
"Sial,kenapa aku kepikiran Kiara? Gara-gara, Jacqueline. Aws kamu, sudah kakaknya merusak reputasi ku. Ini malah dia, mengungkit masa lalu. Aku harus tenang, kematian Kiara. Bukan salahku,dia sendiri yang ceroboh". Kata Laura, mondar-mandir di dalam kamar.
Malam semakin larut,seisi ruang kamar Laura terada dingin dan menyeramkan.
"Kenapa,kamarku jadi seram begini? Mana mati lampu,diluar juga hujan deras". Gumam Laura, terlihat jelas di jendela. Petir menyambar-nyambar dan nyaring.
Kreeekk..... Kreeekkk..... Kreeekkk....
Laura,di kejutkan jendelanya tiba-tiba terbuka dan angin kencang masuk ke dalam kamarnya. Dia, langsung bergegas menuju jendela untuk menutup kembali.
"Ck, kenapa bisa terbuka seperti ini". Gerutu Laura,meraih jendela dan menutupinya.
Angin sangat kencang, bahkan Laura juga terkena air hujan. Dia, sangat kesusahan menutup jendelanya.
Tiba-tiba saja,matanya tertuju ke arah bawah. Seseorang,tengah berdiri dan menggunakan payung berwarna merah.
"Siapa itu, jangan-jangan...". Laura, langsung mengunci jendela dan jantungnya berdegup kencang. "Siapa, malam-malam begini. Ada orang berdiri di sana dan menggunakan payung berwarna merah. Mana malam hari,di tambah lagi hujan deras. Sial, kenapa jadi seram begini". Laura, sudah ketakutan dan masuk ke dalam selimut.
Kreesss.....Kreessss..
Kreeess.....kreeesss..
"Berisiiiiiikkkk...!!!". Pekik Laura,dia membuka selimutnya dan matanya tertuju ke arah cermin.
KEMBALIKAN ANAKKU
Laura, gelabakan membaca tulisan di cermin berwarna merah seperti darah.
"Siapa kamu....!! Keluar, jangan menakuti ha...!! Perlihatkan,wujudmu. Aku tahu,siapa kamu? Kamu, adalah Jacqueline kan. Ck,hanya menakutiku saja". Teriak Laura, dadanya naik turun dan tubuhnya bergetar hebat. Laura, hanya bisa melangkah mundur.
Kreeekk...kreeeekk... kreeekkk....
Mata Laura, melotot sempurna saat melihat seseorang tengah keluar dari jendela. Rambut yang panjang,tengah merangkak masuk ke dalam kamarnya.
"Aaaaaaaaaaahhhhh....". Teriak Laura, langsung keluar dari kamar. "Mamaaaaah..... papaaaahh.....". Laura,terus berteriak-teriak dan menuruni anak tangga.
"Aaaaaakkkkkkkkkk....". Laura, terpeleset dari anak tangga dan jatuh ke bawa.
"Lauraaaaaa....". Teriak kedua orangtuanya, Laura. Begitu juga,para pelayan terkejut melihat tubuh Laura tergeletak di lantai.
Ada darah segar mengalir deras,di kepalanya. Tiba-tiba saja, pintu kamar Laura tertutup dengan keras.
__ADS_1
"Braakkkk......". Sontak membuat orang sekitar, tercengang dan terkejut.
"Siapa,kalian periksa di kamar Laura. Aku yakin, ada seseorang yang mendorong tubuhnya". Perintah Haidar,kepada pelayannya.
"Lauraa....bangun,nak". Isak tangis, Sisca. Ibu kandungnya, Laura.
"Ba-baik pak". Jawan pelayan, dengan gugup naik ke atas.
Laura, langsung di angkat dan dilarikan ke rumah sakit.
Dua pelayan,yang berhati-hati masuk ke dalam kamar Laura. Akan tetapi, mereka tidak menemukan sesosok siapapun. Kamar Laura, seperti biasanya dan tidak ada tanda-tanda apapun juga.
*************
Di kediaman Yoshi, suasana gelap gulita. Hanya beberapa,lilin yang menerangi seluruh ruangan.
Yoshi,tengah sibuk dengan pekerjaannya.
Kreeekk......
Yoshi, tercengang mendengar suara di ruangan lainnya. "Ly,jangan main-main. Sudah malam,sayang". Teriak Yoshi, matanya calingukan mencari sesosok putrinya. "Astaga,aku lupa. Kalau Ly, bersama neneknya". Gumam Yoshi,dia menaruh laptopnya dan menuju ke sumber suara.
Kreeekkk... Kreekkk.... Kreekkk...
Matanya tertuju,tepat di samping mobil. Seseorang tengah berdiri dan menggunakan payung berwarna merah.
"Haaa..!!!apa,itu...". Yoshi, langsung mengunci jendela dan kembali ke tempatnya.
Yoshi, mengusap wajahnya dengan kasar. Entah kenapa, ruangannya menjadi seram. "Sial,kenapa sesosok itu sangat mirip dengan seseorang. Sial,sial,sial". Gerutu Yoshi,dia langsung pergi dan menaiki anak tangga. Saat di tengah, matanya membulat sempurna dan dadanya naik turun mengontrol dirinya.
Kreekkk....kreekkk .. kreeekkk.....
Sesosok tengah, merangkak dan menuruni anak tangga. Penampilannya, sangat menyeramkan.
Yoshi,hanya bisa diam. Seakan-akan,tubuhnya mematung. Mulutnya,tak bisa berteriak lagi. Bibirnya, bergetar hebat.
"KEMBALIKAN ANAKKU....!!!!!". teriak sesosok, menyeramkan yang menggunakan payung berwarna merah. Tepat,di atas lantai dua.
"Aaaaaaaaaaakkk.....". Teriak Yoshi,yang membuat dia terkejut. Seseorang tengah,menarik kakinya dan terguling ke bawah.
Prangggg.....
__ADS_1
Teriakkannya, sangat kencang dan memecahkan jendela kaca Yoshi. Begitu juga Yoshi,jatuh dari tangga dan tak sadarkan diri.
************
"Astaga......". Sarah dan Jacqueline,nampak terkejut mendengar berita tersebut tersebar luas.
Berita tentang Yoshi dan Laura,masuk ke rumah sakit karena jatuh dari tangga.
Kediaman Yoshi dan di kediaman orangtuanya Laura. Sepagi ini, sudah banyak orang-orang berdatangan untuk menyelidiki kasus tersebut.
Para wartawan berbondong-bondong datang,juga. Tak mungkin terlewatkan, berita yang sangat penting itu.
"Kami mendapat informasi, sebelum kejadian dimana tuan Yoshi dan nona Laura jatuh dari tangga. Ada dua pelayan,di kediaman berbeda. Mereka mengatakan, bahwa mendengar suara teriakan. Kemungkinan,suara tuan Yoshi dan nona Laura. Saat jatuh dari tangga,yang lebih misteri nya lagi. Kenapa, mereka berdua secara bersamaan mendapatkan musibah ini? Apakah,ada seseorang yang berniat melakukan ini. Semoga saja,pihak berwajib segera mengungkapkan masalah ini". Ucap seorang, wartawan tersebut. Yang menyiarkan, secara langsung di tempat kejadian.
"Mengerikan sekali,mah. Tapi, kenapa mereka tiba-tiba jatuh dari tangga. Bahkan,ada berita lagi. Kayanya, tidak menemukan bukti apapun. Kemungkinan, Mereka jatuh karena kepeleset sendiri". Jacqueline, memperlihatkan berita di ponselnya.
"Bagaimana, mungkin. Mamah dan papah,akan. Kerumah sakit, untuk menjenguk keadaan Laura. Mamah, kasian kepada jeng Sisca. Mau ikut gak? Kalau,mau. Sana siap-siap, untuk pergi". Sarah, juga syok mendengar berita tersebut.
"Tidak,mah. Aku ada janji, dengan Melda. Kemungkinan,aku akan ke sana dan menjenguk keadaan tuan Yoshi". Jawab Jacqueline, tersenyum manis.
"Baiklah,mamah dan papah. Juga akan, menjenguk keadaan Yoshi nantinya". Sarah, pergi meninggalkan Jacqueline. Setengah,berkata seperti itu.
"Jacqueline....". Melda, memanggil namanya. Tengah berlarian, menghampiri Jacqueline. "Kamu sudah, tahukan? tentang tuan Yoshi, jatuh dari tangga".
"Hemmm... Sudah tahu,kita ke sana. Aku sudah siap,". Jawab Jacqueline, langsung menggandeng tangan Melda.
"Yah...Ayo,ke sana". Jawab Melda, tersenyum. Mereka berdua,keluar dari mansion dan masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan, pikiran mereka tengah di sibukkan dengan musibah yang dialami Yoshi.
"Jacqueline,apa ini karma? Buktinya,kamu di ganti oleh Laura. yang menggantikan posisi mu,atas kehendak tuan Yoshi". Ucap Melda, membuat Jacqueline mengerutkan keningnya.
"Mungkin saja,kenapa mereka berdua sama mendapatkan karmanya. Bahkan, dengan waktu bersamaan hanya berhalat beberapa menit saja. Aku,malah mencurigai sesuatu". Kata Jacqueline,sedari tadi pikirannya tertuju kepada seseorang.
"Maksudnya,ada seseorang yang sengaja melakukan ini. membuat skenario, terhadap tuan Yoshi dan Laura jatuh kea tangga. Agar, bukti yang dia lakukan tidak ada". Tanya Melda, kebingungan.
"Bisa jadi,ada seseorang menaruh dendam besar Kepada mereka. Iyakan,kalau aku gak mungkin,". Kekehnya, Jacqueline tersenyum.
"Motif balas dendam, tidak mungkin". Gumam Melda, tengah kebingungan.
"Yeee... tuan Yoshi, seorang sutradara film. Siapa tahu,dia melakukan kesalahan di masa lalunya. Begitu juga, Laura. Mungkin saja, seseorang balas dendam karena sakit hati. Lalu....". Jacqueline, menutup mulutnya dengan tangan. Karena Melda, sudah menaruh curiga kepada Jacqueline.
__ADS_1
"Jangan-jangan,kamu mengetahui sesuatu Jacqueline. Jangan berbohong, kepadaku. Aku tahu,mana yang bohong dan tidak di wajahmu". Melda, mencubit pipi Jacqueline.
"Nanti saja,kita ke rumah sakit dulu dan temui tuan Yoshi. Ada kabar,tuan Yoshi sudah sadar karena tidak terlalu parah". Jawabnya, Jacqueline. Membuat Melda,memasang wajah cemberut. "Aku akan, menceritakan semuanya". Sambung Jacqueline, wajah Melda langsung tersenyum merekah.