
"Mbok Ijah,"
"Sudah saatnya Nona mencari ayah untuk putri Nona, dia butuh kasih sayang dari seorang ayah," ujar mbok Ijah lalu berlalu meninggalkan Risa yang hanya membalasnya dengan senyum.
Ayah bagi Nana yang artinya suami baginya, tentu saja Risa tidak sama sekali memikirkan hal itu, saat pengadilan agama pun masih mempertimbangkan gugatan perceraian yang dirinya layangkan untuk Hendri, dengan alasan Hendri masih berada di rumah sakit.
Apa lagi saat dirinya, mengingat kembali perlakuan kasar yang selalu dirinya alami dari suaminya, tentu saja itu menjadi trauma sendiri bagi dirinya. Dan fokusnya saat ini hanya pada sang putri.
"Mamama," Nana yang baru bisa berjalan memanggilnya dan menghampiri nya, lalu dengan segera Risa merentangkan tangannya dan menggendong sang putri.
"Terima kasih, karena sudah menjaga Nana," ucap Risa dan tersenyum ke arah Bima yang tadi mengikuti Nana dari belakang.
"Hanya itu?"
"Tentu saja tidak, karena hari ini aku masak banyak,"
"Untukku?"
"Tentu saja bukan, ini untuk Sela dan juga Kai,"
"Ah tidak asyik, masa aku tidak, aku kan sudah menjaga bidadari,"
"Kamu juga kok, aku kan tahu kamu makannya banyak," ujar Risa lalu mencekal tangan Bima yang berjalan mendahuluinya. "Mau kemana?"
__ADS_1
"Makan dong,"
"Nanti dulu kita tunggu Sela dan juga Kai,"
"Ah tidak asyik, aku sudah sangat lapar," ucap Bima membuat Risa hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Mendapati pria yang sudah memberi tumpangan tempo hari, pria yang menurutnya sangat baik, meskipun Bima adalah pribadi yang tertutup, dan Risa pun menghargainya.
Setelah selesai makan siang, Bima, Kai dan juga Sela menuju ruang tamu, tapi tidak dengan Risa yang pergi menuju kamarnya untuk menidurkan Nana.
"Hai janda, godain aku dong," ledek Bima saat ketiganya sudah duduk di ruang tamu.
"Iya bang, jagain dedek yuk Bang," sambung Sela lalu keduanya langsung tertawa, berbeda dengan Kai yang hanya memasang muka datar, lalu berdehem dan menghentikan tawa keduanya.
"Ya ampun Sela, kamu bertemu dengan papan tripleks ini di mana, muka datar sekali, Bang senyum Bang kita ngopi,"
Ledek Bima pada Kai yang duduk tepat di hadapannya, lalu mengangkat gelas yang berisi kopi ke arah Kai.
"Terus?" tanya Bima dan menaruh cangkir yang ada di tangannya ke atas meja, lalu mendekati Sela dan ke duanya menatap Kai bersamaan dengan intens.
"Entahlah,"
"Aku tahu, dia itu seperti–
Belum juga Bima menyelesaikan ucapannya, biskuit mendarat tepat di mulut Bima yang di lempar oleh Kai.
__ADS_1
"Mamam tuh biskuit, cowok banyak cing cong,"
"Banyak cing cong kamu juga mem–
Dan lagi biskuit yang di lempar oleh Kai tepat mengenai mulut Bima, dan menghentikan perkataannya kembali.
"Kalian ini, kalau sedang bersama seperti kalian sudah saling mengenal," ucap Sela, karena setiap Kai dan juga Bima bersama selalu saja ada yang diributkan dari ke duanya.
"Aku mengenal papan tripleks maaf ya tidak level," sambung Bima lalu beralih merangkul bahu Sela, dan tersenyum mengejek ke arah Kai yang terlihat begitu kesal. "Adek yuk nikah dengan abang, pasti adek bahagia,"
"Abang punya apa?" tanya Sela sambil menyingkirkan tangan Bima.
"Hati,"
"Ogah, makan tuh hati," ucap Sela sambil mendorong bahu Bima, dan dirinya beranjak dari duduknya. "Oh iya kalian tunggu di sini, tadi pagi aku membuat cake, aku ambil dulu, dan kalian nanti berikan komentar ya, karena itu salah satu menu terbaru di toko kue ku,"
Dan Sela pun langsung pergi menuju dapur meninggalkan Kai dan juga Bima.
"Awas sekali lagi kamu merangkul Sela seperti tadi," ucap Kai kesal sambil melempar biskuit ke arah Bima yang langsung di tangkapnya.
"Lagian kamu akan mengatakan perasaanmu kepada Sela kapan?"
"Nanti jika sudah saatnya, aku tidak ingin terburu buru mengungkapkan perasaan ku,"
__ADS_1
"Ya elah Kai, jangan menunggu lagi, sekarang sudah saatnya, jangan sampai kesempatan itu hilang kembali seperti dulu," saran Bima tapi Kai langsung menaruh jari telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan Bima untuk diam saat Sela kembali lagi sambil membawa nampan di tangannya. Karena sampai saat ini Sela belum tahu jika Bima adalah orang suruhan Kai yang selalu mengawasi Sela.
Bersambung.......................