BALAS DENDAM TAK BERTEPI

BALAS DENDAM TAK BERTEPI
Jejak Siapa


__ADS_3

Melda, tengah tergesa-gesa keluar dan menuju kamar tidur Jacqueline.


Melda, sudah menekan bel beberapa kali. Akan tetapi, Jacqueline tak kunjung membuka pintunya.


"Kemana,sih? Ngapain, Jacob sama Jacqueline di dalam berduaan". Gumam Melda,tengah gelisah karena Jacqueline tak ada jawaban.


Ceklekk....


"Ngapain sih? Ganggu,aja". Akhirnya, Jacqueline membuka pintu kamarnya. Tentu saja, penampilannya cukup berantakan.


"Astaga, Jacqueline. Kalian ngapain, berduaan dan lama sekali membuka pintunya". Melda, menepuk keningnya dan menyelonong masuk ke dalam kamar.


Melda,tak sengaja melihat Jacob tengah bertelanjang dada. "Kalian,habis ngapain sih? Awas loh,hamil duluan".


"Melda,kamu apa-apaan sih? Kami,gak ngelakuin apa-apa kok. Baju Jacob,basah karena ke tumpah air". Jacqueline, langsung mengelak perkataan Melda.


"Sorry, sudah berpikiran kemana-mana". Sahut Jacob, mengedipkan sebelah matanya.


"Kita harus pulang, Jacqueline. Ini,ini benar-benar gawat". Melda,baru sadar jika ada sesuatu yang sangat penting.


"Pulang? Gak,ah...lagian ngapain,". Jacqueline, langsung menolaknya.


"Jacqueline,aku di telpon salah satu pelayan mansion. Beberapa hari ini,mamah sakit dan jatuh di kamar mandi. Lalu,di larikan ke rumah sakit". Kata Melda, membuat Jacqueline terkejut mendengarnya.


"Apa...?? Mamah,jatuh...ayo,kita pulang. Mamah". Jacqueline, langsung tergesa-gesa menyiapkan semuanya.


Jacob,juga membantu keperluan yang di bawa Jacqueline. Melda, sudah siap dari tadi. Sebelum, memberitahu kepada Jacqueline.


"Baby,kamu jangan nangis-nangis segala. Mamahmu,gak papa. Aku yakin,". Jacob, memeluk erat tubuh sang kekasih.


"Maaf,aku harus pulang. Kemungkinan,akan lama ke sini". Cicit Jacqueline, berwajah masam.


"Tidak masalah,by. Kapan-kapan,aku akan menyusul ke sana". Jacob, mencium kening Jacqueline.


"Jangan, sangat berbahaya kalau ke sana. Karena,kak V ". Jacqueline, tak ingin membuat Jacob terluka karena kakaknya.


"Tidak apa,demi cinta kita apapun akan aku hadapi". Jacob, tersenyum dan mencium bibir Jacqueline.


Melda,hanya memutarkan bola matanya dengan malas. Melihat adegan, romantis di hadapannya.


Jacob, mengantar Jacqueline dan Melda ke bandara.


Sebenarnya, Jacqueline malas pulang. Sudah pasti, berhadapan dengan kakaknya lagi.


"Kak V, tidak tahu. Dia, berada di luar negeri lainnya. Ada bisnis,hanya kita yang tahu dan papah". Ucap Melda, membuat Jacqueline tenang tidak bertemu dengan kakaknya itu.

__ADS_1


**********


Beberapa jam perjalanan, akhirnya Jacqueline dan Melda tiba di rumah sakit.


Jacqueline,tak henti-hentinya menangis sambil memegang tangan ibu angkatnya.


"Astaga,siapa yang memberitahu masalah ini? Sudahlah, jangan menangis" Sarah, terus-menerus menghentikan Jacqueline dan Melda menangis.


"Mah,kenapa tidak memberitahu kami? Kami, sangat mengkhawatirkan keadaan mamah. Mamah,tega sekali. Huuu...huuu...hikss..hikss.." Ucap Jacqueline,dalam isak tangisnya.


"Karena ini,mamah tidak memberitahu siapapun. Papahmu,juga tidak ingin memberitahunya. Sudahlah,jangan menangis. Lihatlah, keadaan mamah baik-baik saja". Sarah, mengelus lembut rambut Jacqueline dan Melda.


Sarah, sangat beruntung memiliki Jacqueline dan Melda. Walaupun, mereka bukan anak kandungnya. Akan tetapi,cinta mereka lebih besar dari lainnya.


"Jacqueline, Melda. Kalian,di sini". Irfan, terkejut melihat mereka berdua. Tiba-tiba ada di hadapannya,entah siapa yang memberitahu semuanya.


"Tidak ada,yang memberitahu kami. Kami,cuman ingin pulang". Alasan Melda,tak ingin siapa yang memberitahu semuanya.


"Aisss...tidak apa-apa,mamah kalian. Hanya, luka di kening saja". Irfan, tersenyum kecil.


"Papah,jahat tidak memberitahu kami". Sungut Jacqueline, bibirnya mengerucut ke depan.


"Iya, papah minta maaf. Papah dan mamah,tidak ingin membuat kalian khawatir dan kepikiran. Lihatlah,kalian jauh-jauh datang". Irfan, mengelus lembut rambut Jacqueline.


Membuat Irfan dan Sarah, cekikikan tertawa melihat tingkah laku mereka.


************


Besok harinya, Sarah dan lainnya. Sudah pulang ke mansion,V tahu jika ibunya masuk ke rumah sakit.


Akan tetapi,dia tidak bisa pulang. Karena pekerjaan, masih menumpuk. Hatinya,juga lega karena Jacqueline ada yang menjaga ibunya.


"Tante,maaf. Kemarin, Laura sibuk karena pekerjaan. Jadi, tidak sempat untuk menjenguk di rumah sakit". Laura, sepagi ini. Dia, sudah menjenguk calon ibu mertuanya.


"Tidak,apa. Tante,tahu kok. Kalau kamu, sangat sibuk". Sarah, tersenyum manis.


"Tante,mau buah atau yang lainnya". Laura,sebisa mungkin untuk mengambil hati calon ibu mertuanya itu.


"Tidak ada, semuanya sudah di urus oleh anakku Jacqueline. Dia, selalu mengerti apa yang aku mau". Sebenarnya, Sarah tak menyukai kedatangan Laura.


Aduuhh...gimana nih? Aku,harus bisa tampil terbaik di hadapan calon mamah mertuaku. Batin Laura,nampak kebingungan.


"Eeee..ada kakak ipar, tumben-tumbenan datang". Jacqueline,yang datang membawa satu mangkok bubur.


"Baru saja,biar aku yang menyuapi makanan untuk Tante". Laura, langsung merampas mangkok bubur di tangan Jacqueline.

__ADS_1


Pranggg...


Mangkok berisi bubur, tumpah ke bawah. Karena mangkoknya,masih panas dan membuat Laura terkejut.


"Astaga...". Gumam Sarah,hampir terkena dirinya.


"Laura,kamu apa-apaan ha". V, langsung membentak keras kepada Laura.


"Kak,jangan seperti itu. Mungkin,kakak ipar tak biasa memegang mangkok bubur yang masih panas". Jacqueline,membela Laura.


Tentu saja, Laura tersenyum kecil karena di bela oleh adik ipar. Walaupun, masih calon.


"V,tidak baik membentak calon istri mu". Sarah,juga ikut-ikutan membelanya.


"Tidak,apa. Mungkin,aku tadi terkejut karena masih panas". Laura, memperlihatkan telapak tangannya memerah.


"Ck,panas seperti ini. Tangannya, sudah melepuh". Gumam Melda, dari kejauhan.


Pelayan langsung, membersihkan tumpahan bubur ayam tersebut.


"Biar aku,yang menyuapi mamah". Melda, sudah membawa semangkok bubur ayam lagi.


Laura,hanya tertunduk lesu dan gagal sudah mengambil hati calon ibu mertuanya. "Maafkan aku,tante".


"Sayang,tidak apa. Jangan hiraukan,apa perkataan V". Sarah, sebisa mungkin untuk menenangkan perasaan Laura.


"kakak ipar,dia memang seperti itu. Aku juga, tidak menyukainya. Selalu membentak dan membentak. Maklum,apa yang di katakannya selalu benar. Padahal, sangat salah". Jacqueline, langsung memojokkan V.


"Ck,pulang juga kamu ke sini". Ucap V,akan tetapi matanya melihat sesuatu di leher Jacqueline. Jejak,siapa yang membuat jejak di leher Jacob? Berani sekali,dia melakukan hal ini. V, langsung mengepalkan kedua tangannya.


Jacqueline, langsung terkejut melihat kakaknya mendekati dirinya. Lalu, dia menyingkirkan rambutnya. Sangat jelas,jejak yang di buat oleh Jacob. Tepat,di leher Jacqueline. "Siapa,yang sudah membuat ini". V, langsung menyeringai tajam ke arah Jacqueline.


Akan tetapi, Jacqueline menepis tangan kakaknya. "Kepo,banget sih". Kini, Jacqueline duduk di sebelah Laura.


V,masih bersabar menghadapi sikap adiknya. Apa lagi, tatapan ibunya mulai membela Jacqueline.


"V,jaga sifatmu jangan kelewatan batas". Sarah, benar-benar geram kepada anaknya. Selalu,ikut campur urusan Jacqueline.


"Maaf,aku pamit pulang". Laura, merasa tak nyaman dengan tatapan V. Sepertinya,aku pulang saja. Apa aku sanggup, bersama V dalam membina rumah tangga. Jangankan dengan ku, dengan lainnya saja. Dia, selalu berkata kasar.


"Aku akan mengantar mu,ada sesuatu yang aku bicarakan". V, langsung menggenggam tangan Laura.


Laura, pamit pulang dan Sarah memeluk erat tubuh calon menantunya. Dia,juga berterimakasih kepada Jacqueline sudah membelanya.


"Mah,apa Laura sanggup bersama kak V? Lihatlah,kak V tidak begitu lemah lembut terhadap kak Laura". Jacqueline, menaruh rasa curiga kepada kakaknya. Kemungkinan, kakaknya melakukan hal sesuatu. Kenapa,dia tiba-tiba ingin menikah.

__ADS_1


__ADS_2