BALAS DENDAM TAK BERTEPI

BALAS DENDAM TAK BERTEPI
Part. 16


__ADS_3

Melda, memandang Frans duduk di sofa. Matanya terpejam rapat, suara dengkuran halus terdengar olehnya.


Ponsel Frans, bergetar di atas meja. Ingin sekali Melda, menggapai ponsel Frans itu.


Kebetulan sekali, suster datang dan ingin mencek kondisi Melda.


Melda, tersenyum dan mengangguk. "Sus, boleh ambilkan ponsel di atas meja itu". Pinta Melda, jarinya menunjuk ke meja.


"Baik,saya ambilkan". Suster itu, mengambil ponsel di meja dan memberikan kepada Melda.


Selepas kepergian suster, Melda mengotak-atik ponselnya Frans. "Sial,apa kata sandinya? Huuuff....". Melda, mendengus dingin dan meletakkan ponselnya di samping.


Dering ponsel Frans, bergetar lagi. Melda, menatap layar ponsel tertera nama wanita. "Rose? Siapa dia, aku baru dengar? Angkat gak,yah".


Tanpa persetujuan Frans, Melda langsung mengangkat telpon.


(Hallo, Tuan Frans. Apakah, Anda baik-baik saja?Kenapa, tidak pergi ke kantor).


Melda, tersenyum kecil saat mendengar suara wanita itu. "E'ehmmm... Frans sedang tidur di samping ku. Sepertinya,dia kelelahan gara-gara malam tadi" Ucap Melda, dengan santainya. Tidak memperdulikan,raut wajah Rose di sebrang telpon sana.


(Tidak, mungkin? Kamu,siapa ha? Jangan macam-macam, katakan kamu siapa).


Suara Rose,memekik melalui telpon. Melda, sempat terkejut mendengar suaranya begitu nyaring.


"Sialan,pelankan suaramu. Kau kira,aku tuli ha! Asal kamu tahu,aku adalah istri Frans. Mau apa kamu,ha? Jangan lancang, takutnya di pecat dari perusahaan Fernandez". Melda,tak kalah sengitnya dan menahan cekikikan tawanya.


(Sialan,awas kamu. Lalu,apa aku percaya begitu saja dengan ucapan ha? Hahahaha,bilang saja kamu adalah wanita murahan dan matre. Yang rela menjebak, Frans. Hahahaha....kau kira,aku sebodoh itu ha! Biasa jadi, Frans sibuk dan pergi ker toilet. Dia, meninggalkan ponselnya).


Rose, tidak mempercayai perkataan Melda. "Ohh... Rupanya,mau bukti yah. Baiklah,aku akan membuktikan sesuatu. Kamu diam dulu dan dengarkan ucapan ku dan Frans". Melda,tak sabar membuat Rose terbakar api cemburu.


(Silahkan, buktikan bahwa kamu adalah istrinya Frans). Rose, menantang ucapan Melda.


"Frans, sayaaaaang....Bangun, Frans....". Melda, memanggil Frans yang tertidur pulas. "Sayaaaaang.... banguuun....".

__ADS_1


Melda, merasa kesal karena Frans tak bangun-bangun. Terpaksalah,dia melempar bantal ke arah Frans. Sontak membuat Frans, terkejut dan langsung beranjak berdiri.


"Astaga,ada apa? Kau, membangunkan ku". Gerutu Frans,mengusap wajahnya dan mendekati Melda.


"Sini, sayangkuu....". Kedip mata Melda, tersenyum manis.


Frans, mengerutkan keningnya saat mendengar Melda memanggil dengan sebutan sayang. "kenapa,ada yang sakit". Tanya Frans, meletakkan bantal di bawah kepala Melda. "Jangan di lempar lagi,apa tidak sakit kepalamu tanpa bantal".


"Makasih, sayang. Kamu, sangat perhatian kepada ku". Kekehnya Melda, Frans terheran-heran dengan sikap Melda. Matanya tertuju pada ponsel, sebuah panggilan tertera nama Rose.


Frans, baru menyadari perkataan Melda. "Iya. Maaf,aku ketiduran tadi".


"Tidak apa-apa, sayang. Oupsss....Ada telpon, untukmu". Melda, memberikan ponsel Frans.


Frans, langsung mengambil ponselnya. "Ada,apa? Apa ada sesuatu,". Tanya Frans,kepada Rose melalui telpon.


(Frans,apa benar wanita tadi istrimu? Kalian,tidur berdua). Rose.


(Frans....Frans...kamu,tega...Hiks.... Hiks....).


Tuttt....Tuttt... Tuttt...


Frans, mematikan telponnya dan meletakkan di meja. Matanya, melirik ke arah Melda. "Apa yang, kalian bicarakan tadi? Apa ada sesuatu,apa dia menyakiti mu".


"Tidak ada,dia hanya mencarimu saja". Jawab Melda, tersenyum. "Frans,aku lapar. Tapi, tidak mau makanan dari rumah sakit. Aku mau,ayam bakar madu dan burger". Rengeknya Melda, bibirnya mengerucut ke depan.


Frans,menghela nafas dan mengangguk. "Baiklah,aku akan memesankan untuk mu". Terlihat Frans, menghubungi seseorang. Entah,itu siapa? Diam-diam Frans, memiliki anak bawahan yang di percayainya.


"Frans... Ak-aku,mau pipis". Cicit Melda,dia tidak bisa berjalan karena kakinya sangat sakit.


Frans, mendekati Melda dan melihat kondisinya. "Aku,akan menggendong mu ke kamar mandi".


Melda, mengangguk dan malu-malu. Tangannya, melingkar di leher Frans. Dengan sigap, Frans mengangkat tubuh Melda tanpa keberatan sedikitpun.

__ADS_1


Frans, berlahan-lahan meletakkan Melda di atas kloset. Berhati-hati,agar Melda tidak merasakan kesakitan pada kakinya.


"Frans, bisakah? Hemmm....Celanaku,itu ke bawah. Tanganku,sakit. Bisa minta tolong,anu itu.... Gimana,aku pipis". Pinta Melda,ini adalah permintaan sangat memalukan.


Frans, melonjak terkejut mendengar permintaan Melda. Apa,aku juga menurunkan celana dan ****** ***** Melda? Astaga, benar-benar menguji kesabaran dan.... Aaakkhh, lupakan Frans. Batinnya, kebingungan karena memikirkan hal ini.


"Frans,kenapa diam? Kamu, tidak mau membantuku? Tanganku,sakit di gerakkan. Tapi,jangan di lihat yah...Tolong, wajahmu berpaling ke sana". Pinta Melda, dia juga tidak mau meminta bantuan kepada Frans. Akan tetapi, bagaimana dia kencing dalam kondisi sekarang.


"Ba-baiklah... Ak-aku minta maaf,". Frans,mulai memasukkan tangannya dari bawah ke atas. Wajahnya, memalingkan ke arah lain. Tangannya, sudah gemeteran dan matanya terpejam.


Jari tangan,terasa di kulit Melda. Jantungnya berdegup kencang, baru kali ini. Seorang pria, mengulur ****** ********.


Berlahan-lahan, Frans menurunkan ****** ***** Melda. Susah payah, meneguk salivanya. Keringat membasahi keningnya, jantungnya berdetak kencang.


"Jika selesai,panggil aku". Kata Frans, meninggalkan Melda. Saat pintu tertutup,dia sudah bisa bernafas lega.


Begitu juga Melda, merasakan sesuatu dalam dirinya. Dia, tersenyum sumringah. Sesosok Frans, begitu menjaga dirinya. Seandainya pria lain, kemungkinan mengambil kesempatan untuk menjelajahi seluruh tubuh Melda. Saat sang empunya,tak berdaya seperti tadi.


"Fraaanssss ...Aku, sudah selesai". Melda, memanggil Frans. Kebetulan, Frans masih setia di balik pintu kamar mandi dan menunggu Melda.


Frans,masuk ke dalam dan melihat posisi Melda. Sama seperti tadi,****** ******** masih di bawah.


"Maaf,aku tidak bisa meraih celana dalamku". Kata Melda, menundukkan kepalanya.


"Tidak apa,aku akan melakukannya". Frans, berjongkok di depan Melda. Dia, mulai menarik ke atas ****** ***** Melda. "Apakah, sudah di cuci itunya". Tanya Frans, membuat Melda melotot seketika.


"Su-sudah....kenapa, kamu ingin mencucinya? Bilang saja,mau mengambil kesempatan dalam kesempitan". Melda,tak percaya dengan ucapan Frans. Rupanya,sama saja mesum. Rupanya,aku menilai dirinya salah. Sama saja,berotak mesum seperti pria lain.


"Maksudku, klosetnya sudah di siram apa gak? Jika tidak,aku siram". Frans,tak terima dengan pikiran Melda. Ck, pikirannya tertuju tidak jelas.


Melda, menjadi salah tingkah. "Eeee... Su-sudah,aku siram". Jawab Melda, cengengesan. Astaga,aku yang berotak mesum. Malu, benar-benar sangat memalukan.


Frans, menggendong tubuh Melda dan keluar dari kamar mandi. Lalu, meletakkan kembali di atas ranjang pasien. Melda, tersenyum sumringah melihat wajah Frans.

__ADS_1


__ADS_2