
Sela mendekap bayi mungil di pelukannya, dan tak hentinya senyum terukir dari ke dua sudut bibirnya, tangannya juga tak lupa mengelus pipi merah jambu yang begitu menggemaskan.
"Sepertinya adikku sudah sangat menginginkan momongan, apa benih mu tidak kenceng keluarnya?"
Kai menoleh ke arah Anton yang baru saja berbisik di telinganya.
"Tentu saya sudah sekencang water canon,"
"Terus kapan kamu akan memberikan aku keponakan,"
"Nanti ada saatnya, sekarang aku sedang fokus,"
"Fokus dengan perusahaan kamu yang baru?"
"Tentu saja bukan,"
"Terus? Jangan bilang fokus ehem-ehem,"
"Itu tahu," sambung kai, sebenarnya Kai juga sangat menginginkan momongan hadir di keluarga kecilnya, tapi dia tidak ingin berharap lebih, tahu keadaan istrinya, tapi meskipun begitu Kai tidak pernah putus asa, karena istrinya masih bisa hamil meskipun kecil kemungkinannya.
Kai berjalan mendekati sang istri lalu memberikan ciuman singkat di keningnya.
"Kai lihatlah, menggemaskan sekali bukan?" tanya Sela sambil mengelus pipi bayi yang ada di dekapannya dengan punggung jari telunjuknya.
"Tapi lebih menggemaskan ini," Kai beralih mencium pipi sang istri.
"Kai malu,"
__ADS_1
"Iya maaf," Kai tahu jika istrinya tidak suka mengumbar kemesraan di depan umum.
"Apa kamu ingin menggendong bayi mungil ini?"
"Tidak sayang, bayi itu terlalu kecil aku takut,"
"Cobalah,"
"Baiklah," akhirnya Kai mau mencoba menggendong bayi tersebut, tapi baru beberapa detik bayi itu berada di gendongannya, bayi tersebut langsung menangis, membuat Kai begitu panik, dan perawat langsung mengambil alih dan meletakkan kembali di inkubator. "Kenapa dia menangis sayang?"
"Karena dia ingin segera memiliki teman bermain, makannya cepat berikan dia teman bermain," sambung Anton yang mendekati keduanya.
Anton langsung menautkan ke dua alisnya melihat wajah Sela yang tiba-tiba murung. "Sela kamu kenapa?"
"Sepertinya aku tidak akan bisa memberikan keponakan pada kakak,"
Anton menatap Sela dan berganti menatap Kai, saat mendengar ucapan dari adiknya tersebut.
Anton langsung menghapus air mata Sela dan membawa ke dalam pelukannya, saat Sela sudah menceritakan apa yang terjadi pada dirinya.
"Jangan pernah putus asa, kamu hanya mengalami gangguan ovulasi, dan itu masih ada kesempatan untuk kamu memiliki momongan,"
"Tapi kemungkinan itu sangat kecil kak," sambung Sela yang masih berada di pelukan Anton.
"Kamu tahu di dunia ini tidak ada sesuatu yang tidak mungkin, aku yakin suatu saat kamu akan memiliki momongan juga,"
"Ta–
__ADS_1
"Sela percaya padaku, hanya Tuhan yang menentukan jalan kehidupan kita, tidak ada yang lain, dokter hanya mengfonis, tapi Tuhan yang sudah menentukan jalan hidup kita, percayalah pada keajaiban Tuhan," sambung Anton memotong perkataan sang adik, lalu melepas pelukannya dan meraup wajahnya. "sekali lagi percayalah pada keajaiban Tuhan, jangan ada air mata lagi yang keluar oke," Anton menghapus air mata sang adik. "Rani sudah bangun temui lah dia,"
Sela lalu menghapus sisa-sisa air matanya, dan membalik tubuhnya untuk menghampiri ranjang perawatan Rani, meninggalkan Kai dan juga Anton yang masih diam di tempat.
"Kenapa kamu tidak mengatakan padaku, apa yang terjadi pada Sela," ucap Anton pada Kai.
"Karena aku percaya bahwa, istriku bisa mengandung,"
"Bagaimana jika dia tidak sama sekali bisa mengandung? Apa kamu akan meninggalkan dia dan mencari wanita lain?"
"Kenapa kamu berkata seperti itu?"
"Tentu, karena suami pertamanya mendua karena adikku tidak bisa mengandung,"
Senyum sinis keluar dari sebelah sudut bibir Kai mendengar perkataan kakak iparnya tersebut.
"Dan aku bukan suami pertamanya, aku Kaindra Maraja, pria yang tidak akan pernah meninggalkan istriku apa pun yang terjadi, ingat itu baik-baik!"
"Banyak pria yang awalnya mengatakan begitu tapi ujungnya?"
"Apa kamu sudah mulai meragukan aku?"
"Aku tidak pernah meragukan siapa pun, tapi kamu tahu, dengan seiringnya waktu pikiran manusia juga akan berubah,"
"Dan cintaku pada istriku tidak akan pernah berubah!" tegas Kai lalu berjalan menghampiri sang istri meninggalkan Anton yang masih diam di tempat.
Bukan alasan Anton memiliki kekuatiran seperti itu, dirinya tidak ingin melihat adiknya terluka lagi, meskipun Anton tahu, Kai sangat mencintai Sela.
__ADS_1
"Aku berharap kamu akan selalu mencintai adikku,"
Bersambung.................