
Sela yang sudah sampai di kediaman papa Doni untuk makan siang, saat sang papa mertuanya menyuruh Harza menjemput nya, melangkahkan kakinya menuju ruang makan ketika semuanya sudah menunggunya.
"Maaf aku terlambat," ucap Sela lalu memberi salam pada papa Doni dan juga mama Nisa yang menatapnya tidak suka.
"Hari ini Mama terlihat begitu cantik," perkataan yang terdengar memuji bagi siapa saja yang mendengarnya, saat Sela mengatakannya dengan begitu lembut, membuat mama Nisa melambung tinggi ke awan. "Sebelas dua belas lah seperti nenek lampir," Batin Sela lalu tersenyum dan menarik kursi yang ada di samping mama Nisa dan duduk berhadapan dengan sang suami, kemudian melempar senyum pada Hendri yang sudah duduk di samping sang suami.
Harza menatap Hendri dan juga Sela bergantian dengan mimik wajah yang tidak suka saat keduanya saling melempar senyum.
"Adik, bagaimana dengan usul aku tadi pagi?" tanya Hendri berbisik pada Harza yang duduk di sampingnya, tapi tidak mendapat tanggapan dari Harza.
"Baiklah karena kalian semua sudah berkumpul, ada yang ingin papa sampaikan pada kalian," ucap papa Doni sebelum memulai makan siang. "Papa harap tidak ada masalah seperti tempo hari, dan papa ingin keluarga kita selamanya seperti ini,"
"Hanya itu Pa?"
Papa Doni menautkan kedua alisnya mendengar pertanyaan Putra bungsunya tersebut.
"Apa maksud kamu nak?"
__ADS_1
"tidak ada maksud apa-apa Pa, aku masih ada rapat setengah jam lagi, dengan salah satu perusahaan terbesar yang akan menaruh saham di perusahaan kita, bisa di percepat tidak makan siangnya?"
"Papa tahu kesibukan kamu nak, baiklah kita mulai makan siangnya," ujar papa Doni.
Setelah menyelesaikan makan siangnya Harza terburu buru meninggalkan rumah dan meninggalkan Sela. Tapi Sela tidak peduli, saat dirinya yakin Harza berbohong dan sebenarnya ingin menemui wanita yang bernama Rani.
"Pergilah adik tercintaku yang bodoh, berikan kakakmu ini kesempatan untuk dekat dengan istrimu yang begitu sempurna," gumam Harza sambil menatap Sela yang sedang merapikan meja makan.
Mama Nisa meninggalkan suami dan juga Hendri yang berada di ruang tamu setelah semuanya selesai makan siang, dan berjalan menghampiri Sela dan juga Risa istri dari Hendri yang sedang berbincang bincang di ruang tengah.
Sela menggenggam tangan Risa, saat Risa ingin beranjak dari duduknya.
"Apa Mama ingin memiliki menantu lagi?" tanya Sela, entah keberanian dari mana dirinya bisa bertanya pada mama Nisa seperti itu, pasalnya selama ini, dirinya hanya diam saja dengan apa pun yang Mama Nisa katakan padanya, dan tidak pernah membalas sepatah kata pun perkataan ibu mertuanya tersebut.
"Wow, apa aku tidak salah dengar dengan pertanyaan kamu mandul,"
Mandul, satu kata yang selalu di ucapkan mama mertuanya yang membuat Sela menjadi wanita yang tidak ada gunanya.
__ADS_1
Sela beranjak dari duduknya, lalu menghampiri mama Nisa kemudian duduk di sampingnya.
"Mama sayang, Mama boleh mencari perempuan yang tidak mandul seperti diriku untuk dijadikan menantu Mama, aku tidak mempersalahkan itu, Mama juga boleh mencari menantu yang sempurna pengganti kakak ipar Risa, untuk kedua anak Mama, tapi–
Sela menghentikan perkataannya, lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Mama mertuanya.
"Tapi jangan harap papa Doni akan memberikan hartanya kepada kedua putra Mama, ingat itu baik-baik Mama Nisa sayang,"
Setelah berbisik Sela beranjak dari tempatnya, lalu meraih tangan Risa dan meninggalkan mana Nisa yang begitu terkejut dengan perkataan menantunya tersebut, memang benar apa yang di katakan Sela, jika papa Doni, sudah pernah mengatakan tidak ada satu pun putranya yang akan mendapatkan harta warisan jika kedua putranya mengkhianati istrinya masing-masing.
"Punya nyali juga menantu mandul, tapi aku punya cara untuk menyingkirkan kalian, kalian tunggu saja permainanku," gumam Mama Nisa sambil menatap punggung kedua menantunya tersebut.
*
*
Bersambung.................
__ADS_1