
Tidak terasa waktu begitu cepat bagi Sela, saat Kai memutuskan untuk kembali ke perusahaannya setelah hampir Satu jam lebih keduanya bercengkrama seperti keduanya sudah mengenal lama.
Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Sela, saat Kai mengatakan padanya, jika untuk dua minggu lebih, dirinya tidak akan bertemu Kai, saat Kai akan pergi mengurus perusahaannya yang ada di luar negeri.
"Mbak Sela,"
Ria duduk di kursi tempat Kai sebelumnya duduk.
"Sepertinya, Mbak Sela dekat sekali dengan dia, memang siapa dia Mbak?"
"Teman,"
"Apa Mas Harza, mengijinkan Mbak Sela memiliki teman pria?"
Mendengar perkataan Ria, Sela menatap karyawannya tersebut, yang menjadi salah satu teman bicaranya saat berada di toko.
"Tidak,"
"Tapi kenapa Mbak Sela, terlihat dekat dengan pria tadi,"
"Masa sih, itu perasaan kamu saja mungkin," ujar Sela menutupi apa yang sebenarnya terjadi, meskipun keduanya dekat, tapi Sela tidak pernah membicarakan hal pribadi pada Ria.
Lalu Sela beranjak dari duduknya meninggalkan Ria yang sedang membersihkan meja.
Langkah Sela terhenti, lalu menautkan ke dua alisnya menatap seseorang yang tidak asing baginya yang baru saja masuk ke dalam toko kuenya, yang juga sedang menatap Sela.
Dan senyum terukir dari kedua sudut bibir Sela, saat seseorang tersebut berjalan mendekat ke arahnya.
"Sela,"
"Bima, kamu kah itu?"
Dan pria yang sekarang sudah berada di hadapan Sela, mengulurkan tangannya meraih tangan Sela untuk bersalaman.
"Perkenalkan aku Nick Bat–
__ADS_1
"Nick Bateman, ngimpi. Ya ampun Bima sudah dua tahun lebih aku tidak melihat kamu, dan sekarang kamu–
"Seperti Nick Bateman, jelas saja dia kan saudara kembar ku," sambung Bima.
"Kamu tidak berubah dari dulu, suka bercanda,"
"Tentu saja, untuk membuat temanku kanebo ini bisa tersenyum,"
"Tapi kamu tetap saja menyebalkan,"
"Ha ha ha, itu kenyataannya, Oh ya ngomong-ngomong kamu tidak mempersilahkan aku duduk?"
"Oh iya maaf,"
Layaknya teman yang sudah lama tidak berjumpa, Bima dan Sela mengenang kembali masa-masa saat keduanya masih duduk di bangku kuliah, dan di akhiri dengan tawa dari bibir keduanya.
"Jadi selama dua tahun ini kamu tidak ada kabar, karena kamu bekerja di luar negeri?" tanya Sela, saat sebelumnya Bima menceritakan jika dirinya bekerja di luar negeri.
"Ya begitulah, makanya aku terlihat seperti Nick Bateman kan?"
"Ha ha ha, bisa aja kanebo kering,"
"Kurang ajar,"
"Oh iya ngomong-ngomong gimana kabar suami kamu, siapa namanya aku lupa,"
"Mas Harza,"
"Oh iya itu,"
"Kami baik-baik saja, dan kami sangat bahagia,"
"Ya elah, kirain kalian tidak baik-baik saja biar aku bisa jadi penggantinya,"
"Teman macam apa, harusnya mendoakan yang baik ini malah,"
__ADS_1
"Lagian dulu dia merebut kamu dari aku,"
"Jangan mengada ada," ujar Sela sambil memukul lengan Bima, teman yang suka sekali bercanda dan selalu menghiburnya dulu. "Oh iya kamu tahu aku ada di sini dari mana?"
"Memangnya kamu ada di mana lagi kalau bukan ada di toko peninggalan kedua orang tuamu, pergi ke supermarket besar saja kamu nyasar,"
"Sialan, itu dulu," dan keduanya kembali tertawa, mengenang keseruannya di masa lalu. Hingga terdengar suara deheman tidak jauh dari belakang Sela.
Dan Sela menghentikan tawanya dan membalik tubuhnya saat dirinya tahu suara siapa itu.
"Mas Harza,"
Tanpa menanggapi perkataan sang istri, Harza meraih tangannya dan menariknya dengan kasar keluar dari toko kuenya. Bima yang mendapati pemandangan tersebut yang dianggapnya sangat kasar, beranjak dari duduknya dan mengikuti keduanya dari belakang, tapi Bima menghentikan langkahnya saat ponsel miliknya yang berada di dalam kantong berdering.
"Siapa dia?"
"Dia Bima Mas, sahabatku, apa Mas Harza lupa, saat di acara resepsi pernikahan kita, dia menyanyikan lagu balonku,"
"Hanya itu, tidak ada yang lain?"
"Apa maksud Mas Harza?"
"Aku tidak suka ada pria lain dekat denganmu, siapa pun itu,"
"Atas dasar apa kamu melarang ku Harza, kamu sendiri bisa sepuasnya bermain dengan wanita mu," Batin Sela dan masuk ke dalam mobil Harza, saat sang suami menyuruhnya untuk masuk untuk mengajaknya makan siang.
"Sekali lagi aku ingatkan padamu, jangan pernah dekat dengan pria lain!"
"Oke Mas Harza sayang, tapi kalau dekat dengan Mas Hendri boleh kan? Dia kan kakak ipar ku, dan dia juga bukan pria lain,"
Mendengar perkataan istrinya, Harza yang sedang fokus mengemudi langsung menginjak pedal rem, untuk menghentikan laju mobilnya lalu menatap sang istri.
"Termasuk Hendri, mengerti!"
"Tidak, karena Hendri sudah ada, dalam rencana ku," gumam Sela dengan senyum dari kedua sudut bibirnya dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Bersambung..................