
Rani membelai wajah Harza yang sedang duduk di pinggiran ranjang rumah sakit di mana dirinya berada selama seminggu lebih, untuk mendapatkan perawatan setelah di hajar habis habisan oleh Anton tempo hari.
Lalu Harza manahan tangan Rani dan langsung mencium punggung tangan wanita yang sedang berdiri di hadapannya.
"Maafkan aku, telah khilaf melakukan ini,"
"Untuk apa mas Harza minta maaf, aku tahu mas Harza tidak sejahat ini, hanya emosi sesaat yang membuat mas Harza melakukan kejahatan,"
"Kamu tidak pernah berubah Rani," ujar Harza lalu memeluk pinggul Rani, saat dirinya sudah terbebas dari selang infus yang selama seminggu menancap di tangannya.
"Maafkan aku, karena aku tidak bisa berada di sisimu lagi,"
"Kenapa mas Harza berkata seperti itu?" tanya Rani setelah melepas pelukan Harza beralih meraup wajahnya, wajah pria yang selalu ada di dalam hati Rani, hingga hatinya pernah di tutupi awan hitam saat Harza bersama dengan orang lain, yang memaksanya melakukan kejahatan, tidak ingin miliknya di miliki oleh orang lain.
Bukannya menjawab pertanyaan Rani, Harza mencekal tangan Rani, lalu mencium punggung tangannya kembali bergantian.
"Karena aku harus mempertanggung jawabkan perbuatan ku ini,"
"Aku tahu mas, dan aku akan menunggu kamu hingga kamu keluar dari penjara," sambung Rani sambil tersenyum, mengingat kembali setelah Harza sembuh, pria yang sangat di cintai nya tersebut harus mempertanggung jawabkan perbuatannya saat Kai sudah melaporkan Harza ke Kantor polisi.
"Jangan pernah menunggu, dan membuat waktumu terbuang sia-sia hanya karena menunggu orang sepertiku, kamu pantas bahagia," ujar Harza, meskipun ucapannya menyakiti dirinya sendiri, karena Rani lah wanita satu satunya yang selalu ada di dalam hatinya.
"Kita akan tetap menunggu mas Harza sampai kapanpun, karena kita butuh Mas Harza," dan senyum manis terukir dari kedua sudut bibir Rani
__ADS_1
"Kita?" tanya Harza penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Rani.
"Iya," ujar Rani yang langsung meraih tangan Harza lalu meletakkan telapak tangannya di atas perutnya. "Karena aku dan anak kita membutuhkan mas Harza,"
Harza diam terpaku sambil mencerna ucapan Rani, kemudian menatap Rani yang juga sedang menatapnya.
"Anak kita?" tanya Harza untuk memastikan yang di dengarnya tidak salah, dan Rani pun langsung menganggukkan kepalanya. "Ya Tuhan terima kasih,"
Lalu Harza menciumi perut Rani saat merasakan kebahagian yang luar biasa, karena dirinya bisa memiliki keturunan dari wanita yang sangat di cintai nya, meskipun dengan cara yang salah. Setelah puas menciumi perut Rani, Harza beralih meraba perut Rani dan langsung menautkan kedua alisnya, saat mendapati perut Rani yang sudah membuncit di balik baju besar yang selalu di gunakan akhir-akhir ini.
"Rani,"
"Anak kita sudah memasuki usia lima bulan mas," terang Rani, tahu apa yang akan di tanyakan oleh Harza, membuat Harza langsung beranjak dari duduknya beralih memeluk tubuh Rani, dan air mata tidak terasa jatuh membasahi pipinya.
"Aku juga salah mas, karena sudah meninggalkan dan mengacuhkan kamu, sekali lagi aku minta maaf," sambung Rani dan langsung mengeratkan pelukannya.
Dan keduanya tidak menyadari jika ada seseorang yang sedari tadi ada di ruang perawatan Harza dan mendengar percakapan keduanya, yang sekarang memilih keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan keduanya yang tidak menyadari keberadaanya.
*
*
*
__ADS_1
"Mama sakit! Mama jangan! Iya aku salah!" teriak Kai saat mama Leni tidak hentinya memukul dan juga mencubitnya, saat keduanya sedang berada di dalam ruang perawatan Sela, yang sekarang sudah berada di rumah sakit, dan sedang terbaring lemah di ranjang perawatan dengan selang infus yang sudah terpasang di tangan kirinya, saat dokter memutuskan Sela harus menjalani rawat inap.
"Lama-lama terong kamu mama bakar, mama kasih sambal ijo,"
"Pakai nasi tidak ma,"
"Dasar anak satu ini," ucap kesal mama Leni lalu mendorong tubuh Kai untuk menjauh dari hadapannya, dan mama Leni langsung menghampiri Sela yang terbaring lemah sambil tersenyum mendengar ucapan non faedah dari ibu dan anak tersebut.
"Sayang maafkan Kai yang sudah membuat kamu seperti ini," ujar mama Leni dan Sela pun hanya tersenyum, tidak tahu harus berkata apa. "Kai!" teriak mama Leni dengan keras membuat Sela langsung menutup kedua telinganya.
"Apa lagi ma,"
"Mama laporkan kamu ke polisi,"
"Apa salahku ma?" tanya Kai yang sudah mendekati ranjang perawatan sang istri.
"Lihat ini," ujar mama Leni sambil menunjuk seluruh leher Sela penuh dengan tanda kepemilikan.
"Ya elah mah, itu stempel ma,"
"Tidak seperti itu juga kali Kai!!!!!!!!"
"Ah mama sakit!!!!!"
__ADS_1
Bersambung.........................