
V dan Jacqueline,turun ke bawah dan menemui Sunita.
Akan tetapi, Sunita nampak tak suka dengan adanya Jacqueline. "Bisakah, adikmu pergi". Pintanya,melirik ke arah Jacqueline.
Jacqueline,hanya memutarkan bola matanya dengan malas.
"Kau tidak pantas, meminta Jacqueline pergi. Katakan, apa yang ingin kau sampaikan kepada ku". Tanya V,duduk di sofa.
Begitu juga Jacqueline, duduk di samping V dengan senyuman manis.
"Mungkin,kamu sudah tau? Apa,yang di alami Yoshi dan Laura". Ucap Sunita,kepada V.
"Lalu, kenapa? Aku, tidak peduli dengan keadaan mereka. Asalkan, tidak merugikan ku dan keluargaku saja. Walaupun, mereka mati sekalipun. Aku tidak peduli". Jawab V, dengan entengnya.
"V, bukankah kita memiliki rencana untuk membuktikan bahwa mereka. Memiliki keterkaitan antara, kematian Kiara. Bukankah, Kiara menyimpan berkas rahasia mu ha". Kata Sunita, membuat Jacqueline tercengang mendengarnya.
"Darimana,kamu tahu? Kalau, Kiara menyembunyikan berkas rahasiaku. Jangan-jangan,kamu juga ada keterkaitan dengan kematian Kiara. Setahuku,kamu dekat dengannya". Kini V,mulai memancing Sunita.
Sunita,nampak terkejut dan gelisah. "Ak-aku, mendengar pembicaraan mu dan Frans".
"Oh,jadi kamu tukang menguping pembicaraan orang". Sahut Jacqueline, tersenyum smrik.
"Lancang sekali, menguping pembicaraan kami". V, tersenyum smrik. Membuat Sunita, ketakutan dengan tatapan tajamnya. "Ck, ternyata kau juga penjilat Sunita. Aku tahu,apa yang kau permainankan di belakang ku".
"Hemmm.. sok-sokan, membela kak V. Tetapi, di belakang juga menusuk. Oopsss.... kecoplosan," kekehnya Jacqueline, tersenyum smrik.
"Jacqueline, jangan menuduhku macam-macam. Aku dan mereka, tidak saling akrab. Asalkan kamu,tahu! Aku, membenci mereka terutama Yoshi. Dia, sudah menyakiti hati dan batinku". Tegas Sunita, tersenyum.
"Oh, benarkah. Kak V, apa kamu mempercayai ucapannya". Tanya Jacqueline,mencubit pipi V.
"Hemmm... bisakah,aku mempertimbangkannya". Jawab V, melirik ke arah Jacqueline.
"Apa,yang kalian bicarakan". Sarah dan Irfan,kembali ke mansion. Sehabis dari,rumah sakit menjenguk keadaan Laura.
"Mamah...!!". Jacqueline, langsung berlarian ke pelukkan Sarah.
"Astaga, Jacqueline. Pelan-pelan,sayang". Sarah, mencubit hidung mancung Jacqueline.
Sikap manjanya,keluar di saat ada Sarah. Apa lagi, Sarah juga memanjakan diri Jacqueline.
__ADS_1
"Apa yang kalian, bicarakan? Sepertinya, sangat serius". Irfani, menepuk pundak anaknya.
"Tidak ada,hanya masalah pekerjaan". Alasan V, tersenyum.
"Mah, bagaimana keadaan Laura? Apa,dia sudah sadar". Tanya Jacqueline, langsung.
"Hemm...aku pamit dulu,tante,om,V dan Jacqueline". Sunita, tak nyaman dengan tatapan orangtuanya V.
"Hati-hati, Sunita. Setidaknya, jenguk lah keadaan Yoshi. Walaupun, kalian sudah tidak ada memiliki hubungan apapun". Ucap Sarah, langsung di angguki oleh Sunita.
"Makasih,Tante. Aku,pamit dulu". Sunita, melenggang pergi meninggalkan ke luar dan meninggalkan mansion Fernandez.
Sarah, menghembuskan nafas beratnya. "Kemungkinan, Laura depresi. Dia, sempat berbicara tentang kejadian malam itu. Dia, di teror oleh seseorang dan melihat sesosok mengerikan di kamarnya. Lalu,dia berlari ke tangga dan jatuh. Hanya itu,yang di katakannya tadi". Sarah, menceritakan keadaan Laura.
"Sesosok menyeramkan? Apa, seperti hantu". Jacqueline,hanya menebak saja.
"Kemungkinan, ada yang mengerjainya". Sahut Irfan, tersenyum.
"Masa,sih? Omongan Laura,mana bisa di percaya. Memang wajahnya,sok polos begitu". Kata V, menyunggingkan senyumannya.
"Sebenarnya,aku juga teror". Kata Jacqueline,yang lainnya tercengang mendengar ucapannya.
"Lalu, kamu di teror seperti apa". Tanya V, tentunya dia menahan rasa amarahmya.
Jacqueline, memperlihatkan sebuah pesan masuk. Bahkan,baru saja seseorang mengirim pesan singkat.
Sarah, langsung menutup mulutnya karena terkejut apa isi pesannya.
Karena penasaran, Irfan dan V juga langsung merebut ponsel Jacqueline.
"Kurang ajar,berani sekali dia meneror mu. Tenanglah, papah akan meminta seseorang melacak keberadaan. Siapa, pemilik nomor ini". Irfan, langsung bertindak dan menghubungi seseorang.
************
Malam semakin larut, Laura membuka matanya. Rumah sakit, terlihat sangat sepi.
Telinganya, mendengar suara langkah kaki dan berhenti di ruang inapnya.
Laura, langsung turun dari ranjang pasien dan bersembunyi di balik lemari. Dadanya naik turun, mengontrol dirinya dan tangannya gemeteran sudah.
__ADS_1
"Siapa, di sana? Menjauhlah,jangan dekati ku. Aku, aku bukan membunuh anakmu. Bukan aku,bukan aku...aku mohon, pergilah...". Laura,terus meronta-ronta dan berteriak histeris.
"Aaaakkhhh....bukan aku,bukan aku". Laura,terus menggerakkan tangannya. Dia juga, berteriak histeris saat membaca tulisan di kaca.
KEMBALIKAN ANAKKU
tulisan berwarna merah darah, sungguh membuat Laura semakin ketakutan. Jeritannya, terdengar dari luar.
Para suster langsung,membuka pintu dan mencoba menenangkan Laura.
"Tidak,bukan aku.....bukan aku, lepaskan aku....mamah,papah....tolong aku,bukan aku". Teriak Laura, dengan tangisnya yang pecah.
Dia,juga meronta-ronta dari cengkalan tangan para suster. Suster-suster,juga membujuk dan menenangkan Laura. Hingga akhirnya, Laura disuntik dengan obat penenang.
Laura,ambruk tak sadarkan diri. Tubuhnya,juga melemah. Dia,di baringkan ke atas ranjang pasien.
"dokter,suster,kenapa dengan anak saya". Sisca,sok melihat anaknya tak sadarkan diri.
"Nyonya, bukankah kami sudah bilang! Jangan tinggalkan, nona Laura. Keadaannya, tidak stabil. Dia, sangat ketakutan jika sendirian. Tadi, nona Laura mengamuk-ngamuk dan berbicara melantur kemana-mana". Jawab dokter, yang sudah menangani keadaan Laura.
"Maafkan,saya. Tadi,saya harus keluar karena ada sesuatu. Maaf,kami lalai". Sisca,nampak sedih melihat keadaan anaknya.
"Baiklah,kami permisi dulu". Dokter dan suster lainnya, langsung meninggalkan ruangan tersebut.
"Laura,apa yang kamu lakukan nak? Mamah,yakin ada seseorang yang melakukan hal ini. Kamu, tenanglah nak. Secepatnya,orang itu akan di temukan" Sisca,mengelus pucuk kepala anaknya.
"Mamah... Laura,takut mah". Lirih Laura,yang masih lemas.
"sayang,jangan takut nak. Mamah,ada di sini". Ucap Sisca, menggenggam tangan Laura.
"Mah,dia tadi di sini. Ada tulisan menyeramkan,di cermin itu". Laura, menunjukkan jarinya ke arah cermin.
Sisca, langsung menoleh ke arah cermin. Dimana anaknya, memberitahu kepadanya. sayangnya, tidak ada tulisan apapun di cermin itu. Membuat hati sang ibu, hancur berkeping-keping. Air matanya mengalir deras, meratapi nasip anaknya.
"Sayang, tenanglah...jangan memikirkan hal, apapun. Kamu, tidurlah dengan tenang. Mamah,akan menjagamu di sini". Sisca, mencoba membujuk anaknya.
"Mah,apa V ada ke sini? Aku,aku ingin bertemu dengan nya. Mah,aku menyesal sudah karena menyia-nyiakan kesempatan untuk bersama V. Aku,aku mencintainya mah. Aku, tidak mencintai Yoshi". Isak tangisnya, Laura.
Membuat Sisca,juga menangis mendengar ucapan anaknya. "maafkan mamah,V tidak ada nak. Sudahlah,jangan membahas tentang ini. Yang terpenting adalah,kamu cepat-cepat sembuh sayang".
__ADS_1
"Mah,aku ingin bertemu V. Tolong, beritahu Kepadanya. Aku mohon". Rengeknya Laura, mendengar permintaan anaknya. Sisca, langsung mengangguk kepala. berharap,V mau menjenguk anaknya. Walaupun,hanya beberapa menit saja.