
"Aku tahu apa permintaanmu, pasti kamu akan mengatakan tetaplah bersamaku untuk hari ini," ujar Sela tahu apa yang sering kali Kai katakan padanya. "Tapi maaf, hari ini aku tidak akan menemanimu oke, dan lepaskan tanganmu,"
"Kamu itu sok tahu, siapa juga yang akan menyuruhmu untuk tetap tinggal, "
"Terus?" tanya Sela sambil menautkan kedua alisnya menatap Kai.
"Ya ampun, mau bagaimana pun ekspresi kamu, kamu tetap cantik," Kai yang sudah beranjak dari tempat tidurnya langsung mencubit ke dua pipi Sela dengan gemas.
"Kai sakit,"
"Maaf,"
"Sudahlah sekarang katakan apa permintaanmu? Aku dan mama Leni ingin pergi ke salon hari ini,"
"Tapi kamu jangan menolaknya,"
"Tergantung apa dulu permintaanmu,"
Mendengar perkataan Sela, Kai yang berdiri di hadapan Sela langsung menarik pinggangnya dan meluk nya.
"Kai, aku tidak mau, lepaskan aku!"
"Tidak, sebelum kamu mengatakan tidak akan menolak permintaanku,"
"Tapi maaf Kai, meskipun kita akan segera menikah, aku tidak ingin melakukannya terlebih dahulu, aku sudah pernah mengatakan padamu bukan,"
Kai mengukir senyum dari kedua sudut bibirnya mendengar perkataan Sela, lalu dirinya melepas pelukannya dan beralih menunjuk kening Sela.
"Ternyata pikiran kamu purnomo,"
"Maksudnya ini ada hubungannya dengan satpam komplek perumahan ku, pak Purnomo?"
__ADS_1
"Ya ampun Sela maksud aku, pikiran kamu itu arahnya ke atas ranjang, kenapa bawa-bawa satpam komplek kamu,"
"Lagian kalau bicara itu yang benar dan menggunakan bahasa manusia,"
"Itu juga bahasa manusia, biar tidak kena sensor," ujar Kai sambil tersenyum.
"Terus kalau bukan anu, apa permintaanmu?"
"Anu apa lagi?"
"Sudahlah Kai, katakan atau aku akan turun menemui Mama,"
"Oke, aku ingin meminta kamu tinggal di rumahku mulai hari ini, dan aku janji aku tidak akan macam-macam,"
"Kai–
"Sssttt," Kai menaruh jari telunjuk nya di bibir Sela, agar Sela tidak melanjutkan perkataannya. "Ini demi keamanan mu,"
"Tapi Harza dan juga Hendri sudah berada di dalam penjara, jadi tidak akan ada yang mengusik ku,"
Namun Kai tidak meneruskan perkataannya, dan tidak ingin memberi tahu bahaya apa yang mengintai Sela, agar Sela tidak cemas.
"Tapi apa?"
"Agar rumah ini terasa berwarna karena ada bidadari cantik yang tinggal di sini," jawab Kai sambil mencubit dagu Sela dengan gemas.
"Tapi aku tidak mau Kai,"
"Kalau begitu aku yang akan tinggal di rumahmu, dan menjagamu,"
"Jangan berlebihan Kai, aku bukan anak kecil. Dan aku menolak tinggal di sini dan juga menolak kamu tinggal di rumahku, titik!" tegas Sela lalu membalik tubuhnya dan pergi meninggalkan Kai, yang langsung meraup wajahnya.
__ADS_1
"Ini demi kebaikan kamu Sela," ujar Kai lalu melangkahkan kakinya menuju meja yang ada di samping tempat tidurnya, kemudian meraih ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang.
*
*
*
"Kerja bagus, aku bangga padamu, dan sekarang kamu tinggal mengikuti aba-aba ku, apa yang harus kamu lakukan selanjutnya," ujar Anton sambil menepuk pundak Rani yang sedang duduk di ruang tamu, setelah Rani bisa masuk ke dalam perusahaan Sela dengan menyamar sebagai office girl.
"Kak, tapi ada yang janggal,"
"Apa?" tanya Anton antusias dan langsung duduk di hadapan Rani.
Lalu Rani mengeluarkan kertas dari dalam tasnya dan memberikannya pada Anton, kertas yang dirinya temukan di tumpukan sampah, saat dirinya akan membuang sampah.
Kemudian Anton mengerutkan keningnya, saat sudah membaca tulisan yang ada di kertas tersebut meskipun kertas tersebut sudah sangat lusuh. Lalu Anton beranjak dari duduk nya dan melipat kertas tersebut kemudian memasukannya ke dalam kantong celananya.
"Kak ada apa?"
"Tidak ada, aku pergi dulu," jawab Anton lalu keluar rumah meninggalkan Rani yang terlihat bingung dengan perubahan ekspresi wajah Anton.
*
*
*
Papa Doni yang berada di perusahaan Sela, tepatnya di ruang kerja mantan menantunya tersebut, men de sah kesal saat sedang mencari sesuatu yang belum juga dirinya temukan, saat dirinya menyelinap masuk ke ruang kerja Sela.
"Ya ampun kenapa aku bisa teledor seperti ini," ucapnya dan terus mencari apa yang sedang di carinya di setiap laci dan juga lemari yang ada di ruangan tersebut, dirinya masih ingat betul beberapa bulan lalu saat penyerahan perusahaan, dirinya membawa benda yang sedang di carinya, dan lupa menaruh dimana, tapi seingat papa Doni dirinya menyelipkan benda tersebut di dalam map yang sekarang sudah berada di tangannya, yang baru saja dirinya ambil dari dalam lemari.
__ADS_1
"Mudah mudahan Sela tidak melihat nya,"
Bersambung........................