
Sela terus menggerutu dan menatap kesal sang suami yang berjalan terlebih dahulu keluar dari kamar, bagaimana dirinya tidak kesal saat di kamar mandi Kai juga memulai aksinya kembali hingga lupa waktu.
"Ya ampun sayang kenapa kamu jalan lambat sekali," ujar Kai sambil menghentikan langkahnya dan membalik tubuhnya untuk menatap sang istri yang berjalan tepat di belakangnya.
"Ini juga karena mu!"
"Maaf sayang,"
"Kai!" teriak Sela saat Kai membopong tubuhnya menuruni tangga, menuju ruang makan di mana sudah ada mama Leni yang menunggunya.
Mama Leni yah sudah terbiasa dengan kebiasaan sang anak dan juga menantunya di setiap akhir pekan hanya bisa menggelengkan kepalanya, dan menyantap makanan yang sudah tersedia di meja makan.
"Selamat pagi mama sayang," sapa Kai setelah mendudukkan istrinya di kursi yang selalu di duduki Sela tepat di sebelah kirinya. "Ach mama, ini namanya kekerasan," ujar Kai saat mama Leni melempar sendok dan tepat mengenai tangannya.
"Mata kamu jereng! Lihat jam berapa sekarang," ucap kesal mama Leni sambil menunjuk jam dinding yang berada di ruang makan menunjukkan pukul satu siang, dan Kai pun hanya mengukir senyum dari kedua sudut bibirnya. "Apa tidak bosan nyangkul mulu,"
"Enak ma,"
__ADS_1
"Enak-enak, kapan kalian akan memberikan cucu pada mama?" tanya mama Leni yang langsung menutup mulutnya.
"Mama, kenapa mama bertanya seperti itu?" tanya Kai balik dan sekilas melirik ke arah sang istri yang menundukkan kepalanya setelah mendengar perkataan mama Leni.
Bukan alasan Sela tidak menundukkan kepalanya, pasalnya dirinya tahu persis apa yang di alaminya. Gangguan ovulasi, kata yang selalu teringat di pikiran Sela, kata-kata dokter di awal pernikahannya dulu dengan suaminya pertama, yang membuatnya akan sulit untuk memiliki buah hati.
Kai menggenggam tangan Sela lalu mencium punggung tangannya, saat melihat raut wajah istrinya berubah.
"Ma kita baru menikah, tentu saja kita belum memikirkan momongan, kami masih ingin menikmati masa-masa berdua tanpa gangguan bocil. Mama pasti tahu lah, jika nanti aku sudah punya anak, tidak mungkin kita bisa melakukan ehem ehem sampai siang bolong, iya kan istriku sayang," ujar Kai dan memberikan ciuman mesra di pipi Sela.
"Dasar, pikirannya tidak jauh dari hutan belantara," ujar mama Leni dan beranjak dari duduknya setelah menghabiskan makan siangnya, kemudian mama Leni berjalan mendekati Sela lalu mengelus rambut menantu yang sangat di sayangi nya. "Maafkan mama sayang, jika perkataan mama tadi melukai perasaanmu,"
"Kalau begitu coba senyum,"
"Ini aku sudah tersenyum ma,"
"Tapi senyum kamu hanya di buat- buat," ujar mama Leni dan Sela pun langsung tersenyum kembali, dan sekarang benar-benar senyum yang tidak di paksakan seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Nah begitu kan sangat manis, sekali lagi maafkan mama," ujar mama Leni lalu mencium kening menantunya tersebut sebelum meninggalkannya.
"Kai," ucap Sela menghentikan sejenak makan siangnya.
"Ada apa sayang? Jangan bahas masalah momongan,"
"Tapi–
"Sayang percaya padaku, suatu saat pasti Tuhan akan memberi kita momongan," sambung Kai memotong perkataan Sela lalu meraih tangannya dan menggenggamnya.
"Aku ingin pergi ke dokter, untuk memeriksa keadaanku,"
"Tidak sekarang, jika di rumah ini ada dokter yang ampuh,"
Mendengar ucapan Kai, Sela langsung meng fokus kan pandangannya ke wajah suaminya. "Siapa?"
"Ini," Kai mengarahkan tangan sang istri tepat di terong miliknya. "Apa kamu mau di suntik?"
__ADS_1
"Kai!"
Bersambung.................