BALAS DENDAM Terindah

BALAS DENDAM Terindah
87. Tuan Lima Ratus Juta


__ADS_3

Air mata terus membasahi pipi Sela, saat dirinya baru mengetahui rahasia besar dalam hidupnya, jika papa Bagas yang selama ini di panggil papa dan seorang papa yang sangat mencintai nya dan menyayanginya, bukanlah papa kandungnya, papa kandungnya adalah papa Dery, yang sama sekali Sela tidak mengenalnya.


Sela yang sedang duduk di tengah-tengah makam mama dan juga papanya, langsung menghapus air matanya, lalu Sela mencium batu nisan keduanya bergantian.


"Papa adalah papa yang terbaik untukku, sampai kapan pun papa adalah papaku, tidak akan ada yang bisa menggantikan papa," ujar Sela dan terus menciumi nisan papanya.


Lalu Sela beralih menciumi nisan mamanya, mama yang bisa menyimpan rahasia besar atas kehidupan pahit yang pernah dialaminya.


"Mama adalah mama terbaik, aku tidak akan pernah malu setelah aku tahu siapa aku, anak yang lahir dari korban pelecehan, karena aku memiliki mama yang kuat, tegar dan tangguh seperti mama, I love you ma, pa,"


Sela lalu merangkul ke dua batu nisan ke dua orang tuanya dan menciumnya bergantian.


Kai yang sedari tadi berdiri di samping Sela, menepuk bahu Sela, kemudian berjongkok di sampingnya.


"Apa kamu sudah lega?" tanya Kai tapi tidak di jawab oleh Sela yang langsung menyandarkan kepalanya di bahu Kai.


"Apa kamu akan tetap menikahi ku setelah kamu tahu siapa aku, anak dari korban–


Kai menaruh jari telunjuk nya tepat di bibir Sela agar tidak meneruskan ucapannya lagi.


"Aku tidak peduli, aku mencintaimu, meskipun kamu lahir di got, aku tetap akan menikah denganmu," ujar Kai agar Sela tidak bersedih kembali.


Mendengar perkataan Kai, Sela kemudian menghapus sisa-sisa air matanya lalu menoleh ke arah kai, dan mencubit lengannya dengan kencang.


"Ach sakit Sela sayang,"


"Lihatlah ma, calon menantu mama ini kurang ajar sekali, masa aku di bilang lahir di got,"


"Itu kan perumpamaan sayang,"


"Sayang?" tanya Sela sambil memicingkan matanya menatap ke arah Kai.


"Iya sayangku, dan jangan protes, sekarang ayo pulang,"


Kai pun langsung membantu Sela untuk beranjak dari tempatnya, lalu memeluk bahunya meninggalkan pemakaman.


"Kenapa harus sayang?" tanya Sela saat keduanya sudah keluar dari pemakaman dan menuju di mana mobil Kai terparkir.

__ADS_1


"Enak saja kedengarannya, coba kamu panggil aku dengan sebutan sayang,"


"Tidak mau, aku mau memanggilmu tuan lima ratus juta,"


"Apa kamu meledekku?" tanya Kai mengingat kembali awal mula keduanya bertemu.


"Iya,"


"Hari pernikahan kita berapa hari lagi?"


"Kenapa memangnya?"


"Kamu sekarang berani meledekku, dan aku akan memberi hukuman nya nanti setelah kita sudah resmi menikah, tunggu saja pembalasanku,"


"Aku tidak takut," ujar Sela lalu masuk ke dalam mobil, membuat Kai langsung tersenyum.


*


*


*


"Apa aku boleh masuk?"


"Silakan," Risa mempersilahkan Anton untuk masuk ke dalam rumah, mengingat kembali jika Anton adalah kakak kandung Sela meskipun keduanya berbeda ibu.


"Ach," Risa yang akan melangkah kan kakinya berhenti sejenak saat merasakan sakit di pergelangan kakinya, yang terlihat membiru karena Harza mengikatnya dengan kencang.


Dan Anton pun langsung menghentikan langkahnya lalu mendekati Risa.


"Ada apa?"


"Tidak, hanya saja kakiku sakit,"


Anton langsung menatap kaki Risa yang terluka, kemudian memegang bahu Risa untuk memapahnya masuk kedalam rumah.


"Non Risa ada apa?" tanya mbok Ijah saat Risa sudah berada di dalam rumah.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa mbok, di mana Nana?"


"Ada di ruang keluarga sedang bermain,"


"Oh iya mbok, bisa minta tolong ambilnya kotak p3k, dan air hangat beserta handuk kecil,"


"Baik non," dan mbok Ijah langsung mengambil apa yang di minta Risa.


Anton mendudukkan pelan Risa di sofa ruang kelurga, saat Risa ingin menemui putrinya.


"Mamma," Nana yang baru bisa berjalan dan berbicara menghampiri Risa.


"Anak mama sayang," Risa langsung mengangkat Nana dan memangku nya, dan tak lupa menciumi wajah putri kecilnya tersebut.


"Apa ini putrimu?" tanya Anton pura-pura tidak tahu padahal dirinya sudah mengetahuinya.


"Iya," jawab Risa singkat lalu meraih kotak p3k dan tempat air hangat yang mbok Ijah bawakan. "Terima kasih mbok, tolong buatkan minum,"


"Baik non," dan mbok Ijah dengan segera menuju ke arah dapur.


Selepas kepergian mbok Ijah, Anton langsung meraih handuk kecil yang ada di tangan Risa, yang akan mengompres kakinya sendiri.


"Biarkan aku yang mengompres kakimu,"


"Tapi–


"Kasihan putrimu yang ingin bermain denganmu," Anton memotong perkataan Risa, dan langsung berjongkok di hadapan Risa lalu mengangkat kakinya dan mengompres nya.


"Terima kasih," ujar Risa yang masih memangku Nana, tapi tidak ada jawaban dari Anton yang sekarang beralih mengompres sebelah kakinya.


Mbok Ijah menuju pintu saat ada yang menekan bel rumah.


"Tuan," ucap mbok Ijah saat Bima yang sudah berdiri di depan pintu.


"Mbok apa Risa sudah berada di rumah?"


"Sudah dan–

__ADS_1


Mbok Ijah tidak meneruskan ucapannya, karena Bima langsung masuk kedalam rumah.


Bersambung............


__ADS_2