BALAS DENDAM Terindah

BALAS DENDAM Terindah
103. Kabar Gembira


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak memberi tahu aku, jika David sudah bertunangan, jadinya kan aku tidak berburuk sangka pada Risa,"


"Kamunya saja tidak bertanya padaku terlebih dahulu sayang, dan kamu harus menepati janjimu padaku, jika setelah pulang dari sini kamu akan– ach aku sudah tidak sabar menghabiskan sisa akhir pekan ini emmm ahhhh mantap,"


Kai langsung menarik pinggang Sela dan membawa ke dalam pelukannya saat baru saja keluar dari rumah di mana Risa berada.


"Dasar me*um, janji di batalkan karena kamu tidak memberi tahu aku tentang David,"


"Mana bisa begitu, enak saja, janji ya janji dan harus kamu tepati sayang,"


"Tapi hari ini aku ingin pergi ke pusat perbelanjaan boleh ya sayang," ujar Sela agar dirinya tidak lagi di kurung di kamar.


"Tidak ingin mendengar alasan apa pun, kamu bisa pergi besok bersama mama, hari ini kamu dan aku saling menyatu menghabiskan sisa akhir pekan,"


Dan hembusan nafas kasar keluar dari bibir Sela, jika suaminya sangat sulit untuk di bujuk jika pikirannya sudah berada di atas ranjang.


"Ada apa?" tanya Kai saat membuka pintu mobil


mempersilakan istrinya masuk, namun Sela menghentikan langkahnya saat Anton menghubungi dirinya.

__ADS_1


"Kakak menelpon," jawab Sela dan langsung mengangkat sambungan ponselnya. Senyum terukir dari kedua bibir Sela saat sudah mengangkat sambungan ponselnya.


"Ada apa?"


"Kabar bahagia," jawab Sela dan langsung masuk ke dalam mobil.


*


*


*


Setelah mendapat kabar gembira dari Anton sang kakak, akhirnya Sela dengan susah payang bisa membujuk Kai untuk mengantarnya ke rumah sakit. Kabar gembira saat mengetahui jika Rani sudah melahirkan seorang putri dengan cara operasi cesar.


Hubungan Sela dan juga Rani, berjalan baik saat Sela tidak lagi mengingat jika adiknya tersebut adalah wanita yang sudah menjadi orang ketiga dalam pernikahan pertamanya. Karena Sela sudah mendapatkan pria yang sangat mencintainya yang bisa menghapus ingatan kelamnya di masa lalu.


Kai pun juga tidak mempermasalahkan jika istrinya masih berhubungan baik dengan ke dua saudaranya, bagaimanapun Anton dan Rani adalah saudara Sela, terlepas dari masa lalu keduanya yang sudah pernah menyakiti istrinya, hanya saja Kai selalu membatasi Sela bertemu dengan kedua saudaranya di luar rumah untuk berjaga jaga jika ada sesuatu yang tidak di inginkan, dan lebih sering Anton dan juga Rani yang mengunjungi rumahnya, meskipun Kai tahu, Anton sangat menyayangi Sela adiknya.


Sela dan Kai berjalan menuju ruang perawatan VVIP di mana Rani sudah di pindah ke ruangan tersebut. Sela langsung masuk ke dalam ruangan tersebut, dan langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah Anton yang sedang berdiri di depan sebuah inkubator, di mana ada bayi mungil di dalamnya, di ikuti oleh Kai dari belakang yang melihat jelas kebahagiaan terpancar dari wajah istrinya.

__ADS_1


"Kakak," ucap Sela dengan pelan saat melihat Rani sang adik sedang tertidur di atas ranjang perawatnya.


"Kamu sudah datang?" tanya Anton, tapi tidak di hiraukan oleh Sela yang langsung mengamati bayi mungil yang ada di dalam inkubator.


"Lucu dan sangat menggemaskan, apa aku boleh menggendongnya kak?" tanya Sela pada Anton dan tatapan matanya terus tertuju kada bayi mungil yang sedang terlelap tersebut.


"Boleh, nanti aku panggilkan perawatan," ujar Anton dan langsung keluar dari ruang perawatan Rani.


Selepas kepergian Anton, Kai mendekati sang istri yang masih berdiri di tempatnya, lalu Kai memeluk pinggang Sela.


Sela pun langsung menyandarkan kepalanya di bahu Kai. "Kapan aku bisa memiliki buah hati yang menggemaskan seperti ini,"


"Tadi Tuhan sudah menghubungiku, katanya sedang dalam perjalanan, tapi aku bilang suruh putar balik saja, karena aku tidak ingin ada yang mengganggu kikuk-kikuk kita," canda Kai tidak ingin melihat istrinya bersedih. "Ach sayang sakit," keluh Kai saat Sela menyikut perutnya.


"Kalau bicara, jangan bercanda Kai!"


"Maaf sayang," ujar Kai lalu memeluk istrinya dari belakang.


Bersambung....................

__ADS_1


__ADS_2