BALAS DENDAM TAK BERTEPI

BALAS DENDAM TAK BERTEPI
Kematian.


__ADS_3

Prangggg....


Laura, melonjak terkejut mendengar sesuatu yang pecah.


"Siapa,sih? Bikin seram aja, aku yakin palingan kru film yang ceroboh". Saat ini Laura, masih di ruang riasnya. Dia,baru selesai syuting film. Dia, calingukan melihat ke luar. Akan tetapi, tidak ada seorang pun.


Malam menunjukkan pukul, sembilan malam. Sudah waktunya, pulang. Para pemain film lainnya, sudah pada pulang duluan. Entah, Laura suka berleha-leha di ruang ganti.


"Sepi sekali,tumen. Kemana, orang-orang yah. Menyeramkan". Laura, merasakan bulu kuduk seketika berdiri.


Jeb...


Lampu-lampu, seketika mati keseluruhan. Yang hanya gelap gulita, Laura semakin ketakutan. "Lampunya,mati? Ponsel,mana ponsel". Laura,mencari Ponselnya dalam kegelapan. "Aauuukkk...Sshhhttt,sialan. Tanganku luka,awas saja besok. Bakalan,aku marahi habis-habisan kalian". Gerutu Laura,dia menemukan ponselnya.


Dengan tergesa-gesa, Laura keluar dari ruangan tersebut. Hanya bercahaya, ponselnya saja. "Uuuhh... menyebalkan,kenapa padam lampu segala". Gumam Laura,dia merasakan hawa dingin memasuki kulitnya.


Gedung tempat syuting film, terlihat sangat menyeramkan. Mata Laura, calingukan melihat sekeliling. "Aaakkkhh....". Laura, menyenggol sesuatu.


Tak....Tak....Tak....


Suara high hells, Laura. Dia, setengah berlarian dan menuju tangga darurat. Karena lampu padam,lift tidak berfungsi. Anehnya sekali, tidak ada satupun orang lain. Membuat Laura, semakin ketakutan.


"Toloooong.... Tolooong....Apa ada, orang". Teriak Laura,dia benar-benar was-was menuruni anak tangga.


"Bagaimana,lagi? Aku, harus keluar dari gedung brengsekk ini". Gerutu Laura,dia menuruni anak tangga.


"Lauraaaaaa..... Hihihihi...". Sesosok tengah, berdiri di belakang Laura. wajahnya, sangat menyeramkan dan berlumuran darah.


"Aaaakkhh...kamu,kamu.... Kiara, pergilah sana... Aaaaaaakkkkhhh....". Laura,jatuh dari ketinggian tangga. Karena dia, terpeleset.


Bruuuukkk.....


Darah segar mengalir deras, keadaannya sangat mengenaskan.


Seseorang yang menyeramkan,itu. Mendekati Laura, melihat kondisinya masih bernafas.

__ADS_1


Ada seringai tajam,dan melangkah pergi meninggalkan Laura yang tak sadarkan.


Beberapa menit kemudian,api menjalar ke seluruh gedung.


"Kebakaran.... Kebakaran... kebakaran...". Orang-orang berteriak histeris dan berbondong-bondong datang. Memadamkan api, dengan alat seadanya. Namun, terlambat sudah.


**************


Pagi harinya, berita di hebohkan. Atas kematian Laura,yang terbakar di gedung tempat syuting film.


Sontak para sutradara,kru film dan lainnya. Nampak syok berat, bahkan sang manager Laura menjadi tersangka.


Walaupun, manager Laura membantah tidak tahu apa-apa. Akan tetapi,dia langsung di curigai.


Kedua orangtuanya Laura, tak kalah syok berat atas kehilangan anak mereka. Tentu saja, tidak terima dengan kejadian ini. Orangtuanya, langsung menuntut terhadap sutradara dan kru film. Karena,lalai dalam pekerjaan.


"Astaga,". Sarah, terduduk lemas mendengar berita tersebut. Apa yang terjadi,kasian Laura. Bagaimana, kepada jeng Sisca. Pasti, sangat terpukul saat ini.


Begitu Jacqueline dan Melda, walaupun merasa lega karena kehilangan Laura. Tetapi, mereka merasa iba kepada orangtuanya.


"Bagaimana,lagi? Sudah takdir,". Sahut Jacqueline, sedikit penasaran atas kematian Laura. Ada rasa janggal,atas kematian Laura. Seharusnya,aku senang karena dia sudah tidak ada.


"Pagi-pagi, sudah menonton berita". Kekehnya V,yang baru datang. Biasa,para wanita-wanita suka dengan gosip-gosip beredar yang tak jelas.


"V,kamu tidak tahu? Berita, kematian Laura". Tanya Sarah, melihat V santai-santai saja. Apa V, mengetahui kematian Laura. sarah, menyipitkan bola matanya.


"Tau,mah. Emangnya, kenapa? Gak ada hubungannya,aku dan dia". Jawab V, menghirup susu di meja. Aissss.... Kematian,lagi? anggap saja,atas penebusan dosa mu Laura. Makanya,jangan bermain-main dengan seseorang.


"Eee...itu, punya ku. Mamah,yang buat". Jacqueline, langsung mencegah suaminya meminum susu miliknya. Ada-ada saja,mau meminum susu ibu hamil.


"Gak papa,aku minta dikit sayang. Jangan pelit". Kedip mata,V. Kok,rasanya aneh yah.


"Itu,susu ibu hamil V. Ngapain,kamu minum juga". Ucap Sarah, seketika V langsung berhenti dan tidak jadi meminumnya.


"Bilang dong,jangan diam aja". Kata V, melirik ke arah istrinya. Pantesan rasanya,gak enak banget. Susu untuk ibu hamil, rupanya. Apa, Jacqueline tiap hari meminum susu ini? baguslah,demi anak kita.

__ADS_1


"Makanya,jangan asal nyosor doang". Gerutu Jacqueline, langsung meminum susunya. Menyebalkan,sehari gak ceroboh mana bisa. Kenapa, akhir-akhir ini kak V sedikit ceroboh sekali.


Sarah, menatap anaknya sudah berpakaian rapi. "Mau kemana, sudah rapi aja? Jangan bilang,mau kediamannya Haidar".


"Tidak,aku dan Frans ada pertemuan dengan klien. Mungkin, papah ke sana. Mamah,gak ikut kah? Kalian berdua, jangan kemana-mana. Kalau,mau pergi bilang yah". Tak lupa, mencubit pipi mulusnya Jacqueline.


"Kami, tidak pergi kemana-mana". Jawab Jacqueline, tersenyum. Karena aku,film terbaru dan terfavorit. Siap,aku tonton.hehehhe....


"Aku,ada janjian dengan seseorang". Sahut Melda, tersenyum manis. Pasti,kalian pada kepo kan. Apa lagi, Frans sedari tadi gelisah mulu.


Sontak mata mereka, tertuju kepada Melda. "Seseorang? Apa calon, hemmm...". Tanya Sarah, terkekeh. Gak sabaran, melihat Melda menikah dan punya anak. Hehehehe....


"Hehehe...gak kok,mah. Seorang wanita,mah". Jawab Melda, tersenyum. Legakan, Frans. Karena wanita,yang aku temuin. padahal, kebalikannya yaitu dengan pria. Pasti,mamah dan Jacqueline paham dengan ucapan ku.


"Bos,kita pergi sekarang". Ucap Frans, terlihat sudah rapi. Kenapa,aku mencurigai tatapan nyonya dan Melda? Apa ada, sesuatu yang tidak beres.


"Sayang,aku pergi sebentar yah. Jangan kemana-mana,". V, mencium sekilas bibir Jacqueline.


"Iiissshhh....Gak malu,apa? Di lihat,yang lainnya". Jacqueline, langsung mencubit perut suaminya. Menyebalkan sekali,main nyosor mulu. Tidak memperdulikan, keadaan. Sial,bikin malu aja. Rasakan, cubitan ku.


"Auukkkk...Sakit,sayang". Kekehnya V, mengelus lembut rambut panjang sang istri. Uuhhh... akhir-akhir ini,aku sering di cubit.


"Eee...kami,gak liat kok". Sahut Sarah, senyum-senyum sendiri.Astaga,anakku sudah bucin sekali dengan istrinya. Begitu juga, Melda langsung meninggalkan mereka.


Jacqueline, meninggalkan ruang tamu dan ingin naik ke atas. Tetapi,di cegah oleh Sarah.


"Jacqueline,yakin tinggal di mansion? Mau,ikut gak".


"Tidak mah,aku mau nonton dan ngantuk". Jawab Jacqueline, tersenyum.


"Oh,ya sudah. Mamah dan papah, pergi dulu. Hati-hati yah,jangan macam-macam". Kekehnya Sarah, tersenyum. Jacqueline,hanya mengangguk kepala.


Jacqueline, mondar-mandir di dalam kamar. "Yoshi, meninggal di kamar mandi. Tepatnya,di rumah sakit. Akibatnya, terpeleset dan kepalanya terbentur bak mandi. Sedangkan Laura, terpeleset di tangga dan tidak sadarkan diri. Lalu, kebakaran di gedung tempat syutingnya. Kok bisa,apa ada sesuatu. Bahkan, kebakaran gedung di akibatkan aliran listrik. Opssss...kenapa,aku memikirkan kematian mereka. Jacqueline,mengigit jarinya yang kebingungan.


"Mana mungkin,aku, menyelidiki semuanya. Apa lagi,tengah mengandung. perutku,juga semakin besar. Bagaimana,aku menemui manager Laura? Pasti ada sesuatu,yang di rahasiakan". Kata Jacqueline,dia bersiap-siap untuk pergi. Namun, dia mengurungkan niatnya untuk memberitahu kepergiannya. untuk berjaga-jaga, Jacqueline bisa membawa pengawal pribadinya.

__ADS_1


__ADS_2