
Sela yang sudah menghampiri Rani dan duduk di pinggiran ranjang perawatannya, langsung menggenggam tangan Rani yang masih terbaring di atas ranjang.
"Selamat atas kelahiran putrimu,"
"Terima kasih," ujar Rani dengan air mata yang tiba-tiba jatuh dari pelupuk matanya, merasakan betapa malang nasibnya, melahirkan tanpa adanya seorang suami di sampingnya. Lalu Sela menghapus air mata yang keluar dari sudut pelupuk mata Rani yang sedang terbaring tersebut.
"Tidak ada yang perlu di tangisi ini sudah takdir, lihatlah putrimu sangat cantik seperti kamu," Sela terus mengukir senyum dari kedua sudut bibirnya untuk menguatkan saudaranya tersebut, tahu apa yang sedang dipikirkannya.
"Bagaimana nanti aku memberi tahu putriku di mana ayahnya, dan bagaimana nanti jika dia tahu, betapa bejatnya ayah dan ibunya,"
Sela mengeratkan genggaman tangannya. "Itu masa lalu, aku sudah pernah bilang jangan pernah mengingat masa lalu, oke, dan tenang saja selama Harza masih di tahanan, ada kak Anton yang akan menjadi ayah yang baik untuk putrimu,"
"Betul yang dikatakan Sela, aku akan selalu ada untuk kalian, dan aku yang akan memastikan kebahagian kalian semua," sambung Anton dan langsung menggenggam erat kedua tangan adiknya tersebut.
"Terima kasih,"
"Terima kasih kak," ucap Rani dan juga Sela bergantian, dan Anton langsung mencium kening kedua adiknya bergantian.
*
*
__ADS_1
*
Tidak terasa sudah satu tahun Kai dan juga Sela menjalani kehidupan rumah tangga, tentu saja setiap kehidupan rumah tangga tidak selalu berjalan dengan mulus, begitu pun dengan kehidupan rumah tangga Sela dan Kai, seperti hari ini Sela tidak mengerti dengan sikap suaminya yang begitu dingin terhadapnya, hanya karena dirinya salah mengambil warna kaos kaki yang akan digunakan Kai ke kantor.
"Kai ma–
"Diamlah, aku tidak ingin mendengar apa pun alasanmu," Kai yang sudah rapi dengan setelan kerja dengan terburu buru keluar dari kamar meninggalkan Sela, tanpa berpamitan dan tanpa mencium kening dan juga bibirnya, yang selama ini tidak pernah terlewat meskipun keduanya sedang bertengkar, dan ini pertama kalinya Kai tidak melakukannya.
Sela yang benar-benar tidak mengerti kenapa suaminya berubah, segera menyusul Kai, dan turun dari kamarnya menuju ruang makan, namun Sela langsung mengerutkan kuningnya, saat di ruang makan tidak menemukan suaminya, yang ada hanyalah mama Leni yang mengukir senyum dari ke dua sudut bibirnya untuk menyambut menantu yang paling di sayangi nya.
"Sayang kenapa Kai menolak sarapan, apa hari ini dia ada rapat?"
"Kai tidak sarapan?" tanya Sela balik tanpa menjawab pertanyaan mama mertuanya, membuat Sela terus bertanya tanya, ada apa dengan suaminya tersebut. Karena selama ini Kai tidak pernah melewatkan sarapan yang di buatnya.
"Tidak ma, hanya saja aku heran kenapa hari ini Kai berubah,"
Mama Leni menaruh sendok yang berada di tangannya lalu menatap wajah menantunya yang terlihat murung, saat Sela sudah duduk di kursi meja makan.
"Apa kalian sedang bertengkar?" mendengar pertanyaan mama Leni Sela langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya salah mengambil kaos kaki ma,"
__ADS_1
"Hanya itu?"
"Iya ma,"
"Ya ampun ada apa dengan anak itu, ya sudah kamu siapkan sarapan dan antar ke kantor, siapa tahu dia hanya butuh perhatian lebih dari kamu,"
"Kurang perhatian apa sih ma, mama tahu sendiri anak mama,"
"Iya juga ya, tapi siapa tahu, karena kamu kemarin tidak mengantar makan siang jadi dia ngambek, benar-benar anak itu,"
Sela mengingat lagi, benar apa yang dikatakan ibu mertuanya jika kemarin dirinya lupa mengantar makan siang untuk sang suami.
"Baiklah aku akan mengantar sarapan untuk suamiku tercinta," ucap Sela dan senyum yang tadi hilang sekarang kembali lagi.
*
*
*
Sela memundurkan langkahnya saat mendengar apa yang di katakan oleh sekretaris Kai, jika suaminya belum datang ke kantor, padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, saat Sela sudah berada di kantor Kai.
__ADS_1
"Kai kemana kamu?"
Bersambung..................