BALAS DENDAM Terindah

BALAS DENDAM Terindah
17 Menyingkirkan


__ADS_3

Tepuk tangan langsung menggema di seluruh penjuru ruang tamu tersebut. 


"Wow hebat sekali. Baru saja aku tinggal, sudah ada orang lain dirumah ini, dan aku lebih terkejut dengan pemandangan ini," ujar Harza yang baru masuk kedalam rumah, di ikuti oleh papa Doni dan juga mama Nisa dari belakang. "Papa tidak percaya padaku bukan, sekarang papa lihat sendiri menantu kesayangan papa ini," Harza menunjuk Sela yang sudah melepas pelukan Hendri, dan mendekat ke arah Harza. 


"Mas ini tidak seperti mas Harza pikirkan. Ini semua–


" Cukup Sela! Dari sini aku yakin kamu telah bermain gila bukan hanya dengan orang lain. Tapi juga dengan kakak ipar kamu sendiri, menjijikan sekali kamu jadi wanita," sambung Harza memotong perkataan sang istri. 


"Mas, aku mohon dengarkan penjelasanku terlebih dahulu," Sela langsung bersimpuh di lantai sambil memeluk kaki Harza dan tangis yang tadi sudah mereda kini terdengar lagi dari bibir Sela. 


"Dasar menantu tidak tahu diri, sudah ketahuan selingkuh. Masih saja mengelak," sambung mama Nisa sambil menarik rambut Sela dengan kencang, dan Sela yang mendapat perlakuan dari sang ibu mertua hanya diam dan terus memeluk kaki Harza. 


"Ma, lepaskan tanganmu," Papa Doni menarik tangan sang istri agar melepas tangannya yang masih menarik rambut Sela. 


"Apa papa masih ingin membela menantu ini. Yang sudah jelas-jelas bermain gila, kita melihat apa yang sedang di lakukannya dengan Hendri Pa,"

__ADS_1


Tapi papa Doni tidak mendengar apa yang dikatakan oleh sang istri karena dirinya langsung menghampiri putra pertamanya. 


Plak!


Tamparan keras mendarat di pipi Hendri yang di layangkan oleh papa Doni, Hendri yang mendapat tamparan hanya diam tidak mengatakan apapun sambil memegangi pipinya. 


"Papa kecewa padamu. Kamu tahu Sela istri dari adik kamu. Tapi kamu tega melakukan itu padanya,"


"Apa yang papa lakukan, harusnya menantu papa yang tidak tahu diri itu yang pantas mendapat tamparan bukan anak kita Pa," sambung mama Nisa ketika sudah menghampiri sang suami dan juga putranya tersebut. "Sayang kamu baik-baik saja?"


" Aku kenapa?" tanya Harza memotong perkataan Hendri sambil mendorong tubuh Sela yang masih memeluk kakinya kemudian menghampiri sang kakak. "Aku sudah melihat sendiri, apa yang kamu lakukan Hendri!"


Kemudian Harza menarik tangan Hendri  untuk keluar dari rumahnya. 


"Apa kamu sengaja menelponku untuk datang ke sini. Agar papa dan juga mama melihatku dengan Sela?" tanya Hendri saat sudah berada di luar rumah sambil menggelengkan kepalanya. "Ternyata kamu licik juga Harza. Aku kira kamu memang tidak ada tujuan lain selain kamu ingin berpisah dari Sela. Ternyata kamu juga ingin menyingkirkan aku, agar aku tidak bisa mendapat sepeser pun harta papa begitu maksud kamu?"

__ADS_1


"Maaf untuk soal itu. Kamu tahu harta dan tahta tidak mengenal saudara,"


"Kamu jangan senang dulu, aku juga bisa membuat kamu tidak akan dapat sepeserpun harta papa. Kalau papa tahu sebenarnya kamu lah yang berselingkuh di belakang Sela, dan aku punya cukup bukti," ucap sinis Hendri yang langsung meninggalkan rumah adiknya. 


"Apa dia tahu kalau aku berselingkuh dengan Rani. Tidak mungkin," gumam Harza dalam hati sambil menatap punggung Hendri yang sudah menuju mobilnya. Pasalnya dirinya menyuruh sang kakak mendekati Sela dengan alasan sudah bosan hidup bersama dengan Sela, dan dengan begitu dirinya bisa menyingkirkan Sela dan juga Hendri bersamaan. Dan dirinya dengan mudah bisa menguasai harta papa Doni. 


Papa Doni berjalan menghampiri Sela yang masih bersimpuh di lantai dan terus menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. 


"Nak bangunlah,"


Sela langsung menatap papa mertuanya kemudian memeluk kaki mertuanya. 


"Pa. Ini tidak seperti apa yang Papa lihat. Ini hanya salah paham Pa,"


"Sudah salah masih saja mengelak dasar menantu tidak tahu diri!"

__ADS_1


Bersambung.........................


__ADS_2