BALAS DENDAM TAK BERTEPI

BALAS DENDAM TAK BERTEPI
Part. 18


__ADS_3

"Sahhhh.....".


"Sahhhh...".


"Alhamdulillah...".


Ucap para saksi dan tamu, Frans sudah selesai mengucapkan ijab kabul. Hatinya merasa senang, sudah menikahi Melda.


Melda, tersenyum manis. Dia, terlihat sangat cantik. Saat mengenakan gaun pengantin, berwarna putih. Mahkota kecil,di atas kepalanya.


Sarah, meneteskan air matanya. Melihat Melda, sudah menikah dengan Frans. Akhirnya, terkabulkan sudah doa-doanya selama ini. Hatinya sudah merasa lega dan tenang. Kedua anak perempuannya, sudah menikah dengan pria yang di kenalnya cukup lama. Bahkan, sudah menganggap sebagai anak sendiri.


Irfan, menepuk pundak Frans. Merasa bahagia, sudah menikah dengan Melda.


Begitu juga V,memeluk erat sekertaris pribadinya dan sekaligus sahabatnya yang paling di percayai.


Frans,merasa bahagia yang sudah lama mengabdi kepada keluarga Fernandez. Menyambung amanah Alm. Ayahnya dulu. Hanya keluarga Fernandez,yang tulus menjadi bagian keluarganya. Tidak pernah, memandang siapapun dan dari golongan mana pun


Jacqueline, memeluk erat tubuh sahabatnya itu. Begitu bahagia, karena sahabatnya menikah dengan pria yang sangat di cintainya


"Selamat Melda, akhirnya tidak sia-sia". Isak tangisnya Jacqueline, tersenyum bahagia.


"Hemmm.. Bahkan,aku masih tidak percaya". Melda,yang sedari tadi sudah menangis kesegukan.


Foto bersama keluarga Fernandez, terlihat jelas Raut wajah mereka nampak sangat bahagia.


Para tamu undangan lainnya, berdatangan silih berganti. Menikmati suasana resepsi pernikahan dan hidangan yang disajikan.


"Makasih, sudah mencintaiku sampai detik ini. Maaf, aku pernah mengabaikan perasaan mu". Frans, mencium kening Melda yang sudah sah menjadi istrinya.


Melda, cengengesan dan merasa malu mendengar ucapan Frans. Dia, mengangguk Kepalanya. Usahanya selama ini, tidak sia-sia.


"Selamat Melda, padahal aku sudah menantikan momen ini. Berharap aku,yang menjadi mempelai pria dan bersanding dengan mu". Kekehnya Sagara, mendapatkan tatapan tajam dari Frans.


"Makasih, bos. Semoga dapat,calon istri yang jauh lebih baik dari ku". Kata Melda, tersenyum manis.

__ADS_1


"Lepaskan, tanganmu dari tangan istri saya. Jangan coba-coba, menjadi pebinor". Frans, melepaskan genggaman tangan Sagara dan istrinya.


"Iya,iya...Jangan sampai kamu, menyakiti Melda. Aku lah, pria yang pertama mengambilnya". Ucap Sagara, tersenyum smrik. "Melda,jika dia menyakitimu. Beritahu aku,agar aku menjemputmu".


"Sialan,kau ini". Decak Frans, baru saja menikah. Sudah ada pria,yang ingin merebut Melda.


"Selamat Frans dan Melda, untukmu Frans. Jangan sampai juga, menyakiti sahabat ku Melda. Siap-siap,aku akan menculiknya". Kini Alvin, ikut-ikutan mengompori perasaan Frans.


"Hussssttttt....Jangan dia ambil hati, Frans. Tapi, ucapan mereka ada benarnya juga. Aku, setuju dengan mereka". Jacqueline, memberikan kode agar dua sahabatnya ini turun dari pelaminan.


"Makasih, Alvin. Kalian berdua, cepat-cepat nyusul juga yah". Kata Melda, tersenyum manis.


"Jangan tersenyum manis,kepada pria lain". Bisik Frans,yang mulai posesif terhadap istrinya.


Melda, mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan sang suami. "Oke deh, tapi tidak janji". Kedip mata Melda, tersenyum.


Frans,menghela nafas panjang dan melonggarkan dasinya. Tiba waktunya,tamu undangan bisnis mulai naik ke pelaminan. Untuk mengucapkan selamat atas pernikahannya, Melda hanya mengangguk dan tersenyum. Karena dia tidak,mengenali rekan bisnis Frans. Tak lupa, beberapa foto kebersamaan dengan rekan bisnis.


*************


Acara resepsi pernikahan, berakhir di sore hari. Melda, merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Mereka masih,di kamar hotel ternama di kota ini.


"Bersihkan dirimu, aku akan memesan makanan untuk kita". Kata Frans, terlihat segar. Dia, baru saja selesai mandi. "Aku kebawah dulu,ada rekan kerja yang datang".


"Hemmm....Jangan lama,aku lapar". Rengeknya Melda, tersenyum.


Frans, mengecup bibir istrinya sekilas. "Tidak akan lama, bersihkan dirimu".


Melda, menatap kepergian suaminya dan menghilang di balik pintu kamar.


Dengan langkah gontai, Melda masuk ke kamar mandi. Badannya, lengket-lengket karena keringat.


Beberapa menit kemudian, Melda sudah selesai mandinya.


Rupanya,sang suami tak kunjung datang. Kemungkinan, Frans belum selesai dengan urusannya. "Menyebalkan sekali, baru menikah. Sudah mulai mengurus pekerjaannya, huuuff.. harus sabar,yang penting Frans milikku seutuhnya". Gumam Melda,dia merias wajah. Menyemprotkan parfum,biar wangi dan tak lupa berpakaian seksi.

__ADS_1


"Malam pertama, sungguh deg-degan begini". Gumam Melda, memegang dadanya. Dia, melihat dirinya sendiri di pantulan cermin.


Tidak boleh ada yang kurang, dengan penampilannya. Apa lagi, momen malam pengantin.


Ceklekk.....


Pintu kamar terbuka, terlihat sesosok Frans dan bersamaan pelayan. Rupanya, membawa makanan untuk mereka.


"Maaf, menunggu mu lama". Ucap Frans, menata makanan di meja dan menyuruh pelayan tersebut pergi.


"Makasih, suamiku. Hmmmm... sangat harum sekali, perutku meronta-ronta untuk di isi". Kekehnya Melda,dia langsung menyantap makanannya.


"Pelan-pelan, tidak ada yang mengambil makanan mu". Frans,melap bibir Melda yang celemotan.


Frans, merasa canggung dengan suasana seperti ini. Apa lagi, penampilan Melda sungguh menggoda dirinya. Makan pun tak fokus, matanya yang sudah mengalihkan pandangannya ke arah sang istri. Ingin sekali cepat-cepat, menghabisi makanan. Tak sabar, menghabisi istrinya itu di atas ranjang.


Malam semakin larut, keadaan semakin canggung. pengantin baru itu,masih diam dan tidak berbicara apapun.


Dering ponselnya, Frans. Membuyarkan keheningan,di dalam kamar pengantin.


"Siapa,yang menelpon? Apakah, penting". Tanya Melda,saat Frans tercengang melihat siapa yang menelponnya.


"Herlin,yang menelpon ku. Kemungkinan,dia mengetahui pernikahan ini". Jawab Frans, menarik Melda dalam pelukannya.


Melda, semakin gugup di buatnya. Tak berani menatap wajah, Frans. "Angkat telponnya,jangan lupa aktifkan pengeras suara ". Pinta Melda,yang di angguki Frans. Sebenarnya,dia sangat malas berkomunikasi dengan Herlin. Dia terpaksa melakukannya, karena Melda.


(Halo, Frans. Syukurlah,kamu mengangkat telpon ku). Ucap Herlin,di sebrang telpon sana.


"Hemmm..Ada,apa? Jangan bertele-tele" Kata Frans, dengan nada dinginnya mulai aktif.


(Frans, katakan berita pernikahan mu hoax. Kamu, tidak menikahkan? Berita tersebar luas,itu. Hanyalah, bohong semata). Herlin.


"Tidak, Herlin. Semuanya, benar-benar nyata. Aku, sudah menikah tadi siang. Saat ini,aku tengah bersama istriku". Jawab Frans, berharap Herlin sadar diri. Jangan pernah lagi, muncul di kehidupannya. Huuufff.... Kenapa jadi rumit? berharap, Melda tidak mencurigai perasaan ku kepada-nya.


Suara isak tangisnya, terdengar oleh Melda dan Frans. Yah... Herlin, menangis kesegukan cukup keras.

__ADS_1


(Frans, kenapa kamu setega itu? Tidak bisakah, memberikan ku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita. Lalu,kenapa kamu menikah lagi? jujur,aku sangat mencintaimu Frans). Herlin, meluapkan rasa cintanya kepada Frans.


Frans,menghela nafas dan memandang ke arah Melda. Dari tadi, Melda masih bersikap santai-santai saja. Dia, memahami karakter Frans. Tidak mungkin,dia bermain-main dengan wanita lain.


__ADS_2