
Melda, tersenyum manis. Satu buket bunga mawar,tepat di meja kerjanya. Dia, kebingungan dari siapa? Apakah, penggemar rahasianya. Saat membaca, siapa pengirimnya. Membuat moodnya,jadi berantakan. "Ck, menyebalkan sekali". Gerutu Melda, ingin membuang buket bunga. Akan tetapi,di urungkan niatnya. Kemungkinan, bisa membuat Frans cemburu.
Ting.....
[Bagaimana kamu,suka kan? Aku tahu,kamu menyukai buket bunga dariku. Malam ini, bersiaplah sayang. Karena aku dan kedua orangtuaku akan datang ke mansion Fernandez.lalu,melamar mu]. Huda
Melda,membulatkan matanya dengan sempurna . Saat membaca pesan Huda,dia langsung gelisah tak karuan.
[Aku tahu,kamu tidak menyetujui kedatangan kami. Tetapi,aku dan kedua orangtuaku akan datang. Apa lagi,kita semalam ke villa. Untuk membuktikan, sesuatu].
Pesan kedua dari Huda, tentu saja Melda mengepalkan kedua tangannya. "Sialan,dia benar-benar nekat". Katanya, dengan kesal.
Dia, bergegas ke luar ruangan dan menemui Frans di ruangannya.
Melda, menceritakan semuanya dan meminta bantuan kepada Frans.
"Aku mohon, Frans. Tolong aku, lebih baik menikah dengan mu di bandingkan dengan Huda. Plissss....Tolong aku". Rengek Melda,tak memperdulikan tatapan tajam Frans.
Keluarga Fernandez dan keluarga Huda,mana percaya jika aku menyewa seseorang untuk menjadi calon suamiku. Kecuali dengan mu,pasti percaya. Aku mohon, Frans". Melda, bermohon-mohon dan menangkup kedua tangannya.
"Tidak,itu terlalu beresiko Melda. Tentu saja, keluarga Fernandez benar-benar menikahkan kita". Frans,menolak kerjasama Melda.
"Tidak apa,aku terima kok. Malah senang, menikah dengan mu". Kedip mata Melda, menggodanya.
"Ck,aku yang tidak Sudi Menikah dengan mu". Sahut Frans, dengan tegas.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Melda berlarian ke luar ruangan. Dia, menghapus air matanya dengan kasar.
"Menyebalkan sekali, meminta bantuannya saja tidak mau". Gerutu Melda, merobek-robek kertas di tangannya.
Hatinya benar-benar kacau, melakukan apapun tidak semangat sama sekali. "Enaknya, ngapain yah". Gumam Melda, memandang langit-langit ruang kerjanya.
Tok....Tok...Tok...
"Masuk" Teriak Melda, terdengar lesu.
__ADS_1
Frans,masuk ke dalam dan memandang ke arah Melda terlihat sedih. "Mana berkas yang aku,minta? Apa, sudah dikerjakan".
"Tuh,aku ambil saja. Yah.... kalau, bisa" jawab Melda, dengan entengnya. Jarinya, menunjukkan ke arah robekan kertas dimana-mana.
Frans, menggelengkan kepalanya. "Kerjakan lagi,atau ku pecat". Ancam Frans,tanpa ba-bi-bu lagi.
"Ya sudah,aku berhenti bekerja di perusahaan ini". Jawab Melda, langsung mengambil tas dan beranjak berdiri. Dia, melongos melewati Frans. "Aku, sudah capek bekerja. Malam ini,jangan mencariku". Ucapnya, sebelum menghilang di ambang pintu.
Frans, memijit pelipis keningnya. Pekerjaannya,tak henti-hentinya selesai. "Bos,aku terima Almira menjadi sekertaris ku. Karena Melda, berhenti bekerja" Ucap Frans, menelpon V.
Frans, memutuskan panggilannya karena sudah mendapatkan persetujuan V.
Sedangkan Melda, mendengar pembicaraan Frans. Air matanya, mengalir deras karena Frans memang benar tidak memiliki perasaan apapun dengannya.
**********
Melda, berhenti di sebuah rumah temannya. Dia,di sambut hangat oleh Shasa.
"Tumben ke sini,emang gak kerja?". Tanya Shasa, menyodorkan minuman kaleng kepada Melda.
"Yah... sepertinya,dia memang tidak memiliki perasaan dengan mu. Bagaimana,malam ini kita bersenang-senang". Ajak Shasa, tersenyum manis.
"Kemana,ogah kalau ke klub malam". Jawab Melda, tersenyum getir.
"Tenang saja,malam ini ada acara ulangtahun temanku. Dia, merayakan di atas kapal pesiar mewah. Siapa tahu,dapat gebetan". Shasa, mencolek pinggang Melda.
"Baiklah, menemani ku di saat patah hati". Kekehnya Melda,menghela nafas beratnya. "Sha,apa kamu pernah jatuh cinta? Apa, cintamu terbalaskan".
"Cinta? Yah...Aku,memang mencintai seseorang. Tetapi, dia sedang ada tugas di perbatasan. Katanya, tunggu dia pulang dari tugasnya dan langsung menikahi ku. Tapi, sudah tiga tahun aku menunggunya. Lihatlah,dia tidak pernah datang. Maupun, memberikan kabar kepadaku". Jawab Shasa,dia menghisap sebilah rokok.
"Segitunya,kamu mempercayai dia. Lalu, bagaimana dengan keluarga mu? Terlihat jelas,dirimu bebas kemana dan melakukan apapun". Melda, terheran-heran dengan kehidupan Shasa. Jujur saja, Shasa mengalami pergaulan bebas.
"Keluargaku? Aaaahh... Membosankan sekali, mereka tidak memperdulikan bagaimana keadaan ku. Mereka, lebih mencintai kakakku di bandingkan diriku. Tenang saja, walaupun aku seperti ini. Uang ku banyak, Melda". Kekehnya Shasa, tersenyum manis.
"Hemmm...Karena kamu, seorang desainer terkenal". Sahut Melda, membuat Shasa cekikikan tertawa.
__ADS_1
"Pinjam bajuku saja,tenang Melda. Aku, memberikan baju baru tepatnya belum aku pakai". Shasa, memberikan satu dress selutut.
Melda, langsung menyukai bajunya dan pas untuknya. "sangat seksi,jika melekat pada tubuhku". Dia,menanting dress ke tubuhnya. Terlihat,dari pantulan cermin.
**********
"Sayang, orangtuanya Huda akan datang ke sini. Tepatnya,jam delapan malam. Katanya,mau melamar Melda". Sarah, memberitahu suaminya tengah menggendong cucu.
"Mamah, serius? Tidak,bercanda kan". Tanya Jacqueline, langsung terkejut mendengarnya.
"Mana mungkin, Melda mau. Huda, pernah berselingkuh dengan wanita lain. Aku, tidak akan merestui lamaran ini. Melda, sudah aku anggap sebagai adik". V, langsung tak merestui lamaran Huda.
"Tidak boleh seperti itu,V. Kita tunggu,apa jawaban Melda. Mana mungkin, kita menghalangi kebahagiaannya". Sahut Sarah, langsung.
"Dari tadi, menelpon Melda. Tapi, nomornya tidak aktif. Seharusnya, Melda tahukan". Jacqueline,merasa gelisah. Tiba-tiba,nomor Melda tidak aktif.
Tak berselang lama, Frans datang. Tetapi, Melda tidak ada bersamanya.
"Frans,mana Melda?Dia, sudah mengetahuinya kan. Kalau, orangtuanya Huda datang". Tanya Sarah, langsung.
"Hemmm...Tapi, tidak tahu kemana dia? Melda, sudah berhenti bekerja". Jawab Frans, dengan wajah datar.
"Berhenti? Kenapa, Frans". Sarah dan Jacqueline, syok mendengarnya.
"Mah, Melda ingin bekerja di perusahaan lainnya. Maklum,dia ingin mencicipi pekerjaan lainnya" Sahut V, langsung.
"Aaahhh...Yang benar kamu,sayang. Tapi, Melda tidak memberitahu ku. Jangan bohong,kalian". Kata Jacqueline,menaruh curiga kepada suami dan Frans.
"Atau jangan-jangan,kamu ada masalah". Sarah, mendelik ke arah Frans.
"Tidak ada, kemungkinan besar. Melda, tidak pulang malam ini. Katanya,ada acara dengan temannya. Permisi dulu,mau mandi Tuan dan Nyonya". pamit Frans,dia mendapatkan kode dari Irfan.
Irfan, melihat keadaan Frans yang lelah menghadapi masalah. "Sudahlah, nanti kita tanyakan kepada Melda. Kasian Frans, pasti dia lelah. Frans, pergilah dan beristirahat". Irfan, meminta Frans pergi meninggalkan mereka.
"Hemmm.. Masalah kedatangan orangtuanya, Huda. Biar aku dan papah,yang menghadapinya. Mana mungkin,aku melepaskan Melda langsung. Apa lagi, dengan kuda nil". V, tersenyum smrik.
__ADS_1
Jacqueline,sibuk menghubungi beberapa temannya. Hanya ingin tahu,kemana keberadaan Melda. Perasaannya tidak tenang,dia ingin meminta bantuan kepada Frans. Tetapi,di urungkan niatnya. karena dia, memiliki ide lainnya. Tentu saja, Garrix bisa membantunya.