
Anton terus mengelilingi tubuh Rani yang sedang menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap wajahnya.
"Begitu saja tidak becus!" kesal Anton sambil menarik rambut palsu yang di gunakan oleh Rani.
"Maaf kak,"
"Maaf kamu bilang, aku tidak mau tahu, kamu harus masuk ke perusahaan Sela, kalau kamu tidak bisa jadi salah satu pegawainya, jadi office girl juga tidak masalah, dan kamu ganti penyamaran kamu ini!" perintah Anton sambil melempar rambut palsu milik Rani, yang akhir-akhir ini dirinya gunakan untuk menyamarkan indentitas nya saat melamar kerja di perusahaan Sela.
"Tapi kak–
"Tidak ada tapi tapian, apa kamu tidak ingin membalas dendam pada Doni keparat itu, dan mengambil alih perusahaan itu, yang harus nya menjadi milik kita? Apa kamu tidak ingat apa yang telah dia lakukan pada keluarga kita? Rencana kita dari awal gagal karena kamu melakukannya menggunakan perasaan, dan awas saja kalau kamu masih menemui Harza lagi!" tegas Anton memotong perkataan Rani.
Rani tidak lagi menjawab ucapan Anton, karena dirinya langsung masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Anton di ruang tamu.
"Doni! lihat saja apa yang akan aku lakukan, salahmu sendiri memberikan perusahaan itu pada menantu mu." ujar Anton dan mengepalkan tangannya lalu menggebrak meja yang ada di hadapannya.
*
*
*
Kai yang sedang mengendarai mobilnya setelah kepulangan nya dari rumah Sela, sesekali menatap kaca spion mobilnya, saat merasa ada yang membuntuti nya di belakang, lalu Kai sengaja memutar mobil yang di kendarai nya melewati jalan sepi, dan memperlambat laju mobilnya. Dan benar saja baru beberapa menit melewati jalan sepi tersebut, tiba-tiba ada sebuah motor yang di naiki dua orang menghalangi mobilnya.
__ADS_1
Kai pun langsung tersenyum sinis mendapati siapa ke dua orang yang menghalangi laju mobilnya, kemudian Kai turun dari mobilnya saat salah satu orang tersebut menyuruh nya untuk turun.
"Punya nyali juga, aku kira kamu akan kabur," ucap Harza saat Kai sudah turun dari mobil.
"Apa mau mu?"
"Oh bagus to the points, aku suka, Hendri mendekat lah kita kasih pelajaran pada orang ini, agar dia secepatnya menjemput ajal, dan tidak bisa menghalangiku untuk mendapatkan Sela lagi," ucap Harza sambil tersenyum sinis menatap Kai, lalu menyuruh Hendri yang tadi di bonceng nya untuk mendekat.
"Oh mau main keroyok, tapi untuk apa kamu mau memberi aku pelajaran, apa kamu sekarang menjadi guru privat?"
"Apa kamu sedang meledek ku?"
"Anggap saja begitu," jawab Kai yang memang sengaja meledek Harza.
"Sebenarnya aku tidak menyukai kekerasan, tapi kalau kamu jual aku beli,'
Kai pun menyingkirkan tangan Harza lalu dengan segera meninju rahangnya hingga Harza mundur beberapa langkah, dan Kai pun tidak menyadari keberadaan Hendri yang berada di belakang nya.
Bugh!
Hendri memukul punggung Kai menggunakan tongkat bisbol, membuat Kai langsung jatuh tersungkur dan menoleh ke arah Hendri yang sedang tersenyum sinis menatapnya.
"Bagus Hendri, berikan padaku tongkat itu, semakin cepat dia mati semakin bagus,"
__ADS_1
Dan Hendri pun langsung melempar tongkat yang berada di tangannya ke pada Harza.
Buhg!
Harza memukul kaki Kai dengan kencang menggunakan tongkat bisbol yang ada di tangannya, saat Kai ingin beranjak dari tempatnya, dan Kai pun jatuh kembali dengan kedua lutut yang menyentuh aspal duluan.
"Kalian ini tidak jantan, berani nya hanya keroyokan, dan mengunakan senjata, kalau berani satu lawan satu," ucap Kai sambil menahan sakit di kakinya yang lebih sakit dari pada pukulan Hendri yang berada di punggungnya.
"Oh ternyata masih bisa bicara, aku kabulkan permintaanmu, sebelum kamu menemui ajal mu," ucap Harza dan melempar tongkat yang ada di tangannya, lalu mendekati Kai yang sudah berdiri sambil terus menahan rasa sakit.
Bugh! Bugh!
Kai memukul dada kiri tepat di ulu hati Harza di lanjut memukul rahangnya, hingga Harza jatuh ke atas aspal.
"Hanya Tuhan yang tahu umur manusia, bukan kamu Harza! Terimalah takdir Tuhan untukmu, kamu sendiri lah yang sudah mempermainkan takdir Tuhan dengan melukai Sela, dan setelah kamu melukainya kamu memintanya untuk memaafkan mu dan ingin kembali padanya, manusia macam apa kamu ini?" tanya Kai dan mendekat ke arah Harza yang masih tergeletak di atas aspal memegangi dadanya. "Seharusnya kamu introspeksi diri. Dan kamu terima takdir ini!"
Kai menginjak paha Harza dengan kencang, dan Harza pun langsung mengerang kesakitan.
Handri yang melihat Harza kesakitan dan tidak berdaya, mengeluarkan pistol yang sedari tadi dia bawa dan di sembunyikan di pinggang mengarahkan ke arah Kai.
Dor! Dor!
Bersambung....................
__ADS_1
Kalian boleh menebak apa yang terjadi selanjutnya, aku tahu kalian tuh jago banget kalau soal tebak menebak 🤭🤭🤭🤭🤭🤭