BALAS DENDAM TAK BERTEPI

BALAS DENDAM TAK BERTEPI
Part .17


__ADS_3

[Frans,ini aku Herlin]


[Bisakah,kita bertemu? Temui aku,di tempat biasa kita berjumpa]


[Ada satu hal,yang aku ingin katakan. Aku mohon, temuiku lusa]


[Frans, kenapa tidak membalas pesan ku? Aku tahu,kamu sudah membaca pesan ini]


[Apa kamu, tidak merindukan ku? Aku, sangat merindukanmu]


[Tidak akan ada yang marah,jika kita bertemu. Aku, sudah pisah ranjang dengan suamiku. Setelah anak ini lahir,aku akan bercerai]


[Kita bisa menjalani rumah tangga, bersama. Aku tahu,kamu masih sangat mencintaiku. Frans,kamu pria yang berbeda]


Banyak lagi, pesan-pesan yang di kirimkan oleh Herlin. Kebetulan sekali,ponsel Frans tertinggal di meja makan. Getar ponselnya, menjadi pusat perhatian Melda.


Saat membaca pesan,dari Helin. Melda, terduduk lemas di kursi. Matanya sudah berkaca-kaca, sekuat mungkin menahan air matanya. Dia, ingin meminta penjelasan tentang wanita itu.


Satu bulan telah berlalu, keadaan Melda kembali stabil. Dia,di larang bekerja lagi. Takutnya, kenapa-kenapa nantinya. Sudah cukup, musibah menimpanya yang kemarin.


Melda, calingukan mencari-cari sesosok Frans. Terlihat Frans, tengah berolahraga di ruang Gym dengan sendirinya.


Melda, langsung masuk ke ruang Gym dan menghampiri Frans.


"Ada,apa?". Tanya Frans,melap keringat di keningnya.


"Siapa, Herlin? Apa hubungannya, dengan mu". Tanya Melda, menyerahkannya ponselnya.


"Ck, lancang sekali membuka ponsel ku. Tau darimana,kata sandinya? Jangan-jangan, kamu diam-diam melirik ke arahku. Saat membuka ponsel,ini". Frans, tiba-tiba semakin menghimpit tubuh Melda.


"Menjauhlah,bau keringat". Melda, mendorong tubuh Frans. Hanya alasannya saja,jika badannya berbau keringat.


Frans, langsung mencium bagian tengah bagian tubuhnya. Namun,dia tidak mencium bau apa-apa. "Jangan berbohong, kepadaku. Lihatlah, wajahmu memerah". Kekehnya Frans, meletakkan ponsel di meja.


"Tidak perlu, mengalihkan pembicaraan. Katakan, siapa Herlin? Jangan menyembunyikan sesuatu dari ku, Frans. Kau tahu,apa konsekuensinya? Yaitu, pernikahan kita tak akan terjadi. Jika ada orng ketiga, di antara kita". Ancam Melda, menatap tajam ke arah Frans.

__ADS_1


Frans, menarik Melda dalam pelukannya. "Dia,bukan siapa-siapa ku. Hanya masa lalu, bukankah kamu sudah membaca pesan darinya. Hemmm...Dia, sudah menikah dan hamil"


"Tapi,dia mau bercerai dengan suaminya. Lalu, apakah kamu ingin kembali kepadanya? Setega itu, mematahkan hidupku ". Melda, memalingkan wajahnya. Tak ingin, memandang wajah Frans. Air matanya luruh sudah, sangat susah meneguk air liurnya.


Frans, mengangkat dagu Melda. Agar mereka, saling bertatapan. "Tataplah aku, dalam-dalam Melda. Aku,pria yang selalu memegang apa perkataanku. Tidak ada kepikiran, untuk meninggalkanmu dan kembali kepada wanita seperti Herlin. Percayalah, dengan ucapanku".


"Bohong! Pasti bohong,pria sering mengkhianati ucapannya". Melda, menepis tangan Frans dan melerai pelukannya.


"Bagaimana, caranya? Agar kamu percaya,apa perlu besok kita menikah". Frans,mencekal lengan Melda dan menarik ke dalam pelukannya lagi.


Pelukkan Frans, membuat Melda nyaman. Seakan-akan, runtuh begitu saja. Tapi,dia harus tegas tak mudah luluh kepada Frans. "Bisa jadi,kamu kasian kepadanya. Lalu, balikan lagi".


"Hemmm...Ya sudah,jika kamu tidak mempercayai ucapan ku" kini Frans, melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan Melda.


Dengan hati dongkol, Melda menghentak kakinya. Seharusnya,di bujuk-bujuk saat dia merajuk. Namun,malah di tinggal pergi. "Payah,jadi laki-laki. Bagaimana,jadi suami? Masa baru sepele, seperti ini. Tidak ada niat untuk, membujukku lagi".


"Lalu,harus membujuk mu seperti apa? Katakanlah".


Deggg....


Melda, terkejut mendengar ucapan Frans. Ternyata, Frans masih mendengar gerutunya tadi. Kini Melda ,jadi salah tingkah. "Emmm... Ak-aku, mempercayai ucapan mu". Melda, cengengesan dan menggaruk lehernya.


Mereka berdua,hanyut dalam berciuman. Tak memperdulikan, seseorang tengah berdiri di ambang pintu.


V,yang ingin berolahraga dan mengurungkan niatnya. Membiarkan dua sejoli, tengah berciuman mesra. V, langsung pergi lagi ke kamar dan menemui istrinya.


"Loh,katanya mau berolahraga raga". Tanya Jacqueline,masih menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya.


Rupanya Jacqueline, baru selesai mandi.


"Tidak jadi,ada dua sejoli tengah bermesraan". Jawab V, mendekati istrinya.


"Dua sejoli? Apakah, Frans dan Melda. Astaga, sudah sejauh mana mereka ber...Hmmpptt.... Hemmmpttt...".


V, langsung membungkam bibir Istrinya menggunakan bibirnya. Menarik paksa, handuk yang melekat pada tubuh Jacqueline.

__ADS_1


Terpampang jelas, tubuh istrinya yang polos. V, menyusu seperti anak bayi.


"Mandilah,lagi... Aaaakkhh....". Des-ah Jacqueline,saat jari suaminya mulai menu-suk-nusuk di bagian sensitifnya.


"Mende-sah lah, sayang. Aku, sangat menyukainya". Bisik V, tersenyum smrik dan meminta Jacqueline menungging di sofa.


"Aahhh...Aaahh... Ouhhh.... Ssshhhhhh.... Aaah...."


Hanya suara desa-han, menggema di kamar. Pada akhirnya, mereka berolahraga lagi.


Jacqueline, menik-mati permainan dari suaminya itu. Tidak bisa, menolak dari sesosok pria yang amat di cintainya.


***********


Sedangkan di ruang Gym, Melda bergelut manja di pangkuan Frans.


"Perlukah,aku yang membalas pesan ini". Tanya Melda, tangannya sudah gemes ingin mengetik pesan lalu di kirim ke calon pelakor itu.


"Terserah, kamu Melda. Aku,mau mandi dulu. Gerah, sekali". Kata Frans, Melda berdiri dari pangkuan calon suaminya.


"Baiklah,aku bawa ke kamar. Nanti, temuiku di kamar. Bay". Melda, tersenyum merekah dan bersiap untuk memberi pelajaran kepada wanita gatal itu.


Sesampai di kamar, Melda langsung mengetik pesan penuh semangat.


[Maaf, baru balas. Habis olahraga, tadi. Herlin, lupakan masa lalu. Walaupun,kamu bercerai dengan suami mu. Maaf,aku tidak akan kembali padamu lagi].


Settt....


Melda, mengirim pesan kepada Herlin. tak sabar lagi menunggu balasannya, jantungnya deg-degan.


[Frans, jangan seperti ini. Aku tahu,kamu sangat mencintai ku. Bagaimana,kita bertemu di tempat biasanya. Aku mohon, Frans. Hanya kamu, yang memahami segalanya. Aku menikah,karena keinginan ayahku. Jujur,aku sempat menolak dan menunggu mu. Tapi, ayahku tidak menyetujui hubungan kita. Untuk saat ini, ayahku menyetujuinya Frans. Ini adalah sebuah kebahagiaan,kita]. Herlin.


Melda, mengerut keningnya. Membaca pesan dari Herlin, rupanya selama ini Frans menyimpan rahasia ini.


Melda, merasa kasian kepada Frans yang terlanjur kecewa berat. Tetapi,dia mampu memendam perasaannya. Tanpa, di ketahui oleh siapapun.

__ADS_1


[Frans, temui ku. Agar aku, bisa menjelaskan semuanya. Apa perlu,aku ke sana ha? Kasiani aku,yang tengah hamil besar. Seandainya,aku tidak hamil. kemungkinan besar, aku sudah berada di kediaman Fernandez. Coba saja,kamu jujur kepadaku dan siapa kamu sebenernya. Sudah pasti, ayahku menyetujui hubungan kita. Ini semua,bukan kesalahan aku semata Frans. Tapi kamu,yang menyembunyikan identitas aslimu].


Melda, membulatkan matanya dengan sempurna. Rupanya, Frans tidak jujur kepada Herlin. Dari sini, Melda memahami kerakater Herlin sebenarnya. "Oh,jadi kamu menyesal sudah. Karena kehilangan berlian,demi batu kerikil". Kekehnya Melda, tersenyum smrik.


__ADS_2