BALAS DENDAM Terindah

BALAS DENDAM Terindah
107. Masalah Itu Ada Padaku


__ADS_3

Sela memutuskan untuk keluar rumah dan masuk ke dalam mobil, tangannya terus bergetar saat menghubungi Kai dan juga Risa, tapi ponsel ke duanya di matikan.


Air mata yang sudah terbendung jatuh membasahi pipi, dan sekarang kecurigaannya benar-benar tidak bisa hilang dari pikirannya, saat Sela mengingat lagi beberapa hari lalu ketika merayakan satu tahun pernikahannya, Risa dan juga Kai begitu dekat, dan Kai mengatakan jika Risa lah yang sudah membantunya memberikan kejutan padanya, hingga dirinya tidak mencurigainya, namun sekarang kecurigaannya baru muncul, saat mengetahui suaminya pergi keluar kota dengan Risa hanya berdua saja, karena Nana berada di rumah bersama mbok Ijah.


"Ya Tuhan apa lagi ini? Apa kebahagian tidak akan pernah bertahan lama di dalam hidupku? Apa salahku Tuhan?" Air mata terus membasahi pipi, dan Sela menghapus air matanya saat ponsel miliknya bergetar tanda notifikasi pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


Sela segera mengusap layar ponsel miliknya, ketika melihat pesan itu di kirim oleh sang suami.


[Maaf hari ini aku tidak pulang, karena ada urusan bisnis di luar kota, oh ya satu lagi, jangan hubungi aku untuk beberapa hari, karena aku sangat sibuk]


Pesan yang di kirim oleh Kai, membuat Sela langsung melempar ponsel miliknya, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan tangisnya semakin menjadi.


"Kai, apa salahku hingga kamu memperlakukan aku seperti ini, apa hanya karena aku belum bisa memberikan kamu momongan," ucap Sela di sela-sela tangisnya, mengingat lagi hari kemarin Kai yang tidak pernah menanyakan momongan, tiba-tiba menanyakan hal tersebut.


"Nona, ada apa? Nona baik-baik saja?" tanya sopir yang selalu mengantar Sela kemanapun Sela pergi.

__ADS_1


Sela menghapus air matanya lalu menegakkan kepalanya dan coba melempar senyum, meskipun hatinya sangat kacau.


"Aku baik-baik saja pak, boleh antarkan aku ke suatu tempat?"


"Siap non,"


*


*


*


"Maafkan aku ke sini hanya untuk membuat kalian sedih," kemudian Sela mengelus batu nisan mama dan juga papanya bergantian, ketika Sela memutuskan untuk pergi ke pemakaman ke dua orang tuanya. "Mama, papa," dan tangis Sela kembali pecah. "Kenapa orang yang aku cintai selalu menyakitiku, apa aku tidak pantas mendapat kebahagian, papa, mama aku ingin menyusul kalian, aku tidak sanggup lagi menjalani hidupku ini, tolong jemput aku, aku ingin menyudahi sakit ini," ucap Sela di tengah-tengah tangisnya, dan sekarang beralih bersimpuh di batu nisan sang mama. "Mama tunjukkan jalan agar aku bisa menyusul kalian,"


Supir yang mengendarai mobil Sela yang menunggu di parkiran, memutuskan untuk mencari majikannya tersebut pasalnya belum ada tanda-tanda Sela akan keluar dari pemakan, saat jam sudah menunjukkan pukul setengah enam dan sudah hampir satu jam Sela berada di dalam pemakaman.

__ADS_1


"Nona!" teriak sopir pribadi Sela saat melihat majikannya sedang bersimpuh di atas salah satu makam. "Nona, nona," panggil sopir tersebut sambil menggoyang goyangkan bahu Sela. "Nona, ada apa dengan nona?" Sopir pribadi Sela begitu panik saat tidak ada pergerakkan dari tubuh majikannya tersebut.


"Pak, tinggalkan aku, aku hanya ingin bersama ke dua orang tuaku," ujar Sela dan masih dalam posisinya.


"Tapi ini sudah sore, dan pemakaman akan segera di tutup nona,"


Tapi tidak ada tanggapan dari Sela yang masih berada di tempatnya. "Apa nona sedang ada masalah? Jika iya bukan begini caranya, masalah itu harus di selesaikan bukan di biarkan," akhirnya sopir pribadi Sela yang sedari tadi melihat ada yang tidak beres dengan majikannya, coba untuk menasehati nya.


"Hidup tidak adil padaku pak, tidak ada gunanya menyelesaikan masalah, jika masalah itu ada padaku, lebih baik aku pergi dari dunia ini untuk selamanya,"


"Kenapa nona bicara seperti itu, yang nona katakan itu tidak benar,"


"Tidak benar bagi orang lain, tapi benar untukku, jadi pergilah dan tinggalkan aku sekarang!"


Bersambung...................

__ADS_1


__ADS_2