BALAS DENDAM TAK BERTEPI

BALAS DENDAM TAK BERTEPI
Part.13


__ADS_3

"Besok aku,ada pemotretan di Villa. Kita akan bermalam di sana, sangat indah pemandangan di atas pegunungan". Ucap Sagara, sebelum Melda pulang bekerja.


"Baiklah, pagi-pagi aku akan ke apartemen mu. Menyiapkan semuanya, berapa hari kita di sana". Tanya Melda, tersenyum kecil. Lumayanlah,liburan dan membuang stress.Batin Melda,tak sabar untuk esok hari.


"Dua harian,jam delapan pagi. Kita sudah berangkat ke sana,jangan bangun kesiangan". Sagara,menarik hidung mancung Melda. Sangat menggemaskan sekali, lama-lama dia akan meluluhkan hati ku.Batin Sagara, diam-diam memperhatikan gerak-gerik Melda. Dia, menyukai kinerjanya yang cekatan dan paham.


Melda, meringis kesakitan. "Sial,merah hidung mancung ku". Gerutu Melda, mencibir bibirnya. Sumpah, meleleh hati adek,bang. Lama-kelamaan, memandang senyum gemesmu. Apa lagi,gigi gingsulnya yang manis


Melda,pamit pulang pekerjaan sudah selesai. Hari juga semakin sore,dia harus meminta ijin kepada Sarah. Mau tidak mau,dia harus ikut. Sudah sewajibnya, sebagai asisten seorang model. Apa lagi, mendengar pegunungan. pasti sangat menyegarkan dan hawa yang sejuk.


Sebelum pulang,dia mampir di sebuah kafe favoritnya. Menemani lelah di sore hari, tidak peduli walaupun sendirian.


Melda,memesan minuman dan cemilan. Setelahnya,dia duduk di kursi. Terlihat kafe, lumayan rame dan banyak pemuda-pemudi dan berpasangan juga.


"Ck,bau kencur". Gumam Melda,satu gerombolan pemuda-pemudi. Sudah lama mereka, melirik ke arah Melda yang duduk sendirian. Bisik-bisik,yang tidak jelas. Kemungkinan, mereka ingin berkenalan dengan Melda. Tapi,malu atau gengsi.


Satu pria, memberanikan diri dan duduk di samping Melda. "E'ehmmm... Sendiri aja,nih. Boleh kenalan,gak?" Pria itu, mengulurkan tangannya. Sangat cantik dan mansi,bolehlah koleksiku.


Melda, menyambut uluran tangannya dan tersenyum. "Melda,". sepertinya,dia playboy cap kadal. Keliatan sekali,maaf aku suhunya dan kamu hanya pemain pemula. Batin Melda,mengejek pria di hadapannya.


"Niko, dan di sana teman-teman ku". Niko, menunjukkan ke arah temannya. Melda, menoleh ke segerombolan pemuda-pemudi dan mereka melambaikan tangannya.


Melda,hanya mengangguk dan tersenyum manis. "Kalian,anak geng motor yah". Tanyanya, terlihat dari setelan pakaian seperti geng motor. Astaga, mimpi apa aku? Bisa-bisanya, berkenalan dengan brondong bau kencur. Baguslah,jika aku masih terlihat anak sekolahan atau kuliahan.


"Iya,aku ketua geng motor Tiger". Jawab Niko, tersenyum dan memperlihatkan gigi gingsulnya yang manis.


"Oh,masih sekolah". Tanya Melda, menatap intens ke arah Niko.


"Iya,masih sekolah. Tapi,mau lulus kok. Ngomong-ngomong, kamu sekolah dimana". Tanya Niko, sontak membuat Melda cekikikan menahan tawanya.

__ADS_1


"Ya ampun,maaf dek. Sebenarnya,kakak berumur 24 tahun. Sudah bekerja, tidak sekolah lagi". Melda, menggeleng kepalanya. Bisa-bisanya, brondong masih pelajar berkenalan dengannya.Nah, benarkan. Jika dia dan temannya,masih sekolah. Gak salah,kan.


"Hahahaha... Sangat Lucu. Mana mungkin,24 tahun. Pasti bo'ong kan,kalau kuliah percayalah". Niko, nampak tak percaya dengan ucapan Melda.


Melda, langsung mengeluarkan identitasnya. Niko, yang penasaran langsung mengambil dan melihatnya. Matanya, melotot sempurna. Apa yang di katakan Melda,memang benar.


Niko, nampak gelabakan dan salah tingkah. "Maaf,kak. Salam kenal,tapi belum punya suami kan? Permisi kak,maaf. Kakak, sangat cantik dan menarik". Niko, langsung pamit undur diri. Karena takut, berhadapan dengan Melda.


Melda, sudah menyeringai tajam ke arah Niko. "Iya,aku maafkan". Kata Melda, tersenyum smrik.


Teman-teman Niko, bersorak-sorai mengejek-ejeknya. Bagaimana bisa,dia berkenalan yang usianya jauh lebih tua darinya. Akan tetapi, Niko diam-diam tertarik dengan Melda.


Walaupun Melda,acuh dan diam. Tidak memperdulikan, tatapan orang-orang sekitarnya. Telinganya, mendengar ocehan para pemuda-pemudi dan lainnya.


Satu jam berlalu, Melda memutuskan pulang. Minum dan cemilannya, sudah habis.


"Mau pulang,kak? Mau di antar,gak?". Kata Niko, mengedipkan matanya.


"Makasih, tidak perlu". Jawab Melda, langsung masuk kedalam mobil.


Benar saja, teman-temannya langsung bersuara dan mengejek Niko lagi.


***********


Melda, meminta ijin kepada Sarah. Karena besok,dia harus ikut ke villa dan bermalam selama dua hari.


Sarah, mengijinkannya. Walaupun, hatinya berat karena jauh dari pandangannya. Tetapi, dia percaya bahwa Melda bisa menjaga dirinya.


"Makasih,mah". Melda, tersenyum sumringah karena mendapatkan ijin untuk pergi.

__ADS_1


"Tenang saja,mah. Sagara dan Alvin, baik kok orangnya. Apa lagi,yang lainnya juga ikut". Jacqueline,juga meyakinkan perasaan Sarah.


"Ya sudah,kamu hati-hati dan jaga diri. Lalu,apa jawaban mu? Kamu,belum menjawab pertanyaan Frans. Mau atau tidaknya". Kata Sarah.Berharap, jawaban Melda tidak mengecewakan dirinya.


Melda,hanya garuk-garuk kepala dan kebingungan. "Hemmm...Maaf,mah. Melda, tidak bisa menjawab sekarang". Tertunduk lesu, tidak berani menatap wajah Sarah.


"Oke, Frans akan menunggu jawaban mu". Sarah,juga tidak memaksakan kehendaknya. Biarlah, Melda menentukan pilihannya sendiri.


Jacqueline dan Melda,pamit ke kamar masing-masing.


Saat Melda,masuk ke dalam kamar dan tiba-tiba seseorang mendorong tubuhnya.Sontak membuatnya terkejut, dengan sikap Frans. "Frans,kamu ngapain masuk ke dalam kamar ku".


"Kenapa? Biasanya dulu,kamu sering masik ke dalam kamarku. Tanpa, persetujuan dari ku dan langsung nyolong masuk". Frans, langsung mengunci pintu dan kuncinya di masukkan ke saku celana.


Melda,kaget dengan perlakuan Frans. Apa yang di pikirannya, sampai-sampai kunci kamarnya. Berada di saku celana, bagaimana jika seseorang mengetahui Frans di dalam kamar. Kemungkinan besar, mereka langsung di nikahkan. "Frans, keluar dari kamar mu. Dulu, aku ad perlu dengan mu. Makanya, nyolong masuk kedalam kamar mu. Lagipula,kamu tidak menyahuti panggilan karena mandi. Kebetulan sekali, pintu kamarmu tidak terkunci. Jadi, saat ini sudah beda Frans. Aku dan kamu, tidak ada hal berkepentingan".


"Tapi,aku ada berkepentingan dengan mu". Tegas Frans, mulai mendekati tubuh Melda. Tentu saja, Melda mengundurkan langkahnya lagi.


"Ck, palingan tentang kamu menikahi ku kan. Maaf,aku menolaknya. Sekarang keluar dari kamarku,jangan sampai seseorang salah paham di antara kita". Pinta Melda, berusaha tegas dan tidak akan luluh begitu saja.


Frans, melewati Melda dan duduk di tepi ranjang.


"Ada hubungan apa,kau dan Sagara? Tidak mungkin, sekedar bos dan asisten. Pasti ada sesuatu,kan". Delik mata Frans, tertuju sebuah boneka hello Kitty.


"Bukan urusan mu,sana keluar dari kamar ku. Ayolah,jangan membuat masalah. Secepatnya,aku tidur dan besok pagi harus pergi. Aku, banyak pekerjaan Frans". Bentak Melda, benar-benar kesal karena Frans tak kunjung pergi.


"Pergi? Kemana,hemmm". Tanya Frans, memainkan kedua alisnya.


"kepo banget, sih. Yang jelas,aku bekerja tidak keluyuran atau jalan-jalan gak jelas". Jawabnya, Melda tidak ingin memberitahu yang sebenarnya. Takut, jika Frans menggagalkan rencana ke villa.

__ADS_1


__ADS_2