BALAS DENDAM Terindah

BALAS DENDAM Terindah
95. Sama Saja


__ADS_3

Seminggu berlalu semua kehidupan berjalan dengan normal siang berganti malam dan juga sebaliknya, tapi ada satu pasangan yang tidak normal siapa lagi kalau bukan Sela dan juga Kai, pengantin baru yang baru merasakan surga dunia, khususnya sih hanya Kai yang baru merasakan surga dunia yang sesungguhnya, yang membuat orang-orang terdekatnya hanya bisa tepuk jidat, terkhusus mama Leni yang tinggal serumah dengan keduanya.


Mata wanita paruh baya yang tak lain dan tak bukan mama Leni, tertuju ke arah jam dinding yang ada di ruang makan, saat dirinya sudah hampir sepuluh kali kembali ke ruang makan.


"Nyonya sarapan saja dulu, ini sudah melewati jam sarapan," ujar salah dari asisten rumah tangga mama Leni. "Pasti Tuan Kai dan istrinya nanti sarapan di dalam kamar seperti biasanya,"


"Tapi aku juga ingin sarapan bersama dengan mereka, sudah satu minggu loh mereka tinggal di sini, tap–


"Nyonya tidak tahu pengantin baru saja,"


Dan hembusan kasar keluar dari bibir mama Leni, yang langsung menarik kursi untuk duduk dan menikmati sarapan, entah apa masih di namakan sarapan, saat jam dinding di ruang makan sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Dan hampir seminggu ini mama Leni telat makan karena menunggu Sela dan juga Kai yang tidak pernah keluar kamar untuk sarapan bersama.


"Selamat pagi mama sayang," sapa Kai dengan senyum yang terus mengembang dari ke dua sudut bibirnya, saat dirinya baru turun dari kamar dan langsung menghampiri mama Leni yang sudah menghabiskan makanan yang ada di hadapannya.


Mama Leni tidak merespon perkataan sang putra, karena matanya tertuju pada jubah mandi yang masih melekat di tubuh Kai tentunya dengan rambut yang masih basah.


"Kai kenapa kamu tidak mengeringkan rambutmu dulu sih? Dan sejak kapan siang hari kamu sebut dengan pagi?"


"Oh ya, aku kira masih pagi ma, dan untuk rambutku ini aku tidak sempat mengeringkan dulu Ma," ujar Kai sambil meminum jus yang ada di meja makan.


"Ish dasar anak mama, mentang-mentang sudah tidak pernah mimpi basah lagi,"


"Karena sudah ada yang aku basahin Ma,"


"Dasar!"

__ADS_1


"Ma! Sakit!" teriak Kai saat mama Leni mencubit lengannya.


"Di mana menantu mama?"


"Ada di kamar, dia harus banyak istirahat ma,"


"Kai kasihani istrimu lah, masa setiap malam kamu gempur terus," ujar mama Leni tahu jika putranya tersebut selama seminggu ini tidak mengijinkan Sela keluar kamar, dan saat mama Leni datang ke kamar, pasti sepanjang siang Sela tertidur lelap karena kelelahan.


"Tidak apa ma, besok aku sudah di sibukkan dengan urusan kantor jadi sekarang aku puas puasin bersama dengan istriku,"


"Terserah, awas saja kalau sampai terjadi sesuatu pada Sela,"


"Paling bunting Ma,"


"Tidak ma, aku mau bulan mau di kamar saja,"


"Itu namanya bukan bulan madu,"


"Sama saja ma, intinya kan hanya sodok menyodok,"


Mendengar perkataan putranya mama Leni langsung mengerutkan keningnya.


"Bahasa apa itu?"


"Gaul ma, aku tinggal dulu ya ma, kita butuh tenaga untuk melanjutkan olahraga siang," ujar Kai sambil membawa nampan yang berisi makanan menuju kamarnya, membuat mama Leni hanya bisa menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Kai yang baru masuk ke dalam kamar langsung mengerutkan keningnya melihat Sela sudah terlelap di atas tempat tidur, lalu Kai menaruh nampan yang ada di tangannya ke atas meja nakas, dan menghampiri sang istri.


"Sayang makan dulu,"


"Aku hanya butuh tidur Kai, aku sangat lelah," sambung Sela dengan mata yang sudah terpejam.


"Iya aku tahu sayang, tapi sekarang makan dulu,"


Tapi Sela tidak menjawab lagi, dan Kai langsung mencubit pipi Sela, lalu menautkan alisnya saat pipi Sela terasa hangat, dan beralih memegang keningnya.


"Mama!!!" teriak Kai memanggil mama Leni, saat mendapati Sela demam.


*


*


*


Rumah sakit.


"Terima kasih, aku kira kamu akan benar-benar melupakan aku,"


"Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah melupakanmu, maafkan aku yang sempat mengacuhkan kamu, hatiku terasa sakit saat tidak bersama kamu Mas,"


Bersambung................

__ADS_1


__ADS_2