BALAS DENDAM Terindah

BALAS DENDAM Terindah
81. Kamu!


__ADS_3

Anak buah Bima yang baru kembali dari luar setelah mencari sarapan dan makan di luar, langsung mengerutkan keningnya saat gerbang rumah Sela tidak di tutup dengan rapat.


"Siapa yang membuka gerbang ini?"


"Mungkin tukang sampah, setiap pagi kan mengambil sampah," jawab salah satu anak buah Bima yang lainnya lalu turun dari motor yang dinaiki nya.


"Kalau bukan, kita yang akan kena masalah,"


"Lah kamu sendiri yang mengajak sarapan di luar,"


"Sudah lah, kan ada tuan Kai di dalam pasti nona aman,"


"Apa yang mereka lalukan ya di dalam?"


"Bukan urusan kita, kita kembali berjaga," ucap salah satu anak buah Bima sambil menoyor kepala rekannya tersebut.


*


*


*


Sela memastikan kembali jika rumah yang ditujunya adalah rumah di mana sekarang dirinya berada, saat dirinya sudah berada di halaman rumah tersebut dan masih berada di atas motor, setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit dari rumahnya menggunakan motornya.


Sela menatap ponsel yang ada di tangannya bergantian dengan menatap rumah tersebut yang terlihat tidak berpenghuni dan juga usang, dan benar saja rumah tersebut sama dengan alamat rumah yanng di kirim nomor yang tidak di kenalnya. Kemudian Sela melepas helm yang masih menempel di kepalanya lalu turun dari motor.


Dretttt


Pesan masuk di ponsel sela, dan dirinya langsung membuka pesan tersebut.


[Akhirnya kamu sudah tiba, dan sekarang kamu masuk saja ke dalam rumah, aku tahu kamu sudah berada di halaman, aku tunggu, jangan sampai aku menghabisi Risa]

__ADS_1


Pesan yang dikirim kembali oleh nomor yang tidak di kenalnya. Membuat Sela berjalan dengan terburu buru menuju pintu rumah tersebut, yang tiba-tiba sudah terbuka sendiri. Dan tanpa pikir panjang Sela langsung masuk ke dalam.


"Risa," panggil Sela saat sudah berada di dalam dan pandangannya langsung menyusuri setiap sudut ruangan tersebut, lalu tatapannya berhenti pada ruang tamu. "Risa!" teriak Sela saat melihat Risa duduk di atas kursi dengan tangan dan kaki yang di ikat dan juga mulut yang di sumpal kain, dan ada seorang pria yang menggunakan topeng sedang berdiri di belakang Risa sambil memegang kedua bahunya.


"Lepaskan Risa!" teriak Sela sambil mendekat ke arahnya.


"Berhenti disitu!" perintah pria yang berdiri di belakang Risa.


"Siapa kamu? Lepaskan Risa, ada masalah apa kamu dengan Risa?"


"Masalah? Dengan Risa?" tanya pria tersebut da berjalan menghampiri Sela. "Masalahku adalah kamu Arsela Maharani!"


Mendengar perkataan pria tersebut Sela lalu mengerutkan keningnya, bisa bisanya pria tersebut tahu namanya.


"Kamu siap?"


Tanpa menjawab pertanyaan Sela, pria tersebut langsung membuka topeng yang di gunakan nya. Membuat Sela memundurkan langkahnya saat mengetahui siapa pria tersebut.


*


*


*


Papa Doni langsung menggenggam tangan wanita paruh baya yang sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit, saat dirinya berkunjung ke rumah sakit dimana dirinya sekarang berada, setelah semalam Anton menunjukkan bukit-bukti yang belum pernah dirinya lihat selama puluhan tahun, semenjak wanita paruh baya tersebut di usir dari rumah yang di tempati nya sekarang.


"Ranti, aku mohon maafkan aku sekali lagi," papa Doni semakin erat menggenggam tangan wanita tersebut, setelah mendengar penjelasannya.


"Sudahlah Don, itu masa lalu tidak perlu di bahas lagi aku sudah memaafkan kalian, aku sadar aku memang tidak pantas jika harus tinggal bersama kalian,"


"Jangan katakan itu, aku merasa semakin bersalah,"

__ADS_1


Tapi wanita yang sedang terbaring lemah hanya membalasnya dengan senyum.


"Kamu masih sama seperti dulu murah senyum, dan saat aku melihat senyummu ini, aku malah semakin bersalah pernah mengatakan hal yang bukan-bukan terhadapmu,"


"Don sudahlah lupakan, apa saja yang putraku katakan padamu?"


"Banyak, termasuk Rani yang dulu pernah menjalin hubungan dengan Harza, dan aku melarangnya dan memisahkan ke duanya saat aku tahu itu keponakan kamu, hingga ke duanya menjalin hubungan terlarang saat Harza sudah beristri, sekali lagi maafkan aku Ranti,"


"Berapa banyak kata maaf yang ingin kamu katakan?"


"Banyak," jawab papa Doni sambil mengukir senyum dari ke dua sudut bibirnya.


Papa Doni keluar dari ruang perawat ibu Anton, setelah hampir satu jam berada di dalam, lalu pandangannya langsung tertuju pada Anton dan juga Rani yang beranjak dari duduknya melihat papa Doni keluar.


Kemudian papa Doni menghampiri Anton dan memeluknya.


"Maafkan om sekali lagi,"


"Dan maafkan aku, karena sudah menuduh om Doni yang bukan-bukan, dan aku sempat ingin membunuh om Doni,"


"Oh iya?" tanya papa Doni lalu melepas pelukannya.


"Maaf om,"


Tapi papa Doni tidak menanggapi perkataan Anton, karena dirinya beralih mengambil ponselnya di dalam kantong yang berdering, lalu mengangkatnya.


"Sela?" tanya papa Doni setelah mengangkat sambungan ponselnya.


Bersambung..........................


Boleh dong minta like dan komen kalian, vote dan gif juga boleh banget 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2