
Jacqueline, melempar buku diary Loeis. Tepat,di hadapan Lauri.
"Buku? Buku apa,itu". Tanya Lauri,dia menyeka air matanya.
"Aku, lebih senang hati atas kematian Loeis. Dia, tersiksa karena mu. Aku kira,kamu sepenuh hati menjaga dan merawat kakakmu. Tapi, semua itu hanya tipu muslihat iblis mu saja. Demi uang, kau rela menyakiti kakakmu ha. Kebetulan sekali, istriku mencari tahu tentang kematian Kiara. Sehingga, semuanya terbuka rahasiamu. Buku diary,yang di depan mu adalah buku kakakmu. Dia, mencatat bahwa kau sudah memanfaatkan kebaikan ku". Tegas V, menatap tajam ke Lauri.
Lauri,terdiam dan gelisah tak karuan. Dia, berpikir keras mencari alasan. "Tidak,itu tidak betul. Istrimu, yang sudah memfitnah diriku. Agar kamu, tidak lagi memberikan uang kepada ku. Jangan-jangan,kamu menyuruh seseorang mencelakai kakak ku ha". Bentak Lauri, dia sekeras mungkin membela dirinya.
"Berani sekali,kamu membalikkan fakta ha? Aku, sudah menyelidiki semuanya. Bahkan,kamu sering membeli obat untuk di suntikkan ke tubuh kakakmu. Agar kakakmu, tidak akan pernah sembuh dari penyakit stroke nya. Membeli obat secara ilegal,dan membayar suruhan mu. Ada cctv, memperlihatkan sebuah fakta.jika kakakmu, terluka parah. Bukan seseorang, yang melakukannya. Tetapi,kakakmu sendiri". Sahut Frans, tersenyum smrik.
"Yah... kakakmu, putus asa dengan kelakuan yang memanfaatkan keadaannya. Kemungkinan,dia sudah berpikir panjang. Kakakmu,bisa bergerak secara berlahan. Karena obat yang kamu suntikan,telah habis. Ingin membelinya, tetapi uangmu tidak cukup. Kamu, sesekali memantau keadaan kakakmu yang tidak ada perubahan sama sekali. Akan tetapi,kakakmu bisa bergerak sedikit demi sedikit. Itulah,dia mengambil kesempatan untuk melukainya". Sambung Melda,lagi.
"Lalu,kau membuat skenario terhadap suamiku. Kalau,ada seseorang yang ingin melukai kakakmu. Padahal, tidak ada siapapun. Lalu, seseorang yang membuntuti kami. Itu, suruhan mu kan". Sahut Jacqueline, tersenyum manis.
"Aaarghhh....Aaak... Rghh...". Lauri,tak bisa bersuara karena V mencekiknya hanya menggunakan satu tangan.
V, sangat marah saat mengetahui istrinya dalam bahaya. "Kurang ajar sekali, sudah aku tolong. Kau, ingin menyakiti istri dan anakku ha".
"Sayang, lepaskan tanganmu. Jangan mencekiknya,". Pinta Jacqueline, dengan wajah sedih.
"Bos,jangan gegabah". Kata Frans, menepuk pundak V.
"Uuhukk... Uhukk.... Uhukkk...". Lauri, terbatuk-batuk saat V melepaskan tangannya. "Maafkan aku,aku sudah di butakan oleh uang. Tolonglah,jangan masukkan aku ke dalam penjara. Aku,mohon..Hiks...Hiks..". Isak tangisnya, Lauri. Tak mampu, meluluhkan perasaan V. Dia, sekeras mungkin untuk memberikan pelajaran terhadapnya.
"Ck, menyebalkan sekali. Tidak punya hati,di kasih hati malah minta jagung". Gerutu V, dengan tatapan tajam.
"Jantung, sayang. Bukan jagung,". Kekehnya Jacqueline, membenarkan perkataan suaminya. V,hanya terkekeh dan mencium bibir istrinya dengan sekilas.
__ADS_1
Frans dan Melda,hanya menahan tawa. Mendengar perkataan V,yang salah.
Lauri, akhirnya di masuk kan ke dalam jeruji besi. Atas perbuatannya,yang sudah tidak lazim lagi. Lauri, tidak bisa mengelak lagi. Karena bukti-bukti kuat dan menjatuhkan dirinya sangat bersalah.
************
"Hemmm.... Akhirnya,bisa menyelesaikan semuanya". Jacqueline, merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
V, tersenyum di atas tubuh Jacqueline. Tangannya, mengelus-elus lembut di pipi istrinya. "Sudah aku bilang,jangan ikutan". Bisik V, lidahnya menyentuh daun telinga Jacqueline.
"Aaahh...Geli,kak V". Cicit Jacqueline, wajahnya sudah memerah seperti tomat masak.
"Hussssttttt... Berhentilah, memanggil Kak V. Aku, suamimu Jacqueline. Panggil sayang, lebih enak". V, mengecup bibir Jacqueline sekilas.
Deru nafasnya terasa di leher, Jacqueline. Sang empunya,hanya diam dan merasakannya. "Hemmm...Sayang, uuuughhh....". Rintih Jacqueline, saat dua melonnya di remas-remas manja.
"Hemmmpttt... Uughhh...Aarav,aahh...". Des-ah Jacqueline,saat V memainkan jarinya di tempat miliknya.
"Yeaaahh....Terus, mende-sah sayang. Aku, sangat suka mendengarnya". V, semakin cepat memainkan jarinya. Mulut Jacqueline, langsung di bungkam dengan bibir V. Hingga suara desa-han, Jacqueline. Tak terdengar lagi,hawa panas semakin panas.
Keringat bercucuran membasahi,tubuh mereka. Hanya ada suara desa-han, menggema di kamar. Tak memperdulikan, Frans tengah mondar-mandir di depan pintu kamar sang bos.
Mata Frans, tertuju ke arah Melda. Sepertinya, dia ingin pergi. "Mau,kemana? Bukankah,aku memberikan pekerjaan yang harus kamu selesaikan". Tanya Frans, menghentikan Melda.
"Hemmm...Aku,ada urusan mendadak. Masalah pekerjaan, pulang nanti aku selesaikan". Jawab Melda, langsung. Duhhhh...semoga saja, Frans tidak menghalangi ku pergi.
Akan tetapi, Frans langsung mencekal lengan Melda. "Frans, lepaskan aku". Melda, meronta-ronta melepaskan cengkalan Frans.
__ADS_1
"Tidak, selesaikan dulu. Baru bisa pergi,aku memerlukan dokumen itu". Frans, langsung menarik paksa tangan Melda dan masuk ke dalam kamarnya. Enak saja,malah pergi dan keluyuran. Sedangkan aku,banyak sekali pekerjaan dari bos.
"Frans,kamu apa-apaan sih? Minggir,aku mau pergi. Hanya sebentar,aku sudah...hemmm..". Melda,tak lagi melanjutkan perkataannya. Sialan,hampir saja keceplosan lagi. Gerutu Melda, menatap tajam ke Frans.
"Selesaikan sekarang,juga. Atau,aku akan memperkosa tepat di atas ranjang milikmu". Ancam Frans, penuh penekanan pada perkataannya.
"Sialan, main ancam saja. Hanya satu jam, Frans. Plisss....". Rengeknya Melda, mengelus-elus dada bidang Frans. Dia, berniat untuk menggoda Frans. "kalau, tidak? Aku, mencium bibir mu". Kedip matanya,lalu mengigit bibir bawahnya juga.
"Jangan, menantang ku Melda. Aku, sudah menahan dan tidak melakukan apapun. Tapi kamu,malah melonjak". Frans, menantang Melda. Berlahan-lahan, Frans mendorong tubuh Melda.
Awalnya, Melda menantang terhadap Frans. Sekarang, dia gugup dan jantungnya berdegup kencang. Hanya bisa, menelan ludahnya dengan kasar. Matanya, melotot karena sudah berbaring di atas ranjang.
Apa lagi, Frans sudah menindih tubuh Melda. "Kenapa,hemmm...Takut, mana keberanian mu Melda". Ucap Frans, dengan suara seraknya.
"Hehehehe....Aku,aku tadi hanya bercanda. Tidak ada, seriusan. Bisakah,kamu pergi dari atas tubuhku". Melda, menahan dada bidang Frans. Dia, sedikit mendorong tubuhnya.
"Kenapa,harus pergi? Bukankah,kamu menginginkan momen langka ini. Lakukanlah, jika kamu ingin mencium ku. Mau dimana,di bibir,di pipi atau di tempat lain". Bisik Frans, menyeringai tajam.
Melda, tersenyum manis. Tangannya yang lentik, membuka kancing kemeja Frans. Berlahan, Melda mencium bibir Frans dengan agresif. Tentu saja,sang empunya menyeimbangi ciumannya.
Pletakkk....
"Auuukkkk....". Melda, meringis kesakitan.ketika, Frans menjitak keningnya. Sialan, semuanya adalah halu ku saja. Aaakkhh... Melda, bisa-bisanya kamu menghayal seperti itu. Melda, menggerutu dirinya sendiri. "Fransssss.....". Melda,hanya pasrah dan memasang wajah kusut.
"Ck,pasti mikirin mesum kan". Delik mata Frans, tertuju pada Melda.
Frans,menarik lengan Melda dan membawanya ke ruang kerja. Agar Melda, mengerjakan tugas darinya. Tidak rela,jika Melda enak-enakan tanpa memperdulikan pekerjaan. Tidak seperti dirinya, dokumen menumpuk di berikan oleh V.
__ADS_1