BALAS DENDAM TAK BERTEPI

BALAS DENDAM TAK BERTEPI
Pesan


__ADS_3

Malam ini adalah kencan ketiga Jacqueline.


Seorang pria bernama Jay Chou, berumur dua puluh tujuh tahun. Sudah tiga tahun, menjadi seorang pengacara di usia mudanya.


Jacqueline, bertambah gemas terhadap Jay memiliki gigi gingsulnya yang manis. Astaga, mimpi apa aku? Menemui pria,yang manis-manis. Lama-kelamaan,bisa diabetes akunya. Batin Jacqueline, tersenyum.


Seperti biasanya, mereka berdua saling mengenal satu sama lain. Memesan makanan, berbincang hangat


Tentunya, mereka berdua saling malu-malu kucing.


"Kalau, terjadi sesuatu nantinya. Aku siap, menjadi pengacara mu". Kekehnya,Jay.


"Boleh-boleh,aku jadi senang. Belum apa-apa, sudah di tawarin. Hehehehe....". Jacqueline, tersenyum. Matanya, melirik-lirik ke arah lain. Hanya untuk,membuang rasa gugupnya.


"Hemmmm...Aku boleh, berfoto bersama mu". Pinta Jay, canggung saat ini.


"Eeeee...boleh,boleh dong". Jawabnya Jacqueline,kini mereka berdua berfoto bersama.


"Ternyata, aslinya sangat cantik. Aku, sempat tidak percaya dengan kencan buta ini. Sebenarnya, aku tidak pernah kencan". Kata Jay, tersenyum.


"Benarkah? Aku juga, tidak pernah berkencan dengan pria pekerjaannya sebagai pengacara. Jadi, aku sedikit canggung". Jacqueline, membenarkan mantel bajunya.


"Hemmm...Aku dengar-dengar,kamu pernah menjalan hubungan dengan artis kan? Kenapa,kalian putus hubungan". Tanya Jay, membuat Jacqueline terkejut mendengarnya.


"Masalahnya, dia tak ingin secepatnya menikah. Maklum,masih ingin mengejar karirnya". Jawab Jacqueline, dengan santainya.


"Oh, apakah hubungan antara kita ini serius atau di jalani dulu. Maksudnya,di jalani sebagai teman". Ucap Jay, dengan gugup.


Waduh... Jay, ternyata cepat juga membahas tentang ini. Apakah,dia benar-benar serius dengan perkataannya. Batin Jacqueline, terheran. "Kita jalani dulu, sebagai teman".


"Baiklah, bagaimana pekerjaan mu? Lancar, tidak ada masalah apapun". Tanya Jay, lagi.


"Hemmm... lancar, tidak ada masalah apapun". Jawab Jacqueline, tersenyum. Sebenarnya,aku lebih suka Garrix atau Doddy. Karena gayanya,kek gimana gitu.


Cukup lama mereka berbincang hangat dan menyantap makanan yang di pesan mereka.


Pada akhirnya Jacqueline,di antar pulang oleh Jay.


"Bagaimana,orangnya sayang? Apa kamu suka, dengan yang terakhir". Goda Sarah,lagi.

__ADS_1


"Aku lebih suka, pertama dan kedua". Jawabnya Jacqueline, tersenyum sumringah.


"Oke, sebenarnya mamah juga tidak terlalu suka dengan gayanya. Terlalu,waw...menurut mamah, maklum dia anak di manja". Kekehnya Sarah, mengusap rambut panjang Jacqueline.


"Emangnya, Jacqueline siap menikah? Baru umur dua puluh empat tahun, sok-sokan ingin berumah tangga. Di sakiti nangis, kabur-kaburan nantinya". Ucap V, menuruni anak tangga.


"Lah, daripada kamu bisa apa? Umur hampir kepala tiga, gak nikah-nikah". Sahut Jacqueline, cekikikan tertawa.


"Benar sekali,sayang. Umur segitunya,gak nikah-nikah. Gak malu apa? Ayahmu,umur dua puluh lima tahun. Dia, sudah berani mengajak mamah nikah. Selang hampir dua tahun,kamu keluar". Kata Sarah, membuat V di pojokkan.


"Bukannya,apa? Aku,hanya saja tidak menemukan keberadaan wanita yang pas untuk ku. Jika aku, mendekati wanita manapun gampang. Malah, wanitanya kecentilan dan mengejar-ngejarku". Ucap V, dengan lantang.


Membuat Jacqueline, tersenyum kecil. Sudah pasti,V tengah menyindir dirinya. Hatinya terasa teriris-iris, mendengar ucapan V. Akan tetapi,dia hanya menutupi dengan senyuman manis.


"Ck,sok belagu segala. Oh yah,kita naik ke atas yuk..malas, ngomong sama dia". Sarah, menggandeng tangan Jacqueline.


Mereka berdua naik ke atas, bersamaan. Sampai di depan pintu kamar Jacqueline, Sarah pamit ke kamarnya.


Tentu saja, Jacqueline mengunci pintunya dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Barulah, tangisnya pecah tanpa di ketahui siapapun.


Suara ketukan pintu, terdengar di telinga Jacqueline. Dia, sangat tahu jika itu adalah V.


Jacqueline, sengaja tak membukanya dan memasang headset Agar tak terdengar, suara apapun lagi.


*************


"Pagi Candra, apa kabar mu? Lama tidak bertemu,hemmm". Jacqueline,menyapa seorang fotografer profesional itu.


"Aku baik, bagaimana dengan mu? Jujur saja,aku sangat merindukanmu. Sungguh,kau terlihat lebih cantik". Candra, memotret Jacqueline asal-asalan. "Lihatlah, sangat cantik".


Candra, memperlihatkan gambarnya tadi. "Hemmm...kau, benar-benar tidak ada duanya Jacqueline".


"Ayolah,jangan memuji teman kita ini. Di, semakin pede". Sahut Melda, merangkul pundak Candra yang lebih tinggi darinya.


"Jangan sok-sokan ngatain aku, untuk apa kamu merangkul pundak Candra? Badanmu, sangat pendek". Ejek Jacqueline, cekikikan tertawa.


[Apa kamu tidak berniat, membantu ku. Tolonglah,temuiku di gedung bramuja malam ini]


Jacqueline, mengerutkan keningnya saat membaca pesan dari Seseorang yang menerornya. "Apa aku, temui saja orang ini bersama Melda? Tapi,kenapa aku ragu". Gumamnya lagi.

__ADS_1


"Ada apa,hemm". tanya Melda, mendekati Jacqueline. Dia, langsung mengambil ponselnya dan membaca pesan tersebut.


"Kamu,yakin ingin menemuinya".


"Yah...agar dia, tidak lagi mengirimkan pesan kepada ku. Sungguh,itu mengganggu kesenangan ku saja". Jawab Jacqueline, membuat Melda khawatir.


"Lebih baik,kamu ceritain tentang ini kepada Garrix. Siapa tahu,dia menemani kita nanti". Usul Melda,kepada Jacqueline.


"Benar sekali,aku hubungi dia sekarang". Jacqueline, langsung menghubungi Garrix.


Garrix, menyetujui dan bertemu di restoran saat makan siang nantinya.


*************


"Apa sudah menyelidiki, nomor siapa ini". Tanya Garrix, tepatnya mereka bertiga tengah makan siang di restoran.


Jacqueline dan Melda,hanya menggeleng kepala bersamaan. Karena mereka,memang tidak tahu pasal nomor tersebut.


"Baiklah,kita temui malam ini. Tapi,aku lebih duluan. Agar orang itu, tidak curiga dengan gelagat kalian. Kemungkinan,dia juga merencanakan sesuatu. Intinya, berhati-hati lah. Jacqueline, bisa menggunakan pistol?". Tanya Garrix, langsung di angguki Jacqueline. "ya sudahlah,bawa pistolnya dan jaga-jaga".


"Yakin,kami bisa Jacqueline? Kita sudah lama,tidak belajar lagi. Aku ragu,". Ucap Melda, gelisah.


"Payah,aku bisa kok. Janji, bakalan berhati-hati. Aku, sangat penasaran sekali. Siapa, orang yang coba-coba meneror ku melalui pesan". Decak Jacqueline, dengan kesal.


"Sabar,semoga saja bisa terungkap malam ini". Garrix, menggenggam tangan Jacqueline.


Melda,hanya melotot melihat pemandangan romantis di hadapannya. "E'ehmmm....". Melda,berdehem sontak Garrix melepaskan genggamannya.


Jacqueline,hanya cengengesan melihat Garrix malu-malu kucing. Astaga, kenapa aku tiba-tiba agresif seperti ini? sial,bikin malu saja. Gerutu Garrix,di dalam hatinya.


"Eeee..makan kita, sudah datang. Ayo,kita makan sama-sama. Jangan malu-malu lah,gak enak. Gak papa,aku jadi obat nyamuk. Santai saja,". Kekehnya Melda, cengengesan.


"Hahahaha...benar, jangan malu-malu Garrix. Santai saja,aku sering jadi obat nyamuk Melda". Sahut Jacqueline, tersenyum.


"Eee.. sudah punya yah,kira belum". Ucap Garrix, membuat Jacqueline mengerutkan keningnya.


"Maksudnya begini,kalau kita jalan-jalan. Aku,bisa membawa teman untuk Melda". Garrix,jadi salah tingkah.


"Bawa saja, tidak masalah". Sahut Melda, langsung. Tanpa memperdulikan ekspresi wajah, Garrix.

__ADS_1


"Apa dia, tukang selingkuh". Bisik Garrix,kepada Jacqueline.


Jacqueline,hanya menggeleng kepalanya dan senyum-senyum sendiri. Wajah Garrix, sudah memerah seperti kepiting rebus. membuat Jacqueline,gemes terhadap pria di sampingnya ini. Dia,memang sangat pemalu.


__ADS_2