
"Melda...!" Huda, langsung menarik lengan Melda dan membawanya ke samping. Tentunya,agak kejauhan dari Frans .
Melda, langsung terheran-heran dengan sikap Huda dan datang tiba-tiba. "Lepas..!!". Melda, melepaskan cengkalan tangan Huda.
"Plissss...Aku, ingin berbicara padamu. Ikutlah, denganku". Wajah Huda,memelas agar Melda mengikuti kemauannya.
"Untuk apa,lagi? Kita, sudah tidak ada hubungan apa-apa. Pergilah,jangan ganggu aku". Melda, menepis tangan Huda lagi.
"Melda,ayo buruan. Ingatlah, dengan kekalahan mu". Ucap Frans, dengan tegas.
"Aku, tidak ada waktu luang untuk meladeni perkataanmu". Kata Melda, langsung meninggalkan Huda.
"Mel....Melda..Mel..!!". Huda, mengusap wajahnya dengan kasar. Saat Melda,masuk ke dalam lift bersama Frans.
Melda,hanya menghela nafas dan bersandar pada dinding lift. Untuk apa,lagi? Dia, datang ke sini. Lalu,apa yang ingin di bicarakannya. Batin Melda,tak memperdulikan tatapan tajam Frans.
"Apa,yang kalian bicarakan". Tanya Frans, mendelik ke arah Melda.
"Bukan urusanmu,". Jawab Melda, dengan sinis. Dia, langsung berlalu dan pergi meninggalkan Frans yang masih berdiri dalam lift.
Tetapi Melda, berdiri di depan pintu ruang kerjanya. Dia, menunggu Frans lewat.
"Pak Frans,yang terhormat. Jam tiga sore,aku harus keluar atas perintah Nyonya Sarah". Ucap Melda, tersenyum smrik.
Frans, menghentikan langkahnya. Lalu,berbalik badan dan melangkah mendekati Melda. " Kemana? Apa,ada urusan penting. Ingatlah, selama dua minggu ini. Kamu, harus mengikuti perkataan ku. Katakan,apa perintah Nyonya Sarah".
Melda, mengigit bibir bawahnya. Bagaimana, ini? Masa, iya aku memberitahu kepada Frans. Jika aku, pergi ke pesta ulangtahun temanku. Gawat darurat,ini. Batin Melda, kebingungan mencari alasan kuat. " Aku,pergi kerumah teman sosialita mamah Sarah. Gak tau,apa? Jadi,aku balik dulu ke mansion". Alibi Melda, berharap Frans langsung percaya dengan ucapannya.
Frans, mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Melda. Dia, mengetahui sesuatu yang di sembunyikannya. "Kau, berbohong kepada ku. Berikan alasan kuat,kepada nyonya. Jika kamu, tidak bisa kemana-mana. Bersiaplah,jam tujuh malam kita akan ke pesta ulangtahun perusahaan".
Setelah selesai berbicara, Frans langsung meninggalkan Melda.
Tentu Melda,hanya pasrah dan menghentakkan kakinya. "Menyebalkan sekali,awas kamu". Decak Melda, dengan kesal.
__ADS_1
Jam dinding terus berputar,bosannya semakin menjadi-jadi. Dengan ide licik, Melda diam-diam keluar dari ruangan kerjanya. Berharap, Frans tidak mengetahui kepergiannya.
"Selamat-selamat..." Melda,memusut dadanya dengan lega. Dia, berhasil masuk ke dalam lift.
Ting....
Pintu lift terbuka lebar,namun mata Melda terbalalak melihat sesosok pria tengah berdiri. Tangan satunya,di masukkan ke saku celana.
Ada seringai tajam, membuat Melda mengundurkan langkahnya. "Frans...kamu". Mulutnya tak bisa berkata apa-apa, bukankah Frans masih di dalam ruangan kerjanya. Kenapa, tiba-tiba ada di bawah? Kapan,dia turun. Apakah, Frans menggunakan lift satunya. Tapi,kenapa secepat itu.
Frans, masuk ke dalam lift dan menekan tombol ke lantai atas. Ada seringai tajam, membuat Melda bergidik ngeri.
"Mau kemana,ha? Jangan pernah,kabur dari tanggung jawab". Bisik Frans, menghimpit tubuh Melda.
Detak jantung berdegup kencang, Melda tak sanggup menahan dirinya. Aroma maskulin, tercium menyengat olah Melda. Dia, mendorong dada bidang kokoh Frans dan memberanikan diri menatap wajahnya. Astaga,aku sedekat ini. Jantungku berdegup kencang dan hampir copot. Gerutu Melda,di dalam hatinya.
"Frans,aku mau pergi karena ada urusan. Kamu, tidak berhak mengatur segalanya". Kata Melda, meremas kemeja Frans.
"Iiissshhh.... Menyebalkan,hanya sekali ini saja. Aku,di undang ke pesta ulangtahun temanku". Cicit Melda, dengan bibir mengerucut."Aku, sudah minta izin kepada mamah Sarah. Dan kamu, tidak bisa mencegah ku". Senyum smrik Melda, menantang Frans.
Rahang Frans,mengeras seketika dan menatap tajam-tajam ke arah Melda. Akan tetapi, Melda malah menyambar bibir Frans. Beruntung sekali, Frans bisa menghindari ciuman Melda.
"Ck, suka sekali mencium bibir pria". Decak Frans, menghapus bibirnya. Walaupun, tidak kena bibir Melda. Apa, Melda sering mencium pria tiba-tiba. Dia,saja sangat berani mencium ku tanpa izin dari ku.
"Baiklah,aku akan mencium bibir pria lain". Kata Melda, tersenyum manis.
"Ck, murahan sekali". Gumam Frans, walaupun pelan akan tetapi masih terdengar oleh Melda.
"Apa,kamu bilang aku murahan? Iyakan,coba ulangi ucapan tadi". Melda, sudah berkacak pinggang dan matanya terpejam karena menahan air matanya. Yah...Aku,memang murahan hanya kepadamu Frans. Begitu dalamnya, cintaku padamu. Bahkan,kamu abaikan selama ini. hanya kepadamu,aku bersifat seperti ini.
"Tidak,ada dan pergilah". Frans,malah membuang muka ke sembarang arah. Sialan,aku salah bicara lagi. Pasti, Melda marah besar terhadap ku.
"Brengsekk....". Melda, langsung pergi dan masuk ke dalam lift sebelah. "Kurang ajar sekali, dia mengatakan ku murahan. Ck,akan aku buktikan dengan ucapanmu itu". Gerutu Melda, hatinya terasa teriris-iris.Saat Frans, mengatakan dia murahan.
__ADS_1
***************
"Tumben-tumbenan,gak seceria biasanya". Tanya Shasa,teman dekat Melda yang sedang berulangtahun.
"Iya, ceria lah. Gak rame tau,". Sahut Jelita, tersenyum.
"Lagi,bete banget. Apa lagi,sama atasanku. Masa,mau mencegah masalah pribadi ku segala. Padahal, aku sudah izin kepada Mamah Sarah". Gerutu Melda, menghirup jus jeruk di meja.
"Yeeee... Tapi,ganteng banget tau. Jadi, pengen banget punya suami kaya Frans". Kekehnya Shasa.
"Gila,dia gebetan gue. Awas,mau ambil aja". Melda,tak suka dengan perkataan Shasha.
"Iya,tadi cuman bercanda kok". Kekehnya Shasa, tersenyum manis. "Aku,ke sana dulu yah. Mau,menyapa tamu-tamu lainnya".
Melda,hanya menggunakan dan menatap kepergian temannya bersama Jelita. "kenapa, kepalaku pusing yah". Gumamnya,lalu beranjak berdiri dan ingin ke toilet.
"Aduuuhhh.... Kepalaku,pusing sekali. Sialan, pasti ada seseorang memasukkan obat di dalam minuman ku". Melda, berusaha berjalan dan mencari tempat persembunyian. Sepertinya,ada seseorang tengah mengintai dirinya.
"Aaarghhh...Kenapa, badanku tiba-tiba panas". Melda, terkulai lemas di ambang pintu lift.
Dia, semakin ketakutan dengan kondisinya. Takut,ada seseorang memanfaatkan keadaannya. Matanya mulai memburam, kakinya tak kuat menahan beban tubuhnya lagi. "Frans....Tolong,aku". Lirih pelan, Melda.
Samar-samar,dia melihat seorang pria tengah menghampiri dirinya. "Melda,kamu kenapa".
Tentu saja, Melda mengenali suara siapa? Dia, langsung menepis tangan pria itu
"Jangan sentuh,aku. Sana,pergilah". Melda, sedikit membentak. Walaupun, keadaannya sangat lemah.
"Melda,aku akan membantu mu. Pergi? tidak mungkin,sayang". Senyum smrik Huda,dia langsung mencekram lengan Melda.
Sontak membuat Melda, sedikit memberontak dengan tenaga seadanya. "Tidak, lepaskan aku. Franssss....Tolong,aku... Hmmmmpt.... Hhhmmmpptt....". mulutnya di bungkam oleh Huda,dia langsung di seret dan masuk ke dalam lift.
Di dalam lift, Melda sudah tidak sadarkan diri."Hahahah...Kau,akan menjadi milikku Melda". Seringai tajam, Huda. Entah,dia membawa Melda kemana. Akankah,ada seseorang yang menolongnya atau tidak.
__ADS_1