
Bugh! Bugh!
Pukulan kembali mendarat di perut Harza, yang di layangkan seorang pria yang telah menyeret tubuh Harza menjauh dari Sela.
"Siapa kamu, jangan ikut campur urusanku," ucap Harza sambil menahan tangan pria tersebut yang akan memukulnya kembali.
Tapi pria tersebut tidak menjawab pertanyaan Harza, karena langsung mendorong tubuh Harza dengan kencang lalu melayangkan pukulannya tepat di rahangnya, hingga membentur tembok, dan membuat Harza mengerang kesakitan.
Bugh!
Pukulan kembali mendarat di perut Harza hingga dirinya jatuh dan terduduk di atas lantai sambil meringis kesakitan, saat pria yang ada di hadapannya memukulnya dengan kencang.
Lalu pria tersebut berjongkok di hadapan Harza, dan menarik kerah baju yang digunakannya, agar wajahnya mendekat ke arahnya.
"Jangan pernah lagi menyentuh adikku! Kamu mengerti!"
"Adik?" tanya Harza sambil mengerutkan keningnya, tapi tidak di hiraukan oleh pria tersebut, yang langsung melepas tangannya yang masih memegangi kerah baju Harza, dan mendorongnya lagi dengan kencang hingga terbentur ke tembok kembali.
"Dan ini hukuman mu karena sudah berani menyentuh adikku Harza!" teriak pria tersebut dan memukul Harza dengan membabi buta.
Papa Doni yang datang tepat di belakang pria yang sedang memberi pelajaran pada Harza, langsung menghampiri Sela, lalu membuka jaket yang di kenakan nya untuk menutupi dada Sela.
__ADS_1
"Nak kamu tidak apa-apa?" tanya papa Doni sambil melepas ikatan di tangan Sela.
"Tidak Pa, hanya saja Risa tidak–
"Nak pikirkan dirimu sendiri, sebelum memikirkan orang lain," sambung papa Doni memotong perkataan Sela lalu membantunya untuk beranjak dari tempatnya.
"Tapi Pa,"
"Sela, kamu terlalu baik dengan orang lain tapi kamu membahayakan dirimu sendiri,"
Tapi Sela tidak menghiraukan perkataan papa Doni, karena dirinya langsung berlari menghampiri Risa setelah dirinya memakai jaket papa Doni dan membenarkan celana yang tadi hampir saja di buka oleh Harza, dan papa Doni langsung mengikuti Sela dari belakang, tidak menghiraukan Harza yang sedang di hajar oleh Anton.
Ketika Anton bisa menemukan keberadaan Sela, saat anak buahnya yang selama ini di utus untuk mengawasi Sela untuk membalas dendam dan merebut perusahaan yang Sela pegang, memberi tahu keberadaan Sela.
"Sela," ujar Risa yang langsung beranjak dari pangkuan Sela lalu beralih memeluknya. "Kamu tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja," jawab Sela lalu melepas pelukan Risa dan beralih meraup wajahnya. "Bagaimana dengan kamu?"
"Aku juga baik-baik saja,"
Papa Doni yang melihat ke duanya hanya bisa tersenyum, mendapati kedua mantan menantunya tersebut, saling menyayangi satu sama lain, lalu papa Doni berjongkok dan memeluk keduanya bersamaan.
__ADS_1
"Maafkan papa, ini semua salah papa, jika papa dulu tidak menjodohkan kalian dengan mereka tentu ini semua tidak akan terjadi pada kalian, sekali lagi papa minta maaf," papa Doni semakin mengeratkan pelukannya
Disisi lain Anton terus menghajar Harza dengan membabi buta, hingga Harza yang sudah babak belur tidak lagi dapat berkutik.
"Dan rasakan ini manusia biadab, kamu sama saja dengan ibumu yang sudah membuat aku dan juga ibuku menderita!" ujar Anton dan menginjak sebelah kanan paha Harza dengan kencang, saat dirinya mengingat kembali, dalang dulu dirinya dan juga ibunya di usir dari kediaman rumah yang sekarang papa Doni tempati adalah mama Nisa yang sekarang mendekam di penjara.
"Aku tidak ingin mengirim mu ke penjara, tapi langsung ke neraka,"
Anton mengangkat kakinya kembali ingin menginjak sebelah paha Harza sebelum ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
"Kak jangan lakukan lagi, sudah cukup," ucap Rani sambil memeluk tubuh Anton dari belakang untuk menghentikannya, saat sedari tadi Rani menyaksikan Anton terus menghajar Harza dari depan pintu, dan Rani yang tidak tega dengan keadaan Harza yang sudah tidak berdaya, langsung menghampiri Anton, entah mengapa di hati kecilnya tidak tega melihat keadaan Harza.
Anton langsung melepas pelukan Rani dan membalik tubuhnya untuk menatap adik nya tersebut, adik yang sangat dirinya sayangi meskipun keduanya berbeda ayah.
"Untuk apa kamu menghentikan aku? Dia pantas mendapatkan ini Rani! Apa kamu lupa dia yang sudah mengambil kehormatan mu!"
"Kami melakukannya suka sama suka kak,"
"Rani!" bentak Anton tapi tidak di hiraukan oleh Rani yang langsung menghampiri Harza.
Bersambung.....................
__ADS_1
Misteri sudah terbuka iya kan dan tidak lama lagi – apa ya? kalian tahu kan?