
"Bos...". Ucap Frans, menemui V di ruang kerjanya. Terlihat, Frans menarik satu koper di tangannya.
"Kenapa,baru sekarang? Tapi, tidak apa terlambat. Berapa hari,kamu cuti". Tanya V, tersenyum smrik. Ck, pergerakan mu sangat lambat Frans. Hanya karena satu wanita, lambat sekali seperti siput.
"Satu bulan, perjalanan ku lumayan jauh". Jawab Frans,demi sebuah janji dia harus pergi. Dia, sudah memutuskan untuk menemui wanita itu dan memikirkan secara matang.
"Baiklah,aku akan atur nantinya. Semoga, mendapatkan jawaban tidak mengecewakan mu". V, menepuk pundak Frans. Satu harapan ku,kau mendapatkan kenyataan yang mengecewakan. Lalu,menyesali karena mengabaikan Melda. Hahahaha.... Mampus kau, Frans.
Mereka berdua, menuruni anak dan menemui lainnya di ruang tamu. Dengan hati berat, Frans terus berusaha untuk memenuhi keinginannya. Anggap saja, membuktikan kenyataan yang selama ini di ikat dengan janji. Akan tetapi,janji tidak tau arah pastinya.
Melda,tengah menggendong keponakannya.
Matanya tertuju kepada Frans,dia bertanya-tanya mengapa dia membawa koper. Mau kemana,dia? Apa,dia ingin menghindari ku. Tidak mungkin,pasti masalah pekerjaan. Batin Melda, mengulum senyumnya.
"Eeee..Mau kemana kamu, Frans? Bawa koper segala,ada pekerjaan di luar negeri". Tanya Sarah, langsung.
"Tidak, Frans meminta cuti. Dia, ingin liburan". Jawab V,yang lainnya terheran-heran dengan Frans. "Frans, pergilah. Jangan sampai terlambat,". Perintah V, langsung di angguki Frans.
Frans,pamit kepada Irfan dan Sarah. Begitu juga dengan, Jacqueline. Terakhir,kepada Melda. Dia, berlalu pergi meninggalkan pintu mansion. Ada raut wajah sedih, Melda. Entah,dia merasa tak rela kepergian Frans.
"Sayang, apa kamu tau? Frans, pergi kemana". Tanya Jacqueline. Aiisss.....Kasian Melda,penuh perjuangan mendapatkan hati Frans. Yang sekeras batu, tidak seperti V.
"Tidak,tahu. Dia,mau kemana? Palingan jalan-jalan,ke luar negeri". Jawab V, tersenyum. Jangan sampai, mereka tahu. Nanti,malah merepotkan dan menjadi masalah besar.
"Kebiasaan,dia selalu merahasiakan kemana dia pergi? Sedangkan kita, mengkhawatirkan keadaannya". Sungut Sarah, menggeleng kepalanya.
"Sudahlah, Frans bisa jaga diri. Kita, tidak perlu mengkhawatirkan keadaannya". Irfan, merangkul pinggang istrinya. Badan besar, untuk apa mengkhawatirkan keadaannya. Semoga saja, masalahnya cepat beres. Pasti,dia menemui wanita itu. Sampai kapan,dia berpegangan pada janji. Irfan,juga mengetahui tentang wanita tersebut.
Melda,hanya diam dan melamun. Jacqueline, memperhatikan Melda dari tadi.
__ADS_1
"Melda, kepergian Frans hanya sebentar. Jangan mengkhawatirkan dia,apa lagi memikirkannya". Kekehnya Jacqueline,menggoda sahabatnya.
Melda, memutar bola matanya dengan malas. "Aku pergi dulu,ada janjian dengan Shasa". Pamit Melda, tersenyum dan meninggalkan ruang tamu.
"Ciyeeehhh.... Auntynya Jeno,lagi melow. Karena di tinggal sang pujaan hati". Sindir Sarah, langsing di senggol Jacqueline.
Takutnya Melda,malah mengambil hati dengan perkataan Sarah.
***********
Frans, sudah sampai di terminal kereta api. Tiket sudah ada di tangannya,dia menghela nafas panjang. Lalu, menaiki kereta api dan duduk di kursi.
Tuuutt.....Tuuuut...Tuuut..
Kereta api, berjalan dengan kecepatan tinggi. Melewati pepohonan dan rerumputan hijau. Frans, memejamkan matanya menikmati suasana perjalanan. Membutuhkan waktu empat jam, baru dia sampai. Entah, kenapa dia malah memilih kereta api. Di bandingkan,naik pesawat.
Frans, terbangun ada sesuatu yang bergerak di sampingnya.
" Tidak apa,". Jawab Frans, memejamkan matanya kembali. Sialan, membangunkanku. Apa tidak bisa, pelan-pelan saja. Tidak perlu, terlalu banyak gerak.
"Huuu... Leganya, sudah menemukan tempat duduk. Ngomong-ngomong,apa kita satu tujuan? Atau,pindah kereta lagi". Tanya wanita itu,dia mengetahui jika Frans belum tidur. Tidak apa kan,aku basa-basi langsung. Anggap saja,awal kenalan. Eeee,siapa tahu? Jodoh nantinya. Berharap,masih jomblo sih! Hehehehe....
"Yahh...Aku, ingin ke kota L". Jawab Frans,tanpa membuka matanya. Ck, menyebalkan sekali. Apa aku, harus menjawab pertanyaan itu.
"Oh, kenalkan namaku Rosella. Panggil saja Rose,aku seorang fotografer dan sering jalan-jalan kemana-mana". Rose, memperkenalkan dirinya sendiri. Astaga, pria ini benar-benar arogan dan berbadan besar. Sifatnya, tertutup dan dingin.
"Panggil saja, Frans". Ucap Frans,membuka matanya dan melihat senyum manis di sudut bibir wanita yang di sampingnya. Menyebalkan, tidak bisakah? Aku, mendapatkan ketenangan sekalipun.
"Hemmm...Apa, pekerjaan mu? Kita sama, dengan tujuan kan". Kekehnya Rose, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Seperti, susah untuk di dekati. Hemmm..Tidak apa,aku sangat menyukai tipe pria seperti ini. Jujur saja, sangat langka menemukannya.
__ADS_1
"Hanya pegawai kantoran,biasa saja". Jawab Frans, memalingkan wajahnya ke jendela. Mana mungkin,di membongkar siapa sebenarnya dia. Yang di takutnya adalah, wanita bisa menempel terus. Jika mengetahui,siapa sebenarnya dia.
"Apa,kamu pulang kampung? Atau,ada yang lainnya". Tanya Rose, mengigit bibir bawahnya. Gak papakan,aku kepala dikit. Hehehehe...Apa lagi,dia pria yang sangat tampan. Tubuhnya yang kekar, sial aku terpesona dengannya.
"Ya, pulang kampung". Jawab Frans,apa adanya. Wanita tersebut, merasa tidak nyaman dengan jawabannya. Terdengar sangat simple dan dingin.
Rose,hanya manggut-manggut dan dia mulai memejamkan matanya. Frans,merasa lega karena tidak ada pertanyaan aneh-aneh.
**********
"Kamu tahu, Frans perginya kemana?". Tanya Shasa, setelah mendengar cerita Melda. Kasian sekali Melda, cintanya bertepuk sebelah tangan. Walaupun,dia berusaha dan nekat juga.
Melda, menggeleng pelan kepalanya. "Bagaimana,kita ikuti dia. Anggap saja, liburan". Shasa, memberikan ide kepada temannya.
"Tidak ada yang,tahu. Kemana perginya, Frans? Sudahlah,aku berlahan-lahan melupakannya". Melda, tidak menyetujui dengan ide Shasa. Astaga, mengikuti dirinya kemana? Sama saja, mencari jarum di tumpukan jerami. Dia, benar-benar menghilangkan jejak.
"Besok,kamu sudah mulai masuk kerja. Tenang saja, temanku baik kok". Kekehnya Shasa, tersenyum kecil.
"Hemmm... Baiklah, makasih atas bantuannya". Melda,menghirup jus jeruk di tangannya. Syukurlah,aku mendapatkan pekerjaan dengan yang aku inginkan. Sekarang, tidak lagi berhadapan dengan berkas-berkas penting.
"Aneh,kerja di kantor gak mau. Malah jadi, resepsionis hotel". Gerutu Shasa, menggelengkan kepalanya.
"Huuuff...Kepalaku, hampir meledak tau. Setelah, melihat tumpukan berkas-berkas yang harus di selesaikan. Mana waktunya, mepet lagi. Lama-kelamaan,bisa ber uban akunya". Decak Melda,dia tidak sepandai Frans.
"Alahhhh... kamunya aja,gak mood. Memang sih, berkas-berkas menumpuk. Apa lagi,kepala nyut-nyutan memikirkannya. Sumpah,aku membayangkannya saja tidak mampu". Sahut Shasa, tersenyum smrik.
"Terus,kepalamu gak sakit apa? Di saat, mengerjakan pesanan orang. Apa lagi,kamu seorang desainer". Tanya Melda, penasaran.
"No! Karena hobi ku,malah menjadi kesenanganku". Jawab Shasa, dia beranjak berdiri. "Pamit dulu,ada janjian".
__ADS_1
Melda, mengangguk kepala. "Hati-hati,makasih atas infonya". Kedip matanya,ke arah Shasa.
Shasa, melambaikan tangan dan keluar dari kafe tersebut.