memperdulikan dirinya lagi. Menyerah,bukan berarti kalah. Aku sudah berusaha, semaksimal mungkin untuk mendapatkan hati Frans. Tetapi, hatinya melebihi sekeras batu". Jawab Melda, mendengus dingin.


"Yakin,kamu menyerah? Berjuang keras lagi, Melda. Buktinya,aku tak pernah menyerah". Jacqueline, menyemangati sahabatnya itu.


Melda, membalikkan badan dan berhadapan dengan Jacqueline. "Masalahnya,kak V dan Frans beda. Sangat susah, untuk meluluhkan nya. Buktinya, saat aku mencium bibir Frans. Dia,hanya diam dan membiarkan saja. Tidak dengan kak V,kau menciumnya tapi di balas". Kata Melda, dengan wajah sedih.


Jacqueline, memusut punggung Melda. "Kamu yang sabar,yah. Kalau seperti itu, terserah kamunya aja. Asalkan,jangan balikan dengan Huda. Aku, tidak setuju Melda. Seputus asanya kamu,jangan deh balikan sama mantan".


"Iyuuuuuhhh.... Amit-amit jabang bayi,kaya gak ada pria lain aja". Melda, langsung bergidik geli mendengar nama Huda.


Lanjut lagi, Jacqueline dan Melda masuk toko sepatu.


Namun langkah kaki mereka, terhenti langsung. Saat melihat dua sejoli, tengah bermesraan dan memilih beberapa sepatu hak tinggi.


"It-itu kan Huda,sama wanita lain". Jacqueline dan Melda, mengintip di balik tembok.


"Namanya Jenni,itu selingkuh Huda waktu pacaran dengan ku dulu. Wahhh... Ternyata, Huda membohongi kita-kita. Kira-kira dia, memiliki rencana licik". Bisik Melda, masih mengawasi gerak-gerik dua sejoli itu.


Tak lupa Jacqueline, mengambil momen kebersamaan mereka. Untuk bukti, ampuh menolak ajakan Huda dan orangtuanya.


"Ck, pembohong besar rupanya. Makanya,jangan mau dekat-dekat dengan Huda. Apa lagi, sampai nikah. Siap-siap saja, pelaminan mu akan runtuh oleh ku". Seringai tajam, Jacqueline.


"Ogah banget,punya suami kegatelan seperti dia. Nyesel deh, dulu mau pacaran sama to cowok brengseeekk....". Gerutu Melda, ingin sekali mencabik-cabik wajah dua sejoli itu.


"Pasti ada sesuatu, di balik bakwan. Kenapa, Huda tiba-tiba datang di kehidupan mu lagi". Jacqueline, mendelik ke arah Melda.


Tentu saja, Melda akan mencari tahu uang sebenarnya. Tidak mungkin,hanya diam. Tanpa pergerakan apapun,agar Huda tidak macam-macam lagi.

__ADS_1


__ADS_2