
Harza meraup wajahnya kasar menggunakan tangan yang baru saja dirinya gunakan untuk membanting piring hingga pecah berserakan, saat dirinya sedang berada di ruang makan.
Harinya sudah tidak berwarna lagi, istri yang dengan tulus mencintainya sudah menceraikannya, wanita yang sangat di cintai nya, pergi karena tahu jika dirinya tidak memiliki apa pun.
Brak!
Harza menggebrak meja makan, mengingat kembali kenangan dirinya bersama dengan Sela, tidak pernah sekalipun, Sela tidak menghidangkan makanan untuknya, dirinya pulang larut malam pun, Sela dengan setia menunggunya hingga terlelap di meja makan.
Harza duduk di bangku yang sering dirinya duduki, kemudian menatap kursi di mana Sela selalu duduk.
"Maafkan ku Sela, aku sadar kamu lah yang terbaik, dan bodohnya aku telah menyia nyiakan dirimu," ucap Harza lalu beranjak dari duduknya sambil menatap jam dinding yang terpajang di tembok ruang makan yang menunjukkan pukul delapan malam.
Harza menyambar kunci motor yang ada di atas meja makan, lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah menuju motor yang terparkir di halaman rumahnya, motor yang menggantikan mobilnya yang sudah di jual untuk memenuhi kehidupan sehari-hari saat dirinya belum juga mendapat pekerjaan, meskipun dirinya sudah melamar kerja ke satu perusahaan dan perusahaan lainnya tapi tetap saja tidak ada yang mau menerimanya.
"Sela, mudah mudahan hari ini kamu akan memaafkan aku, dan aku tidak akan menyerah sebelum kamu memaafkan ku dan mendapatkan kamu kembali," ujar Harza lalu naik ke atas motor nya.
*
*
*
Kai membuka pintu mobil di mana Sela duduk, untuk mempersilahkan nya keluar, saat keduanya sudah tiba di rumah Sela, setelah seharian Sela berada di rumah Kai atas permintaan mama Leni.
"Terima kasih," ujar Sela dan meraih tangan Kai yang ingin membantunya turun dari mobil.
"Sama-sama calon istriku," balas Kai sambil tersenyum ke arah Sela yang juga tersenyum ke arah nya.
"Kai, jangan seperti ini,"
__ADS_1
"Itung-itung belajar sebelum kita melangkah bersama menuju panggung pelaminan," ujar Kai saat dirinya meletakan tangan Sela di lengannya.
"Tidak perlu belajar juga bisa Kai, jangan modus,"
"Ya sudah begini saja,"
Kei merubah posisinya dan sekarang menautkan jari jemari nya di jari-jari Sela, membuat Sela langsung menghentikan langkahnya.
"Kai," Sela melepas tautan jari jarinya lalu menatap ke arah Kai.
"Jangan banyak bicara, aku ingin memastikan kamu selamat sampai rumah,'
" Ya ampun Kai, aku sudah berada di rumah ku, kamu jangan keterlaluan,"
"Siapa bilang, kamu masih di luar rumah,"
"Tidak bisa, aku ingin memastikan kamu masuk ke dalam rumah,"
"Terserah padamu," sambung Sela, lalu melangkahkan kakinya menuju pintu rumahnya begitu dengan Kai yang mengikuti nya dari belakang.
Sebenarnya Sela begitu bahagia, dengan perhatian Kai, yang membuat dirinya merasa di hargai sebagai seorang wanita, tidak seperti saat bersama dengan Harza, karena dirinya yang selalu memberikan perhatian pada Harza, yang begitu dingin dan juga kaku kepadanya.
Sela menarik tangan Kai, yang berjalan mendahuluinya, saat Kai akan masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.
"Siapa yang menyuruhmu masuk?" tanya Sela, dan Kai pun hanya tersenyum ke arah Sela.
"Tidak ada, aku hanya ingin memastikan kamu masuk ke dalam kamarmu, dan beristirahat, karena kita besok akan menemui papa doni di rumah sakit ketika jam makan siang, apa kamu lupa?"
"Jangan modus, ingat aku tidak ingin kejadian tadi pagi terulang lagi,"
__ADS_1
"Oke oke,"
"Ya sudah aku masuk dulu, dan kamu hati-hati di jalan,"
"Hanya itu?"
Sela yang mendengar pertanyaan Kai, langsung menautkan ke dua alisnya.
"Kai jangan macam-macam,"
"Hanya satu macam, sepertinya bibirku terasa pahit dan aku butuh pemanis," ujar Kai sambil mengusap bibir Sela dengan ibu jarinya.
"Kai,"
"Kenapa? Aku janji hanya mencium sekilas dan tidak akan lebih,"
"Janji?"
"Janji, lebih pun tidak masalah bukan? Kita kan akan segera menikah,"
"Menikah?" tanya seseorang membuat Kai dan juga Sela langsung menatap sumber suara.
"Harza," ucap Sela saat mendapati Harza susah berada tidak jauh dari nya, dan Kai pun langsung memeluk pinggang Sela, takut jika Sela di ambil darinya.
"Apa aku tidak salah dengar, kalian ingin menikah?"
"Tidak, itulah kenyataannya, untuk apa kamu datang kemari, pulanglah!"
Bersambung........................
__ADS_1