BALAS DENDAM Terindah

BALAS DENDAM Terindah
07 Ide


__ADS_3

Jam menunjukan pukul lima pagi saat Sela membuka matanya dengan enggan, pasalnya semalam Sela baru memejamkan matanya saat jam dinding menunjukan pukul tiga pagi. Karena Sela begitu cemas dengan keadaan sang suami yang tidak sama sekali memberi kabar pada dirinya.


Kemudian Sela langsung menyambar ponsel miliknya yang berada di atas tempat tidur tidak jauh dari dirinya. Sela terus mencoba menghubungi sang suami tapi tetap saja tidak bisa, apalagi sekarang ponselnya dimatikan oleh Harza. 


"Lebih baik aku pergi ke rumah papa dan juga mama," ujar Sela yang langsung beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. 


*


*


*


Sementara itu dua anak manusia sedang menikmati sisa-sisa paginya dengan memupuk dosa di bawah selimut yang sama. Tanpa menyadari ada satu wanita yang sedang menanti kabar dari sang pria yang sekarang sudah menjatuhkan diri di samping sang wanita dengan nafas tersenggal setelah menikmati kenikmatan sesaat di dunia yang fana ini. 


"Mas Harza kita mandi bareng yuk ini sudah siang," ucap Rani yang masih berada di pelukan Harza di bawah selimut yang sama tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuh keduanya. 


"Ran kamu saja dulu. Aku masih lelah biarkan aku tidur sebentar lagi,"


"Baiklah mas. Mas Harza ingin aku masakin apa?"


"Apa saja yang penting tangan kamu ini yang memasaknya," ujar Harza sambil mencium punggung tangan Rani. 


"Siap," sambung Rani sambil tersenyum dan langsung beranjak dari tempat tidurnya setelah mencium bibir Harza. 


"Selamat pagi Bu," sapa Rani pada ibu-ibu yang sedang memilah sayuran di penjual sayur tidak jauh dari rumah Rani. 


"Pagi," 


"Selamat pagi,"


"Pagi neng Rani," sahut ibu-ibu tersebut bergantian. 

__ADS_1


"Oh iya neng Rani. Mobil yang terparkir di halaman rumah neng Rani itu mobil siapa?" tanya ibu A penasaran. 


"Oh itu. Itu mobil suami saya Bu," jawab Rani sambil tersenyum. 


"Oh si Harza? Kenapa mobilnya berbeda?" tanya ibu B pasalnya seluruh penghuni komplek tersebut memang sudah tahu sejak awal keduanya menghuni perumahan tersebut Harza maupun Rani mengaku sudah menikah. 


"Itu mobil aku Bu yang baru saja mas Harza belikan,"


"Wow keren ih. Kapan ya bu A suami kita kaya suami neng Rani. Udah genteng perhatian dan apa pun yang kita mau pasti di kasih," ujar ibu B membuat Rani langsung tersenyum. 


"Kalau aku sih ogah. Percuma kalau apa pun yang kita minta dituruti. Tapi suami jarang pulang. Siapa tahu dia ada main sama pelakor di luar sana," sambung ibu C sambil memilah sayuran yang berada di hadapannya. "Kalian tahu kan. Banyak diluar sana suami yang begitu. Yang jadi korban siapa? Kita kaum perempuan. Makanya tuh neng Rani kalau aku jadi neng Rani tuh. Aku akan ikut kemana suami neng Rani pergi. Untuk menjaga suami kita,"


"Betul juga tuh apa yang dikatakan ibu C," sambung ibu A yang langsung dibenarkan oleh ibu B.


Dan Rani yang mendengar perkataan ibu-ibu tersebut langsung membayar belanjaannya lalu pulang setelah berpamitan dengan ibu-ibu tersebut. 


Harza yang sudah bangun dari tidurnya langsung menatap Rani yang baru masuk ke dalam rumah dengan wajah sedihnya.


"Aku ingin Mas Harza tinggal bersamaku selamanya mulai sekarang,"


"Tidak bisa begitu dong. Bagaimana dengan Sela,"


"Sekarang Mas Harza pilih aku atau Sela?" tanya Rani dan Harza langsung membawa Rani ke dalam pelukannya. 


"Jelas saja kamu,"


"Kalau begitu ceraikan Sela,"


"Tidak semudah itu. Aku tidak bisa menceraikan Sela tanpa alasan dan sebab. Yang ada aku tidak akan dapat harta sepeserpun dari papa. Kamu tahu sendiri papa sangat menyayangi Sela,"


"Terus?"

__ADS_1


"Aku punya ide," jawab Harza yang langsung membisikan sesuatu di telinga Rani. 


*


*


*


"Selamat pagi Mama, Papa," ucap Sela menyapa wanita dan pria paruh baya yang sedang duduk menikmati secangkir teh tepat di teras rumahnya sambil menatap taman yang terdapat di sisi kanan dan kiri rumah mewah tersebut. 


"Pagi," sahut pria paruh baya dengan tersenyum senang tapi tidak dengan wanita paruh baya yang melihat kedatangan Sela dengan tidak suka. 


"Aku membawakan cake kesukaan mama dan papa. Dan ini aku yang membuatkan langsung untuk kalian," ujar Sela sambil menaruh paper bag berisi cake apple cinnamon di atas meja. 


"Terima kasih sayang. Duduklah disini dengan papa," Perintah pria paruh baya sambil menepuk kursi di sampingnya, dan Sela pun langsung duduk. 


"Kemana Harza?" tanya ketus sang mama mertua. 


"Harza sedang ke Surabaya Ma," Dan senyum manis menghiasi kedua sudut bibirnya menjawab pertanyaan mama mertuanya.


"Untuk apa sayang?" tanya sang papa mertua penasaran. 


"Katanya untuk menemui klien karena ada proyek baru disana,"


"Sejak kapan? Kenapa papa tidak diberi tahu?"


"Dua hari lalu pa," 


"Tapi setahu papa perusahaan papah tidak ada proyek baru di sana papa tahu persis itu," jelas sang papa mertua membuat Sela langsung terkejut dengan pernyataan papa mertuanya. 


Bersambung...........

__ADS_1


__ADS_2