BALAS DENDAM Terindah

BALAS DENDAM Terindah
57. Aku Tidak Punya uang


__ADS_3

Kai terus mengukir senyum dari ke dua sudut bibirnya dan begitu bahagia, ketika dirinya baru saja turun dari mobil saat sudah berada di rumah.


Bagaimana tidak bahagia, saat dirinya bisa membawa Sela ke dalam pelukannya dan tidak sengaja mencium bibir Sela, meskipun itu hanyalah insiden dan hanya beberapa detik yang terjadi di kamar Sela.


"Sepertinya rumah sakit jiwa akan kedatangan pasien baru,"


Kai yang tahu ucapan itu di tujukan padanya, terus mengukir senyum dan memeluk bahu mama Leni yang menyambutnya di depan pintu.


"Apa Mama ingin anak Mama yang tampan ini masuk rumah sakit jiwa?"


"Tentu saja tidak, ceritakan pada Mama apa yang terjadi hari ini, kenapa kamu terlihat begitu senang, apa Sela sudah menerima cintamu? Apa kamu sudah mengatakan perasaan mu padanya?"


Kai langsung menggelengkan kepalanya dan masuk ke dalam rumah dengan memeluk bahu Mama Leni.


"Terus?"


"Aku tadi mencium bibir Sela Ma,"


Mendengar perkataan putranya mama Leni menghentikan langkah nya lalu menatap Kai dengan tajam.


"Bagaimana bisa kamu mencium nya, jika kamu belum mengatakan perasaanmu, atau jangan-jangan–


"Jangan berfikir negatif Ma, aku ini anak baik, tidak mungkin aku memaksa nya," sambung Kai memotong perkataan mama Leni.


"Terus?"


"Tidak sengaja, dan aku sungguh bahagia," ucap Kai dengan senyum yang terus menghiasi ke dua sudut bibirnya.


"Ya ampun sayang, mama takut seandainya cintamu hanya bertepuk sebelah tangan, dan Sela memang hanya menganggap mu sebagai teman,"


"Kenapa Mama berkata seperti itu, harusnya Mama berdoa agar Sela menerima cintaku,"

__ADS_1


"Bagaimana dia akan menerima cintamu, jika kamu tidak mengungkapkan nya,"


"Aku tidak ingin merusak pertemanan kita Ma, jika aku harus terburu buru mengatakan yang sesungguhnya,"


"Bagaimana jika ada pria yang mendekati Sela?"


"Itu tidak akan pernah terjadi, karena aku akan selalu berada di sampingnya,"


"Terserah kamu, Mama selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Kapan kamu akan mengenalkan Sela pada mama?"


"Kapan-kapan saja, aku tidak ingin mama membocorkan perasaanku padanya, jika mama bertemu dengan Sela,"


"Itu akan lebih baik bukan?"


"Mama,"


"Iya tidak akan, sudah sana, Bima dari tadi sudah menunggumu di ruang kerja,"


"Iya,"


"Ya sudah aku masuk dulu, selamat malam ma," ucap Kai dan mencium kening mama Leni, lalu berjalan dengan terburu buru menuju ruang kerjanya yang berada di kamarnya.


"Muka gembira sekali?" tanya Bima saat Kai sudah berada di ruang kerjanya.


"Tentu, oh iya, ada apa malam-malam datang ke rumah? Tidak biasanya. Jangan bilang ada hal yang membahayakan Sela?" tanya Kai, dan Bima pun langsung menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Kai.


Hembusan kasar keluar dari bibir Kai, saat Bima menceritakan informasi yang baru saja dirinya dapat dari anak buahnya.


"Sebaiknya apa yang harus kita lakukan? Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Sela,"


"Kamu tenang saja, anak buah ku sangat profesional, aku akan menyusun rencana,"

__ADS_1


"Baiklah, aku selalu percaya padamu lakukan yang terbaik,"


*


*


*


Prang!


Suara bantingan piring dari arah dapur, menjadi sambutan selamat datang untuk papa doni, saat dirinya baru masuk ke dalam rumah setelah pulang dari rumah Sela.


"Doni!!!" teriak mama Nisa, menghentikan langkah papa Doni yang akan menuju kamarnya, lalu papa Doni membalik tubuhnya untuk menatap istrinya yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Apa kamu ingin menyiksaku? Kenapa asisten rumah tangga kamu pecat semua, dan kenapa kartu kredit ku kamu bekukan?"


"Karena aku tidak punya uang lagi," hanya itu ucapan yang keluar dari mulut papa Doni membuat mama Nisa begitu kesal.


"Aku menyesal telah menikah denganmu Doni!"


"Aku juga sama," balas papa Doni lalu membalik tubuhnya untuk meninggalkan mama Nisa, tapi baru saja beberapa langkah papa Doni melangkah, mama Nisa berteriak memanggil namanya dan papa Doni pun menghentikan langkah nya kembali.


"Aku ingin bercerai dan aku minta harta gono gini,"


Senyum terukir dari sebelah sudut bibir papa Doni, mendengar perkataan mama Nisa, dan papa Doni pun langsung menatap istrinya tersebut.


"Harta gono gini dari mana, aku sudah tidak memiliki apa pun, rumah ini saja sudah digadaikan,"


"Dasar menyebalkan, aku benci dirimu Doni!" ucap kesal mama Nisa lalu meninggalkan papa Doni yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Bersambung.....................

__ADS_1


__ADS_2