BALAS DENDAM TAK BERTEPI

BALAS DENDAM TAK BERTEPI
Sesosok Ayah


__ADS_3

Berharap kedatangan mereka, bisa di maafkan oleh Jacqueline.


Tentu Jacqueline, tidak mempercayai perkataan mereka. Walaupun,dia sudah memaafkan ibu tiri dan kakak tirinya itu.


"Aku akan memulangkan kalian,satu hal perlu yang kalian ketahui. Jika kita bertemu, anggap tidak saling kenal. Karena kita,bukan anggota keluarga lagi". Tegas Jacqueline, tersenyum smrik.Aku tidak akan, pernah mereka mengijinkan masuk ke dalam kehidupan ku lagi. Karena aku, tidak mau menyesal di kemudian. Sudah cukup, di masa lalu menjadi pelajaran terberat bagiku. Satu kali, mengecewakan ku dan menyakiti kum jangan harap,ada yang kedua lagi.


"Jacqueline,jangan seperti nak. Aku,aku sudah menganggap mu sebagai anakku sendiri". Wandari, meminta iba kepada Jacqueline. Bagaimana lagi, meluluhkan hati Jacqueline. begitu susahnya, memberikan kesempatan satu kali. sifatnya, terlalu keras persis seperti ibunya. Bagaimana pun, caranya! Kami,harus tinggal di mansion ini. Pertama,aku akan memberikan pelajaran kepada keluarga Indramayu.


"Ck,karena Jacqueline menantu di keluarga Fernandez. Sok-sokan mengakui seperti anak sendiri,dulu kemana saja? Kalian malah,mengusir Jacqueline dan ayahnya. Di saat ayahnya,sakit keras dan meninggal di perjalanan menuju rumah sakit". Sarah, sudah marah dari tadi. Aku ingin sekali, menyeret paksa keluar dari sini. Tapi,aku harus sabar dan jangan gegabah dalam urusan Jacqueline. Aku tahu, menantu kesayangan ku ini . Akan menyelesaikan, masalahnya dengan baik.


"It-itu kami hilaf,". Lirih Nita, menunduk kepalanya. Haruskah, merendahkan harga diri seperti ink? Apa seperti ini, perasaan Jacqueline waktu dulu. Dia, bermohon-mohon kepada kami agar tidak diusir. Sialan,kenapa kebalik? Gara-gara ide,mamah. Harga diriku,hilang di wajah Jacqueline.


"Ck,hilaf karena harta dan serakah". Sahut Melda, mengerucut bibirnya. Hahahahaha... sekalian aja,buat mereka terkena mental. Belum tahu, mereka berhadapan dengan siapa? Sudah pasti, berhadapan mulut pedas.


"Aku tahu,kalian ke sini menemui ku. Karena ingin,hidup di lingkungan keluarga Fernandez kan. Astaga,ide licik kalian kekanak-kanakan sekali. Ingatlah,aku tidak pernah menganggap kalian keluarga. Seperti kalian dulu, menganggap sebagai benalu. Jadi,aku tidak salahkan menganggap kalian benalu". Decak Jacqueline,dia melipat kedua tangannya ke depan. Yah..... awalnya saja,kalian selalu baik kepadaku. lama-kelamaan,kalian bakalan mencuci otak kepada orang terdekatku sekalipun. Jangan harap,aku seperti anak kecil yang di iming-iming akan luluh.


Wandari,Nita,dan Angel mereka sepertinya kehilangan ide. Untuk meluluhkan hati Jacqueline,dia benar-benar berubah. sudah melakukan apapun,apa lagi memohon-mohon. Seakan-akan, tidak memiliki harga diri lagi.


"Ada apa,ini". Tanya V,yang turun dari anak tangga bersama Frans. Siapa mereka? pernah, melihat tapi dimana? teman mamah,atau teman Jacqueline dan Melda.


V dan Frans, bergantian menatap tamu. "Oh,teman sosialita mamah". Tebak V, langsung duduk di samping Jacqueline. Tak lupa, menggenggam tangan istrinya. Melda, melihat itu langsung tertawa renyahnya.


Melda, melirik Frans yang tengah memandanginya. Hemmm...aku harus ingat, karena hari ini ada janji dengannya. Batin Melda, tersenyum manis. Tetapi saja, Frans berwajah datar tidak membalas senyuman Melda. Membuatnya, cemberut.

__ADS_1


"Bukan,dia ibu tiri dan kakak tirinya Jacqueline. Masa lupa, bukankah pernah kita bahas". Sahut Sarah, langsung. Ayo, hadapi pawangnya menantu ku. Dia,lebih ganas dari yang lainnya. Ancamannya, tidak main-main lagi.


"Alahhh... bukankah,ayahnya Jacqueline sudah tiada. Otomatis, mereka bukan anggota keluarga istriku. Lagian, mereka kan mengusir Jacqueline waktu itu. Masih ingat,aku". Kata V, tersenyum. "Lah, ngapain mereka ke sini jauh-jauh. Jangan bilang,mau menumpang hidup dengan mengatas namakan istriku".


"Yah...biasa,mau hidup enak". Sahut Melda, menyunggingkan senyumnya. Biasalah, namanya juga orang serakah. Sudah pasti, kehilangan rasa malu. Pikiran mereka,hanya uang dan hidup enak. Tidak memperdulikan, perbuatan mereka di masa lalu.


"Hussssttttt....". Frans, langsung menegur Melda. Agar dia, tidak campur aduk dalam urusan Jacqueline. tentunya Melda, melotot ke arah Frans.


"Hemmm.. mereka, ingin menumpang hidup dengan berpura-pura baik kepadaku. Mereka semua,bisa hidup enak dan derajatnya terangkat. Jika mereka,terus berasa di dekatku. Apa lagi, tinggal di sini". Sambung Jacqueline, sambil memainkan kukunya.


"Jacqueline,kamu salah. Kami,datang ke sini benar-benar tulus meminta maaf kepada mu. Kami, ingin memperbaiki hubungan antara keluarga". Bantah Wandari,dia terlihat gelisah. Kurang ajar sekali,dia berkata seperti itu. Sama saja, aku di rendahkan martabat ku.


"Oh,tapi hubungan antara Jacqueline dan kalian. Sepertinya, tidak bisa di selamatkan. Frans, langsung saja pulangkan mereka. Aku, tidak sudi mengganggu istri ku". Perintah V, langsung.


"Bu Wandari, sudah jelaskan. apa yang di katakan Jacqueline,aku tidak bisa berbuat apa-apa. Karena itu, kesalahan kalian. Penyesalan memang selalu,di akhir". Ucap Sarah,dia juga tidak menyukai kedatangan mereka. "Makanya,jadi orang jangan terlalu serakah. Apa lagi, merampas hak orang lain. Ingatlah,karma berlaku dan cepat atau lambatnya. Kalian,pasti menuai hasilnya".


"Jacqueline, pikirkan tentang keadaan kami. Karena kamu, semuanya hancur. Terutama aku, kehilangan suami dan anakku. Mereka, mengambil anakku". Nita, berusaha keras menggoyahkan hati adik tirinya itu.


"Iya,aku memang berniat menghancurkan rumah tangga mu. Padahal,bukan aku sih! Tapi,ego dan cemburu buta mu". Jawab Jacqueline, dengan santainya.


"Tapi,pak Romi memang playboy". Sahut Melda, lagi. Membuat Jacqueline dan dia, cekikikan tertawa.


Mendengar ucapan Jacqueline dan Melda, Nita seakan-akan tidak terima. Ingin sekali,dia meluapkan emosi.

__ADS_1


Tetapi Wandari, langsung mencegahnya dan memberikan kode matanya melotot.


"Seharusnya,kamu berpikir lebih dulu. Gara-gara kamu, kakakku kehilangan keluarganya dan anak. Mereka merampas keponakanku, begitu saja. Karena kami, tidak bisa membelikan kebutuhannya. Dimana hati nuranimu, Jacqueline? Tidak pantas dirimu, menjadi seorang model terkenal. Memiliki sifat munafik, bahkan kamu juga memisahkan aku dan Rivaldo". Bentak Angel,dia tidak sanggup menahan dirinya.


"Oh, baguslah kalau kalian sehancur-hancurannya. Memang benar,aku menginginkan kalian seperti ini. Angel,kamu mengatakan aku tidak memiliki hati nurani? Lantas, bagaimana dengan kalian ha? Astaga,ngaca,ngaca". Jacqueline,tak kalah membentak Angel.


"Ck,kalau tidak kami menolong Jacqueline. Mungkin, dia sudah tiada". Sahut Sarah, langsung. Munafik,menelan ludah sendiri. Aku yakin mereka, ingin menghancurkan reputasi menantuku.


Derai air mata Nita, semakin deras. "Apa kamu, tidak tahu? Bagaimana,rasa sakitnya? seorang ibu,kehilangan anaknya. Anaknya,di rampas paksa".


"Apa kamu,tahu? Bagaimana,rasa sakit hatinya. Ketika kehilangan sesosok,yang di panggil seorang ayah. Kamu,bisa bertemu dengan anakmu dengan jarak dekat atau jauh. Aku, bagaimana Nita? Hanya memandang, sebuah makam. Seandainya,kalian membawa ayahku ke rumah sakit. Aku yakin, ayahku masih hidup". Kata Jacqueline,dalam isak tangisnya.


V, langsung memeluk tubuh istrinya. Membiarkan tangisnya, pecah. Sarah,juga ikut-ikutan menangis.


Seketika Wandari dan anaknya, terdiam. Bingung,mau berkata apa lagi.


Nita, tak bisa berkata apa-apa lagi. Apa yang di katakan, Jacqueline. memang benar, bahwa dia masih bisa bertemu dengan anaknya."Ak-aku,minta maaf". Lirihnya,pelan.


Susana mansion semakin ,berduka. Para pelayan,menegang dan merasakan kesedihan yang di alami Jacqueline.


"Apakah,kata maaf dan penyesalan? Bisa, menghidupkan sesosok ayah Jacqueline. Nyatanya, tidak kan! Begitu juga,kalian pergi dan jangan pernah mengakui Jacqueline anggota keluarga kalian. Jika kalian,masih melanggar perkataanku. Siap-siap saja,jeruji besi menyambut kedatangan kalian". Tegas V, rahangnya mengeras seketika.


Wandari dan anaknya,hanya menunduk dan samar-samar mereka berbisik. Tentu saja, ancaman V memang benar. Dia, tidak pernah main-main. kecuali, dengan istrinya yang selalu mengalah.

__ADS_1


__ADS_2