BALAS DENDAM Terindah

BALAS DENDAM Terindah
18 Percaya


__ADS_3

"Ma. Apa yang kamu katakan. Kita juga tidak boleh percaya pada satu sisi. Kita sebagai orang tua juga harus mendengar apa yang akan di katakan Sela, untuk jadi penengah," sambung papa Doni kemudian pria paruh baya tersebut berjongkok dan menepuk punggung Sela. 


"Tapi apa–


"Sudah lah Ma. Jangan katakan apapun, kalau mama ingin pulang. Pulanglah saja dulu," sambung papa Doni memotong perkataan sang istri. 


Dan mama Nisa ynag merasa kesal kepada sang suami langsung menghentak hentakan kakinya kemudian menuju ruang tamu. 


"Nak. Bangunlah, ceritakan pada papa apa yang sebenarnya terjadi, jangan seperti ini. Jangan biarkan papa ini menjadi pria yang jahat dengan membiarkan kamu seperti ini," ujar papa Doni. 


Dan Sela yang mendengar perkataan papa Doni langsung memeluk papa mertuanya, dan terus menangis. 


"Jangan menangis lagi. Hentikan tangismu itu. Papa akan mendengarkan kamu nak,"


"Untuk apa papa mendengarkan dia. Dia pasti akan berbohong. Papa sudah melihat sendiri. Dia bermain di belakangku bukan hanya dengan orang lain, tapi dengan Hendri juga,"

__ADS_1


"Diam kamu Harza. Papa sedang tidak berbicara padamu," sahut papa Doni. "Dan kamu masih hutang penjelasan pada papa. Kenapa ada proyek di luar kota kamu tidak memberitahu papa,"


"Soal itu aku–


"Bukan saatnya papa bicara padamu," papa Doni memotong perkataan Harza kemudian merangkul bahu Sela untuk menuju ke sofa. 


Papa Doni mendudukan Sela di sofa kemudian menghapus air mata yang masih terus mengalir dari pelupuk mata Sela. Menantu yang sudah dianggap sebagai anak sendiri, saat mendiang sang sahabat yang tak lain dan tak bukan adalah kedua orang tua Sela, telah menitipkan Sela kepadanya. 


"Nak, katakan apa yang sebenarnya terjadi kepada papa, jangan ada yang ditutup tutupi,"


"Jelas saja dia akan menutupi kebusukannya. Apa kamu buta Pa. Setelah Harza menunjukan bukti perselingkuhan istrinya dengan pria lain?" sambung mama Nisa yang duduk bersebrangan dengan sang suami. 


"Baik pa," ucap Sela singkat kemudian menggenggam tangan papa Doni dan langsung menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup tutupi. 


Papa Doni pun langsung menghembuskan nafasnya lega, mendengar apa yang dikatakan oleh Sela. Saat papa Doni tahu tidak ada kebohongan yang keluar dari mulut sang menantu. 

__ADS_1


"Papa percaya padamu nak. Papa pernah mendengar pemilik perusahaan Maraja memang sangat disiplin dan juga menghargai waktu, meskipun papa belum pernah bekerja sama dengan perusahaan tersebut, dan untuk Hendri, papa akan memberi pelajaran kepadanya, kamu tenang saja," ujar papa Hendri sambil mengelus rambut Sela. 


"Harusnya papa memberi pelajaran pada menantu papa, bukan pada Hendri. Tidak ada kucing yang menolak ikan yang disuguhkan padanya Pa. Mama yakin semua yang keluar dari mulut menantu kesayangan papa ini hanya kebohongan belaka,"


"Diam Nisa!!!!"


Dan mana Nisa yang mendapat bentakan dari suami nya langsung diam dan duduk kembali di samping Harza. 


Papa Doni langsung menatap sang putra yang terus menundukan kepalanya. 


"Kamu itu kepala keluarga Harza. Tidak sepantasnya kamu menuduh istrimu berbuat yang tidak-tidak hanya karena bukti yang belum tentu benar adanya. Harusnya kamu mendengar penjelasan istrimu terlebih dahulu, sebelum menuduhnya, dan sekarang kamu minta maaf pada Sela," perintah papa Doni tapi tidak di hiraukan oleh Harza yang langsung beranjak dari duduknya kemudian menuju kamar tanpa mengatakan apapun. 


"Harza!!!!!"


"Pa, biarkan saja, biar aku yang berbicara empat mata dengan mas Harza,"

__ADS_1


"Baik nak, susul lah suamimu," perintah papa Doni dan Sela pun langsung beranjak dari dudukan dan berjalan menuju kamarnya menyusul sang suami. 


Bersambung.....................


__ADS_2