
"Malam-malam begini,masih kerja". Ucap Jacqueline,di ambang pintu ruang kerja V. Dia, melangkahkan kakinya menuju meja kerja kakak angkatnya.
"Ck, ngapain ke sini? Apa anakmu, sudah tidur ha". Tanya V, masih fokus dengan laptopnya.
"Sudah, sekarang aku mau ayahnya juga tidur. Bukan,sibuk bekerja seperti ini". Jacqueline, meraba-raba dada bidang V dari belakang.
"Jangan menggangguku, pergilah sana". Usir V,masih merasakan sentuhan lembut dari Jacqueline. Sial,kenapa aku tidak bisa menyingkirkan tangannya.
"Yakin, mengusirku. Wahai, kekasih simpananku". Bisik Jacqueline,lalu mengecup lembut pipi V.
V,sekuat mungkin menahan dirinya. Saat Jacqueline, menciumnya diam-diam. "Kapan,mulai bekerja dengan sutradara itu. Ingatlah, jangan terbawa perasaan dengan duda beranak satu itu". Tegas V, rahangnya mengeras seketika.
"Lusa,kak. Kau tahu,kak? Kata-kata kakak,itu. Menunjukkan jika,aku tidak boleh dekat dengan siapapun. Artinya,kakak cemburukan. Bagaimana,tidak cemburu? Melihat sang kekasih, bermesraan dengan pria lain. Ingin marah,tapi tahu diri. Karena sebagai kekasih simpanan,iyakan". Jacqueline, duduk di tepi meja. Tak memperdulikan tatapan tajam, dari V.
"Buang pikiran mu,itu. Sampai kapan pun,...".
"Yayah, sampai kapan pun. Aku hanya, menganggap dirimu sebagai adikku sendiri". Sambung Jacqueline, sambil meragakan suara V. "Kata-kata kakak, sudah basi untuk di dengar. Sampai-sampai,aku kebingungan kak. Pilih Jacob,masih lajang atau duda beranak satu. Bahkan,aku takutnya nanti. Malah bertemu dengan, brondong. Mana mungkin,aku memilih kekasih simpananku. Yah..karena kak V,akan menikah dengan Laura. Oops.... sebenarnya, Laura perempuan baik-baik atau....". Jacqueline,sengaja menggantung ucapannya.
"Ck, mengatai Laura. Lantas,kamu di sebut apa ha? Memiliki pria,sana sini. Gak jelas,mana yang mengajak serius". Decak V, tersenyum smrik.
"Yakin,gak ada ngajak aku serius. Baiklah,aku akan melakukan sesuatu. Hemmm...gampang,aku membuat status di sosmed. Aku Jacqueline, ingin menikah tetapi tidak memiliki calon suami. Jika berminat, datanglah ke kediaman keluarga Fernandez untuk melamarku". Kata Jacqueline, tersenyum sumringah. "Aku yakin, hanya hitungan detik saja. Sudah pasti, mobil-mobil memenuhi taman mansion ini. Untuk melamarku,lalu aku memilihnya yang mana"
__ADS_1
V,hanya memijit pelipis. Kepalanya sudah nyut-nyutan, memikirkan kelakuan adiknya itu. "Jacqueline, menikah bukan main-main. Kita, harus bisa menilainya".
"Waw....kakak, ingin menilai sebagai mana baiknya pasangan Jacqueline? Lantas, Laura baik dimana. Aku yakin, kakak tahukan". Delik mata Jacqueline, membuat V terdiam. "Jika kakak, menerima pasangan apa adanya dan memaafkan masa lalunya. Otomatis, aku jugalah. So,aku yang jalanin bukan kakak. Bay, selamat malam". Jacqueline, mencubit pipi V.
Saat ingin melangkah,V memegang tangan Jacqueline. "Kakak, lepaskan. Hemmm..satu lagi,besok Laura mengajak kakak berkencan. Sebenarnya,kakak niat gak sih? Buat nikahin Laura,atau jangan-jangan. Kakak, ingin menikahi ku". Kedip mata Jacqueline,dan mengelus lembut rambut V.
V,hanya mendengus dingin mendengar perkataan Jacqueline. "Secepatnya, aku akan mencari pria terbaik untuk mu". Ucap V, dengan tatapan tajam.
Jacqueline, tersenyum smrik dan melepaskan cekalan tangan kakaknya itu. "Terimakasih,kak. Aku tidak membutuhkan itu,aku akan memilih pria mana untuk pasangan ku nanti". Ucap Jacqueline, melangkah pergi.
Baru sampai pintu,V langsung mencekal lengan Jacqueline. "Aaaakkhh.... sakkiiiiiit,kak". Jacqueline, meringis kesakitan.
"Jangan coba-coba, membantah perkataanku. Ingatlah,siapa aku Jacqueline? Kau tahu,aku bisa membunuh pria mana pun. Termasuk, Jacob". Ancam V, sorot matanya yang tajam.
Jacqueline, merasakan hawa amarah V. Mulutnya,kelu tak bisa bersuara apapun.
Kak V, benar-benar marah. Memang benar,selama ini aku selalu menguji kesabarannya. Sudahlah, aku tetap tidak terpengaruh dengan kata-katanya itu. Batin Jacqueline, sebenarnya dia takut saat ini.Tangannya,mulai melonggar. Berarti ada kesempatan, untuk kabur dari pandangan kakaknya.
"Aku tahu, jika kamu mengabaikan perkataan ku. Ingatlah,aku bisa melakukan apapun. Ancaman ku, tidak main-main Jacqueline". Ucap V, saat Jacqueline melangkah pergi.
"Kak V,tahukan. Jika aku, tidak suka dengan ancamannya. Aku juga, lebih nekad melakukan apapun. Urus saja dirimu,kak. Jangan terlalu banyak, mengurusku yang bukan-bukan. Aku masih, bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk". Sahut Jacqueline, mengepalkan kedua tangannya. Sebenarnya,aku sangat suka kak. Dengan ancaman dan peraturan kakak. Karena aku, merasakan sesuatu yang tidak bisa aku tebak. Aku tahu, jika kak V begitu mengkhawatirkan keadaan ku. Terimakasih,kak V. Selama ini,aku selalu menentang keras perkataanmu.
__ADS_1
Jacqueline, menutup pintu kamarnya secara berlahan. Dia, menghembuskan nafas beratnya.
*************
Esok harinya,V di datangkan tamu tak di undang. Walaupun, mereka memiliki hubungan. Akan tetapi,V tidak menyukai membantah perkataannya.
"Untuk apa,ke sini? Bukankah,aku sudah bilang. Jangan ke sini, karena aku sibuk". Ucap V, dengan tegas.
Laura, menjadi salah tingkah. Apa lagi, kata-kata dari sang tunangan begitu dingin. "V,aku kangen sama kamu. Kita, jarang sekali berduaan. Aku sering,mengajakmu. Tapi, selalu menolaknya". Laura, ingin duduk di pangkuan V.
Namun,V langsung beranjak berdiri dan membuat Laura kecewa. Dia, tidak menyerah dan memeluknya dari belakang. "Sayang, jangan seperti ini. Kenapa, sifatmu tetap dingin kepadaku. Hemmm... bukankah,akhir bulan kita akan menikah. Seharusnya,kita menyibukkan diri mengurus pernikahan kita". Rengeknya Laura, membuat V bertambah tak suka.
V, melepaskan pelukannya. Dia,merasa tak nyaman di peluk Laura. "Jaga sikapmu,ini adalah kantor. Siapa tahu,ada yang masuk. Mengurus pernikahan, sangat mudah. Waktunya, lumayan masih lama. Aku tidak mau, detik-detik sudah tercapai. Tetapi, memiliki masalah besar". Senyum smrik V, membuat Laura merasa tak nyaman dengan tatapannya.
"V, sebenarnya kamu serius gak? Selama ini,kamu tidak memperdulikan bagaimana keadaan ku. Bahkan,pesan dan telponku jarang kamu balas. Apa lagi, mengangkat telpon ku. Aku jadi meragukan, keseriusan mu". Laura, mendorong tubuh V.
"Bukan aku,yang meminta pernikahan ini. Tapi,kau selalu meminta untuk di nikahi. Jadi, terserah apa mauku. Ingat itu,". Tegas V, menyunggingkan senyumnya. "Aku menikahi mu, karena seseorang. Jika tidak,mana mau itu terjadi. Ingatlah, jaga batasanmu. Aku tahu,kamu mencoba merayu sutradara Yoshi. Ingatlah,karir mu ada di tanganku Laura".
Seseorang? Siapa dia,tidak akan pernah bisa mendapatkan V. Siapapun itu, karena V adalah jembatan karirku. Sial,dia malah mengancam ku. bagaimana ini,jika dia mengetahui sebenarnya. bisa mati,bukan aku saja yang hancur, tetapi dia. Batin Lauda, tangannya sudah gemeteran. "V,aku seorang artis terkenal. Jangan sampai awak media,tahu. Jika kamu, menikahi ku karena Seseorang".
"Laura,kau tau jika aku menjadi seorang yang jahat. Jangan lupa,aku bisa menghabisi nyawa mu". V,mencekik leher Laura.
__ADS_1
Laura, meronta-ronta melepaskan cekikan di lehernya. "V, lep-lepaskan ak-aku... Aaakkhh.... lep-lepaskan ak-aku.... Ak-aku...mo-ho-mohon" Laura, merasakan lehernya sangat sakit.
"Uhuukkk.... Uhuukkk ... Uhuukkk....". Laura, terbatuk-batuk.V, menghempaskan tubuh Laura ke lantai dan tak memperdulikan isak tangisnya. Dia,malah duduk di kursi kebesarannya itu.