
"Mah,jangan seperti ini..!! Untuk apa, merendahkan harga diri kita dan bersimpuh di kakinya". Nita,tak terima melihat ibunya bermohon-mohon kepada Jacqueline.
"Almira,mamah mohon. Maafkan,semua kesalahan mamah dan kakakmu. Kami, sangat menyesal sudah memperlakukan kalian seperti itu...huu...huuu...". Wandari,tak henti-hentinya bermohon-mohon kepada Jacqueline.
"Almira Puteri, sudah mati. Namaku Jacqueline Fernandez, keturunan keluarga Fernandez. Jadi, walaupun kalian bersimpuh di kaki ku dan menangis darah sekalipun. Tetap saja, hatiku tak goyah". Jacqueline, menepis tangan Wandari di kakinya. "Menjijikkan sekali, menyentuh kakiku. Cuuiiiihh..... masih ingatkah,masa lalu yang silam. Bagaimana,kalian memperlakukan aku dan ayahku? Apa lagi,kalian mengusir kami di saat hujan deras" delik mata Jacqueline, tersenyum smrik.
Wandari,hanya diam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. "Jacqueline,kami adalah keluarga mu. Bagaimana,jika orang lain mengetahuinya. Sudah pasti,nama keluarga Fernandez akan tercoreng oleh mu. Karena, memperlakukan kami tidak baik".
"Benar sekali,mah. Aku yakin,orang lain akan menghujat dirinya . Sudah pasti,akan malu semau-maunya. Jacqueline, kami adalah keluarga mu. Ibuku adalah ibumu juga, bagaimana orang luar nanti mengetahui sebenarnya". Nita, ikut-ikutan menakuti Jacqueline.
"Oh, lakukanlah jika itu memang benar. Silahkan,apa mereka mempercayai ucapan kalian. Hello.....kalian hanya orang lain,yang masuk ke dalam keluarga secara paksa. Seandainya,ayahku masih hidup. Bisa saja,dia tidak sudi melihat kalian lagi". Jacqueline,tak pernah takut dengan ucapan mereka.
Wandari dan Nita,terdiam. Apa yang di katakan, Jacqueline memang benar.
"Jacqueline,kami mohon. Biarlah,kami akan tinggal di rumah ini. Kami, tidak memiliki tempat tinggal lagi". Wandari,terus saja memohon.
"Lebih baik, aku ratakan rumah ini daripada memberikan kalian tumpangan gratisan". Jawan Zahra, dengan santainya.
"Tega,kamu memang tega. Begitukah, memperlakukan ibu tirimu seperti ini ha? Mana,akal sehatmu". Wandari, mengepalkan kedua tangannya.
"Silahkan,kalian pergi dari rumah ini. Tak pantas,kalian menginjakkan kaki di rumah ini". Tegas Jacqueline, mengusir mereka. "Atau,aku seret paksa keluar". Sorot matanya, menyeringai tajam.
"Ayo,mah. Kita pergi dari sini,". Nita,menarik lengan ibunya dan keluar dari rumah Jacqueline.
Saat keluar dari rumah, Nita di kejutkan kedatangan mantan suaminya.
"Ro-romi...". Gumam Nita, begitu juga Romi terkejut melihat sesosok mantan istrinya.
"Ni-nita, ngapain ke sini? Belum cukupkah, mempermalukan Jacqueline ha". Romi, langsung membentak keras kepadanya.
"Romi,asal kamu tahu? Jika Jacqueline,dia adalah anak tiri ku". Wandari, langsung membuka suara.
"Ha.. anak tiri,tante? Hmmpptt...hahahah... Astaga,jangan mengada-ada tante. Seandainya,dia anak tiri tante. Mana mungkin,aku menikahi Nita. Apa lagi, Jacqueline tinggal di luar negeri. Jangan menghayal, atau jangan-jangan? Kalian, ingin merusak reputasi Jacqueline". Romi,nampak tak percaya dengan ucapan mantan mertuanya.
__ADS_1
"Ro-romi.... ak-aku,...shhhhhh..". Jacqueline,keluar dari rumah. Keadaannya, acak-acakan dan basah kuyup.
"Nona Jacqueline...!!". Romi, langsung menghampiri Jacqueline,tengah tertitih berjalan.
Wandari dan Nita, terkejut melihat keadaan Jacqueline sangat memperihatinkan. "Romi,dia,dia pembohong". Nita, langsung berteriak keras.
"Apa mereka,yang melakukan ini ha". Tanya Romi, langsung di angguki Jacqueline. "Kurang ajar, begitukah sifat asli kalian ha". Bentak Romi, langsung menggendong tubuh Jacqueline dan memasukkan ke dalam mobil.
"Romi,kamu...kamu jangan, memercayainya". Nita,mencekal lengan Romi.
"Romi,kami tidak melakukan apapun terhadap Jacqueline. Percayalah, kepada kami". Wandari,juga ikut-ikutan membela diri dan anaknya.
"Ck, tidak akan pernah. Untung saja,aku sudah menceraikan dirimu Nita. Kalau tidak, bagaimana nasip keluargaku". Romi, menghempaskan tangan Nita.
Nita,hanya menangis karena mantan suaminya sudah terpengaruh oleh Jacqueline. "Romi,jangan mempercayai ucapannya. Dia,dia adik tiri ku dan ingin membalas dendam. Dia,juga menghancurkan hubungan kita". Nita, terus-menerus menahan lengan suaminya agar tidak pergi.
Romi, langsung geram kepada Nita. "Jaga ucapan mu, Nita. Jangan berbicara tentang Jacqueline, yang tidak baik-baik. Kau mengerti,". Ancam Romi, langsung masuk ke dalam mobil.
Wandari, nampak syok melihat keadaan anaknya. Hatinya, terasa teriris-iris melihat anaknya gagal menjalani rumah tangganya.
Wandari,membawa anaknya pulang ke kontrakan. Saat sampai di kontrakan,dia di kejutkan kedatangan Angel.
Angel,tengah berjalan gontai menuju kamarnya. Sepertinya,dia mabuk dan penampilan acak-acakan.
"Kenapa? Kenapa, kehidupan anakku seperti ini? Apa,ini balasannya di masa laluku". Wandari,tak mampu menahan beban hidupnya.
Satu persatu,anaknya menjadi berantakan dalam kehidupan sehari-hari. Suara tangis cucunya, terdengar nyaring.
"Nita, bisakah kamu menenangkan suara tangisan anakmu ha? Tidak becus, mengurus anak kecil". Bentak Wandari, kepalanya nyut-nyutan.
"Aduhhh...aku capek,mah. Mana makanan,belum ada. Bisa gak, Angel di suruh masak-masak. Mamah,gih sana masak". Suruh Nita,sambil menggendong anaknya.
"Nita,adikmu sedang lelah bekerja malam dan pulang jam segini. Bisakah,kamu yang masak ha? Mamah,lagi sakit kepala". Wandari,hanya menghela nafas beratnya.
__ADS_1
"Mah,aku gak bisa masak. Mana anakku,nangis terus. Aku,lapar mah". Rengeknya, Nita. Terpaksa lah, Wandari pergi ke dapur.
Tok...Tok..Tok...
Suara ketukan pintu, membuat Nita malas meladeninya.
"Eeee... besok,bayar kontrakan. Sudah nunggak dua bulan,ingat di lunasi. Kalau tidak,aku bakalan mengusir kalian". Ancam,sang pemilik kontrakan rumah .
"Bawelll...iya, bakalan di lunasi semuanya. Bisa diam gak,bikin rusuh. Sekarang,anakku nangis lagi". Gerutu Nita, dengan kesal.
"Alahhh...gak usah sok, belagu lah. Bayar kontrakan aja, sok-sokan. Bayar juga,gak". Sang pemilik kontrakan,juga kesal kepada Nita.
Ceklekk....
Pintu kamar Angel, terbuka lebar. "kak,bisa gak sih? Anak kakak,jangan nangis terus. Aku pusing dan ngantuk, gara-gara dengar suara anak kakak yang nangis. aku, jadi gak bisa tidur. Aku capek,kerja malam siang". Angel,membentak nyaring.
"Huusssstttt...gak usah,sok membentakku Angel. Aku,juga tidak mau anakku menangis". Jawab Nita, menatap nyalang ke arah adiknya.
"Ck,sini cucuku. tidak becus, mengurus cucuku". Arta,mantan mertua Nita. Tiba-tiba saja, merampas anak Nita.
"Mah, kembalikan anakku". Nita, ingin mengambil anaknya. Akan tetapi, bodyguard Arta langsung menghalanginya.
"Ada apa, ribut-ribut". Wandari, terkejut melihat sesosok mantan besannya itu. "Eee..jeng Arta". Wandari, tersenyum.
"Ck, miskin...tak sudi, menyentuh tangan kalian. Aku akan mengambil alih, cucuku. Lihatlah, cucuku badannya tidak berisi lagi. Apa lagi,anakmu tidak becus mengurusnya. Tinggal di tempat ini lagi, sungguh tidak layak". Arta,malah mengejek-ejek merek.
"Jeng, kembalikan cucuku. Kalian, tidak pantas merebutnya". Wandari,juga berniat untuk merampas cucunya.
"Mah,aku mohon kembalikan anakku. Mah.... kembalikan anakku...". Nita,terus memohon-mohon histeris karena anaknya di ambil oleh mantan mertuanya.
Wandari,juga ikut-ikutan untuk mencegah Arta pergi. Akan tetapi, kewalahan menghadapi para bodyguard mantan besannya itu.
Angel,hanya tersenyum kecil. Karena,bisa tenang tanpa mendengar suara tangisan bayi lagi.
__ADS_1