BALAS DENDAM TAK BERTEPI

BALAS DENDAM TAK BERTEPI
Kontraksi


__ADS_3

"Huuu....Huuu...". Jacqueline, terbangun dari tidurnya. "Perutku sakit, jangan-jangan mau melahirkan". Gumamnya,jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi.


V,masih pulas dalam tidurnya. Dengkuran halus, terdengar di telinga Jacqueline. Kakinya Berlahan-lahan turun, dari ranjang.


"Auuukkkk... Sssshhhttt, huuuff...Nanti dulu,bangunin Kak V. Kemungkinan,masih lama lahiran. Pastinya, menunggu pembukaan dulu". Jacqueline,berlahan menuju kamar mandi. Berpegangan pada dinding,tanpa meminta bantuan kepada suaminya.


Beberapa menit kemudian, Jacqueline keluar dari kamar mandi. Menuju ke tepi ranjang, sesekali kontraksi datang. Dia,hanya meringis tanpa bersuara. Takutnya, membangunkan V.


"Sayang,kamu bangun". Tanya V,dia terbangun karena pergerakan Jacqueline.


"Sshhhttt....Hemmm.." Jacqueline, menahan kontraksi datang lagi."Maaf,aku membangunkan mu sayang". Berusaha tersenyum, sambil menahan rasa sakit.


"Sayang, kamu kenapa? Apa, perutmu sakit". V, langsung bangkit dan mendekati istrinya. Terlihat jelas, keringat membasahi kening Jacqueline.


"Biasa, kontraksi biasa". Jawab Jacqueline, wajahnya menahan rasa sakit.


"Shuuttt....Kita, kerumah sakit yah. Kamu, kesakitan sayang. Aku, tidak tega melihat mu". V, mencium sekilas bibir istrinya.


"Tidak,masih kontraksi biasa. Masih lama,aku melahirkan. Pagi nanti saja,kasian membangunkan papah dan mamah. Aau...Huu... Sshhhttt...." Jacqueline, berusaha tersenyum agar V tidak mengkhawatirkan keadaannya.


"Yakin? Kamu, kesakitan sayang. Kita, kerumah sakit yah. Hanya berdua saja, biarkan mereka tidak tahu". V, membujuk istrinya untuk pergi.


"Hemmm... Baiklah,". Jacqueline, langsung menyetujui perkataan Suaminya.


V, mengangkat beberapa koper besar untuk di bawa ke rumah sakit. Semuanya, sudah di siapkan.


V,membawa koper ke bawah dan memasukkan ke dalam mobil. Tanpa, bantuan siapapun.


Setelahnya, barulah V membantu Jacqueline turun kebawah dan pergi dari mansion.


Kepergian mereka, tidak di ketahui oleh siapapun. Kecuali, penjaga gerbang mansion.


Orang-orang seisi mansion,masih tertidur pulas.


Sepanjang perjalanan, Jacqueline meringis kesakitan. Di kala, kontraksi datang lagi.


Tangannya, menggenggam erat tangan V. Di saat V, menyetir mobil dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


"Pelan-pelan saja, sayang". Ucap Jacqueline,dia mulai tenang lagi.


"Baiklah, kamu tahan yah. Sebentar lagi,kita sampai". V,merasa gelisah gusar karena keadaan istrinya kesakitan.


Sesampai di rumah sakit, dokter dan perawat langsung menyambut kedatangan mereka. Jacqueline,di bawa dan masuk ke dalam ruangan untuk di periksa.


V,hanya terdiam dan menunggu di luar. Dia, mondar-mandir tak karuan. Pikirannya,hanya tertuju kepada Jacqueline.


"Kita periksa, jangan tegang dan santai saja". Ucap dokter, Jacqueline hanya diam dan mengangguk.


Wajahnya, menahan rasa sakit. Di saat sang dokter, memeriksa bagian bawahnya. "Baru pembukaan lima,kita tunggu beberapa waktu lagi. lebih baik, Nona berjalan-jalan. Agar pembukaannya, cepat bertambah. Tenanglah, semuanya baik-baik saja". Dokter tersebut, tersenyum.


Jacqueline,menghela nafas lega mendengar ucapan dokter. Barulah,V masuk kedalam dan menemui istrinya.


"Yakin,mau lahiran normal sayang". Tanya V,dia tidak tega melihat wajah istrinya.


"Iya,aku tidak mau oprasi. Bawa aku, bergerak-gerak. Biar pembukaannya, cepat bertambah ". Jacqueline, tersenyum manis.


Niatnya untuk menghilangkan, khawatiran suaminya. V, membantu Jacqueline berjalan-jalan dan berkeliling ruangan tersebut.


sekitar pukul enam pagi, Jacqueline sudah pembukaan sembilan. Dia, semakin kesakitan dan tidak bisa berjalan lagi. V, berusaha menyemangati istrinya dan menyuapkan makanan ke mulut Jacqueline.


"Makan yang banyak, agar tenaga mu kuat Sayang". Pinta V, tersenyum manis. Akan tetapi, pikirannya tidak tenang. "Sebentar lagi, papah dan mamah datang. Aku, sudah menghubungi mereka. Tapi,mamah komat-kamit mantra-mantra memarahiku tadi". Kekehnya V, membuat Jacqueline cekikikan tertawa.


"Hemmm... Nanti,giliran aku di marahin mamah. Sebentar lagi, aku akan lahiran sayang. Kamu,bisa menggendong anak kita". Jacqueline, sangat bahagia. Detik-detik terakhir melahirkan,dia di temani oleh sang suami. Terimakasih,Tuhan. Kamu, memberikan suami yang selalu menemani ku di saat seperti ini.


Beberapa menit kemudian, Jacqueline tak bisa berkata apa-apa lagi. Sudah waktunya, melahirkan. Dia, langsung di bawa ke ruang bersalin.


"Huuuu....Huuuu... Huuuuu... Sshhhttt....Huuff...". Jacqueline, mengatur nafasnya. Sesuai,saran dari dokter. Matanya, terpejam menahan rasa sakit dan berusaha untuk tidak mengeluh.


V,juga masuk dan menemani Jacqueline. Untuk memberikan semangatnya. "Sabar sayang, sebentar lagi. Kamu,harus semangat demi anak kita. Aku, sangat mencintaimu Jacqueline. Sangat, mencintaimu". V, memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah istrinya.


Dokter dan perawat lainnya,merasa iri melihat keromantisan mereka. Dua pasangan yang sangat serasi, satunya tampan dan satunya cantik. Sudah pasti, kualitas anak mereka tidak di ragukan lagi.


"Sudah lah, tidak enak di lihat para jomblo". Kekehnya Jacqueline, menahan tawanya.


"Biarkan saja, sayang". V, malah mengecup bibir Jacqueline. Tanpa memperdulikan, tatapan orang-orang sekitar yang menangani istrinya.

__ADS_1


"Huuuu....Huuuu...". Jacqueline,meremas lengan V dengan kuat. Di saat kontraksi datang lagi. "Dok,huuuu...Aku,mau...huuuu...". Jacqueline, merasakan sesuatu yang ingin keluar.


"Baiklah, semuanya siap. Ikuti aba-aba saya, Nona". Ucap dokter,di angguki Jacqueline.


"Satu.....Dua...Tiga...Dorooong...".


"Aaaaaaakkkkh....Huuuu...Huuu...". Jacqueline, terhenti untuk mengejan. Dia, mengatur nafasnya lagi.


"Semangat sayang, Ayo sayang". Pinta V, mengelus-elus pucuk kepala Jacqueline.


Para perawat lainnya,merasa haru atas perhatian V. Mereka,juga ingin momen langka ini diperhatikan seperti itu.


"Aaaaaaakkkkhhh....". Jacqueline, sekuat tenaga mengejan ke sekian kalinya. Dia, harus bertenaga kuat demi sang buah.


"Oweekk.... Oweekk...Oweekk...". Suara tangis bayi,pecah.


"Selamat Tuan, anaknya laki-laki". Kata sang dokter, memberitahu jenis kelamin anak mereka.


Dokter, meletakkan bayi di atas perut Jacqueline. Hanya sementara, barulah mereka membawa dan membersihkan bayinya.


V, mengelus pipi gembul anak mereka. Air matanya, semakin deras meneteskannya. "Sangat tampan dan melebihi diriku,sayang". Kata V, ingin sekali mencubit pipi anaknya.


"Dia,akan menjadi sainganmu". Jacqueline, tersenyum dan merasakan teramat sangat bahagia saat ini.


Barulah sang dokter, permisi dulu dan mengambil anak mereka untuk di bersihkan. Keadaan Jacqueline,juga masih berantakan sekali.


"Anak kita laki-laki,sayang. Bukan perempuan". Kekehnya Jacqueline, mengelus pipi Suaminya dan mengecup sekilas di bibir V.


Akan tetapi,V malah menahan tengkuk leher Jacqueline. Hingga, mereka berciuman dengan mesra. Sontak membuat dokter dan perawat lainnya, ternganga dan mengalihkan pandangan mereka.


Tangis Jacqueline,pecah di pelukkan suaminya. Begitu juga V, dari tadi air matanya terus menetes. Dia, mencium istrinya tanpa henti-hentinya. Perjuangan untuk melahirkan,anak mereka. Sangat lah besar, beruntung Jacqueline bisa menahan diri.


Di luar ruangan, awalnya suasana sangat menegangkan. Pada akhirnya, terdengar suara tangis bayi. Barulah, mereka bernafas lega. Sarah, langsung memeluk suaminya dan menangis. Satu yang diinginkan olehnya, Sarah ingin cepat-cepat menemui menantunya itu. Begitu juga, Melda terharu atas perjuangan sahabatnya itu.


Irfan,tak henti-hentinya tersenyum dan hatinya seketika tenang. Tidak seperti tadi, kepikiran kemana-mana.


Frans, berusaha berekspresi biasa. Akan tetapi,hatinya sangat mengkhawatirkan keadaan istri dari bosnya itu.

__ADS_1


__ADS_2