
Sela yang mendengar nama suaminya di sebut langsung membalik tubuhnya dan mendekat ke arah Hendri kembali. Membuat Hendri langsung tersenyum senang.
"Ada apa dengan mas Harza?" tanya Sela penasaran dan Hendri langsung tersenyum sambil meraih tangan Sela tapi Sela langsung menampik tangan Hendri.
"Jangan kurang ajar Mas. Aku adikmu dan kita punya batasan,"
"Iya maaf. Aku tidak bermaksud…"
"Cukup mas. Katakan saja ada apa dengan mas Harza?" tanya Sela memotong perkataan Hendri.
"Aku akan mengatakan kamu duduklah dulu. Tidak enak banyak orang yang melihat kita," ucap Hendri membuat Sela langsung mengikuti Hendri dan duduk tepat di hadapan Hendri karena benar apa yang dikatakan oleh kakak iparnya tersebut banyak pasang mata yang berada di kafe tersebut sedang menatap ke arahnya. "Nah begini kan lebih enak dipandang,"
"Cepat katakan ada apa dengan mas Harza,"
"Sabar dulu dong. Aku ingin menikmati cake ini pastinya rasanya manis semanis wanita yang berada di hadapanku," ucap Hendri dan langsung menikmati cake yang berada di hadapannya dengan santai sambil menatap Sela dengan intens, membuat Sela langsung memalingkan wajahnya begitu jengah dengan kakak iparnya tersebut.
"Apa yang tadi Risa katakan kepadamu?"
__ADS_1
"Tidak ada," jawab Sela ketus sambil terus memalingkan wajahnya.
"Tidak mungkin dia tidak mengatakan apa pun padamu. Kamu begitu dekat dengan Risa,"
"Terserah kalau Mas Hendri tidak percaya,"
"Sebenarnya aku ingin menceraikan Risa. Bagaimana pendapatmu?"
"Apa?" tanya Sela balik dan langsung menatap ke arah Hendri. "Apa Mas Hendri sedang bercanda?"
"Tidak, aku sudah bosan dengan Risa," jelas Hendri membuat Sela langsung menggelengkan kepalanya tidak percaya pada apa yang telah dikatakan oleh kakak iparnya tersebut.
"Aku rasa tulang rusukku bukan Risa melainkan kamu Sel. Karena aku mencintaimu dan juga menyayangimu," ucap Hendri membuat Sela langsung beranjak dari duduknya.
"Mas Hendri silahkan keluar dari toko kueku!"
"Kenapa? Aku mengatakan yang sebenarnya Sela,"
__ADS_1
"Pergi sekarang juga!" Perintah Sela dengan nada tinggi membuat semua orang yang berada di kafe miliknya langsung menatap ke arah Sela.
"Tidak akan. Sebelum aku mendengar kamu mengatakan iya Mas Hendri aku tulang rusukmu,"
Plak
Sela langsung menampar pipi Hendri dengan kencang dan Hendri hanya tersenyum sambil menatap Sela.
"Ini tidak seberapa untukku Sela. Di banding dengan dirimu saat nanti kamu tahu apa yang sedang dilakukan oleh Harza di belakangmu. Kamu tidak tahu bukan, kalau Harza tidak sedang keluar kota," ucap Hendri membuat Sela langsung menatap Hendri sambil mengerutkan keningnya.
"Aku tahu yang dikatakan mas Hendri hanyalah kebohongan belaka karena mas Hendri ingin memisahkan aku dan juga Mas Harza. Tapi maaf Mas, aku tidak akan pernah percaya pada apa pun yang akan Mas Hendri katakan. Aku lebih percaya pada suamiku sendiri dari pada Mas Hendri. Jadi tolong Mas Hendri keluarlah dari toko kueku sekarang juga,"
"Baik kalau kamu tidak percaya lihatlah foto ini," ucap Hendri sambil menunjukkan foto Harza bersama dengan seorang wanita di dalam ponselnya ke arah Sela. Membuat Sela langsung tersenyum.
"Mas Hendri. Mas Hendri, bukti apa pun yang akan Mas Hendri tunjukkan, aku tidak akan pernah percaya. Apa lagi hanya sebuah foto seperti itu. Yang siapapun bisa mengedit nya termasuk orang awam,"
"Sela kenapa kamu tidak percaya padaku. Harza tidak sebaik apa yang kamu kira,"
__ADS_1
"Apa bedanya dengan Mas Hendri," ucap Sela yang langsung menuju ruang kerjanya dan meninggalkan Hendri yang terus menatap punggung Sela sambil tersenyum.
Bersambung............