
"Hoaaammm....jam berapa sekarang? Duh...masih ngantuk". Gerutu Jacqueline, menoleh ke arah kanan dan kirinya.
Ada senyuman manis, di sudut bibirnya. Saat melihat wajah V, bulu mata lentik yang terpejam. Hidung yang mancung dan bibir,yang selalu menggoda Jacqueline.
Cup....
Jacqueline, mengecup pipi V yang masih terlelap dalam tidurnya. Tangannya, mengelus anak rambut V.
"Kau sudah bangun,hemmm". V, menangkap tangan Jacqueline. Akan tetapi, matanya masih terpejam.
Efek olahraga malam,menunda tidur mereka. Entah, sampai jam berapa? Mereka, memutuskan untuk tidur bersama.
"Selamat pagi, suamiku". Kekehnya Jacqueline,masuk ke dalam pelukan V dan membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.
"Hemmm... pagi,jangan macam-macam. Hentikan tanganmu,jangan mengelus dada dan perutku. Apa kamu siap, untuk bertanggung jawab". V, merasakan sentuhan lembut Jacqueline.
" Aku menyukai, sixpack mu. Hanya sebentar,". Kekehnya Jacqueline,dia sengaja memancing reaksi V. "Lagian, milikku masih sakit dan perih". Lirih Jacqueline, dengan pelan. Kedua pipinya, sudah memerah seperti kepiting rebus. Sangat memalukan, itulah yang di rasakannya.
"Kita harus melakukannya,sesering mungkin. Agar,sakit dan perihnya hilang. Percayalah,".
"Ck,mesum". Gerutu Jacqueline, memeluk erat tubuh suaminya itu.
"Siallll,kamu memancing reaksi ku. Siap-siaplah,aku memakan mu lagi". Senyum smrik V, langsung masuk ke dalam selimut.
Tentu saja,mencium seluruh lekukan tubuh Jacqueline. Hasratnya, sudah mulai memuncak karena Jacqueline terus menyentuh tubuhnya.
"Ini adalah kesukaanku,". Kekehnya V, menyusu seperti bayi mungil.
Jacqueline,hanya mende-sah dan mendongakkan kepalanya ke atas. Tubuhnya sudah meliuk-liuk,karena V menyentuh milik pribadinya.
V,membuang selimut yang menutupi seluruh tubuh polos mereka berdua. "Sudah lama,aku menginginkan dua gundukan ini. Akhirnya,aku mencicipinya. Bahkan, sepuasnya lagi". Kata V, membuat Jacqueline malu-malu.
"Aaaahh... pelan-pelan,kak". Des-ah Jacqueline,terbuai dengan permainan V.
"Hussssttttt...jangan memanggil dengan sebutan,kak. Panggil V,sayang". Ucap V, dengan suara seraknya.
Dia, sudah siap meluncurkan miliknya. Tentu, membuat Jacqueline menegang. Apa lagi, sedikit demi sedikit masuk.
Jacqueline, masih menahan rasa perih seperti malam tadi. "Sssshhhttt.... sakiiitttt...pelanin lagi". Cicit Jacqueline, mengigit bibir bawahnya.
__ADS_1
V,hanya tersenyum manis dan melu-mat habis-habisan bibir Jacqueline. Yang sudah sah, menjadi istrinya itu.
Berlahan-lahan tapi pasti,kini hanya suara desa-han menggema di kamar.
Tanpa memperdulikan orang lain, Irfan dan Sarah. Mereka berdua, Menikmati sarapan paginya. Tanpa ada V dan Jacqueline, mereka sangat paham. Bagaimana, menjadi pengantin baru.
"Sepertinya mereka,sama persis dengan kita. Tak ingin keluar dari kamar, enggan kemana-mana". Irfan, bisiknya di telinga sang Istri.
"Biarlah, semoga cepat-cepat jadi. Gak sabar,mau gendong cucu". Kekehnya Sarah, tersenyum manis.
"Benar,aku ingin cucu perempuan. Kalau bisa,kembar". Sahut Irfan, cengengesan.
"Aku, terserah saja. Yang penting ibu dan anaknya, selamat". Kata Sarah,yang bergelut manja di lengan Suaminya.
***********
Melda,tak sengaja melihat Frans tengah berolahraga di ruangan gym.
"E'ehmmm... pagi, Frans. Kamu,seksi dan menggoda". Kata Melda, dengan nada manja. Dia,juga mengigit jarinya.
Keringat bercucuran membasahi tubuh, Frans. Saat ini, dia hanya menggunakan celana olahraga tanpa baju atasan. Tentu saja, memperlihatkan otot-otot kekarnya dan sixpack perut.
Melda,tak sanggup menahan godaan yang di hadapannya. Ingin sekali,dia menyentuh. Akan tetapi, dia mengurungkan niatnya. Sudah pasti,Frans akan marah besar. Dia, hanya memandang dari kejauhan sambil berolahraga.
Glekkkk..m
Melda,hanya menelan ludahnya sendiri. Melihat pemandangan begitu, menakjubkan. Di saat Frans,membuka tutup botol air mineral. Lalu,di minumannya.
"Mau,". Kata Frans,karena Melda terus memandanginya.
Sebenarnya, Melda tak ingin air. Tetapi, matanya memandang ke tubuh Frans. "Eeee..boleh,aku haus" kekehnya Melda, membuang rasa gugupnya.
Frans, memberikan air mineralnya. Memang benar, Melda meminumnya lumayan banyak.
Melda, merasakan tenggorokannya kering. Apa lagi, pandangannya terus menatap ke arah Frans. "Frans, Jacqueline dan V ngapain yah? Jam segini, mereka masih betah di kamar".
Mendengar ucapan Melda, Frans jadi salah tingkah. Wajahnya, memerah seperti tomat masak. "Kepo, ngapain mikirin mereka. Hidupmu saja,belum beres".
"Ck,ngatain hidupku. Emang,situ sudah benar ha? Sok belagu,segala". Gerutu Melda, menaruh botol di atas meja. Kebetulan meja, sedikit rendah tepat di hadapan Frans.
__ADS_1
Otomatis Melda, sedikit membungkuk badannya agak menungging. Tepat di hadapan, Frans.
Sial,apa dia menggoda ku? Tidak berpikirlah, aku pria normal dan bokongnya menghadap ke arah ku. Batin Frans, membuang muka ke arah lain.
Melda,hanya menyungging senyumannya dan memiliki ide. Dia, sengaja mengundurkan tubuhnya. Agar bokongnya,mentok ke arah Frans.
Tepat sekali,milik Frans sudah menonjol. Karena terlalu keras, Melda mengundurkan bokongnya.
Memang Frans, menahan pinggang Melda. Karena kehilangan keseimbangan tercipta posisi yang tak lazim.
Sontak membuat Frans, menegang seketika. Tangannya,enggan di lepas dari pinggang Melda.
Begitu juga Melda, merasakan sesuatu yang keras di balik celana olahraga Frans. "Aaakkhh.. Frans, sampai kapan kamu menahan pinggang ku. Lalu, membiarkan aku menungging seperti ini".
Frans, langsung melepaskan tangannya. Tentu saja,dia merasa malu dengan kelakuannya terhadap Melda. "Ck,kamu sengaja kan! Hanya untuk menggoda ku, ingatlah. Aku,pria normal Melda. Jangan aneh-aneh, sebelum kamu menyesalinya".
"Kenapa kamu, marah-marah? Seharusnya,aku yang marah! Sudah berani, menyentuh pinggang ku dan menekan keras ke milikku. Untung saja,kita sama-sama memakai celana. Kalau tidak,bisa jadi masuk". Melda, memiliki sifat plin-plan tanpa harus menyaring ucapannya.
"Jaga ucapan mu, Melda. Beruntung sekali,kamu bersamaku. Kalau tidak,kamu habis di tangan pria lain. Sama saja,kamu memancing has-rat gai-rah mereka". Frans, sedikit meninggikan suaranya.
Melda, langsung tersipu malu-malu. Mendengar ucapan Frans, memang dia terlihat nekat untuk melakukan hal itu kepadanya. "Aku-aku,mana berani dengan pria lain. A-aku beraninya,cuman sama kamu". Kekehnya Melda, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Frans,hanya menghela nafas beratnya dan duduk di bangku. "Jaga dirimu Melda,jangan sampai pria lain menyentuh mu dan tidak bertanggung jawab. Kamu, seorang wanita tidak baik untuk melakukan hal itu ".
"Hemmm...maaf, sudah membuat mu tidak nyaman. Aku, pamit dulu. Mau, jalan-jalan sama ayang". Melda, melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan Frans.
"Huda, selingkuh di belakang mu". Kata Frans, tersenyum smrik.
Melda, langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. "Ck, aku tahu? Kamu, membalas dendam kepadaku kan. Mana mungkin,dia selingkuh di belakang ku".
"Yakin, tidak percaya hemmm...". Kini Frans, mendekati Melda. "Aku punya bukti,loh". pancing Frans, tersenyum smrik.
"Gak,aku gak percaya dengan mu". Bantah Melda, mulai kesal. Memang benar, akhir-akhir ini Huda terlihat jelas perubahan sikapnya.
"Oke,mana buktinya ha? Perlihatkan semuanya, kepadaku. Baru,aku mempercayai ucapan mu". Tantang Melda, langsung.
"kalau, benar? Apa nih, imbalannya. kebetulan sekali,aku ingin balas dendam kepada mu". Seringai tajam, Frans. "Dia, sangat rapi dengan perselingkuhannya".
"Sial,ada motif lain rupanya. Mencari kesempatan, dalam kesempitan yah. Baiklah, apapun akan aku lakukan. Asalkan, ucapan memang benar". Melda, langsung menyetujui Frans.
__ADS_1
"Bagus, besok temui ku di kantor". Kata Frans, tersenyum.
Akan tetapi, senyuman Frans adalah bahaya bagi Melda. Terpaksalah,dia mengikuti perintah Frans. "Awas saja, dia berani selingkuh di belakang ku. Habis,dia". Melda, menahan diri agar tidak gegabah terlebihan.