BALAS DENDAM Terindah

BALAS DENDAM Terindah
63. Begitu Malang


__ADS_3

"Selamat pagi," sapa wanita paruh baya yang baru saja masuk ke dalam kamar dimana Sela berada, dan senyum terus menghiasi ke dua sudut bibir nya, sambil melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur di mana Sela masih diam terpaku.


"Pagi," jawab Sela dan balas tersenyum ke arah mama Leni.


"Bagaimana dengan tidurmu nak, apa pipi mu masih sakit? Kalau masih sakit nanti mama berikan obat untuk menghilangkan memar di pipi mu,"


Lalu mama Leni duduk di pinggiran tempat tidur dan membelai wajah Sela.


"Kenapa–


"Mama tahu semua nak, Kai sudah menceritakan semuanya pada mama," sambung mana Leni memotong perkataan Sela.


"Kai?"


"Iya anak mama satu satunya yang begitu malang,"


"Jadi mama ini–


"Mama Leni, kamu panggil saja mama, mama dari Kaindra Maraja, pria yang sangat mencintaimu,"


Mendengar perkataan mama Leni, Sela langsung menautkan kedua alisnya sambil menatap mama Leni.


"Maksud Mama?"


Mama Leni langsung tersenyum lalu meraih ke dua tangan Sela dan menggenggam nya.


"Apa Kai tidak pernah mengatakan jika dia mencintaimu?" tanya mama Leni tapi Sela tidak menjawabnya, karena Kai sudah sering mengatakan itu berulang kali, dan Sela pikir Kai hanya sedang bercanda dengannya.


"Nak, kenapa kamu diam saja?"

__ADS_1


"Em maaf Ma,"


"Nak, kamu harus tahu satu hal, mungkin Kai tidak pernah memberi tahu kamu, tapi mana ingin memberi tahu rahasia besar padamu tentang Kai,"


"Maksud Mama?" tanya Sela, dan Mama Leni langsung memberi tahu kebenaran yang selama ini di tutupi oleh Kai.


Selepas kepergian mama Leni dari kamar, Sela benar-benar masih tidak percaya pada apa yang di katakan oleh mama Leni, lalu dirinya turun dari tempat tidur untuk membersihkan diri, saat beberapa pelayanan sudah membawakan pakaian untuk nya.


Sela mengurungkan langkahnya, lalu tatapannya tertuju ke arah meja yang berada di sudut ruangan tersebut yang luput dari pandangannya.


Kemudian Sela melangkahkan kakinya menuju meja panjang tersebut yang banyak berjajar bingkai foto di atasnya.


Sela mengambil salah satu bingkai foto dan menautkan ke dua alisnya, menatap foto yang ada di tangannya.


"Ya ampun, ini fotoku saat lulus sekolah menengah atas, dan ini," ucap Sela lalu mengambil lagi foto lain dirinya, yang berjajar memenuhi meja tersebut, dan foto tersebut diambil beberapa tahun lalu.


"Ada apa ini, kenapa foto ku memenuhi meja ini, apa yang di katakan mama Leni benar," ujar Sela mengingat kembali perkataan mama Leni.


"Kai, apa kamu sudah bangun? Ada informasi penting yang ingin aku beri tahu kamu, dan ini tentang–


Bima yang baru masuk ke dalam kamar tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah kamar Kai, menghentikan ucapannya saat melihat Sela ada di kamar tersebut.


"Sela,"


"Bima, kamu? Kenapa kamu ada di sini? Dan tadi kamu memanggil Kai, berarti kamu dan Kai?"


"Aku bisa menjelaskan, dan mari ikut denganku," ujar Bima lalu menuju sebuah ruangan yang masih ada di kamar tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah ruang kerja Kai.


Sela yang mengikuti Bima, dan sudah masuk ke dalam ruangan tersebut, langsung menutup mulutnya tidak percaya pada apa yang di lihatnya.

__ADS_1


"Bima,"


"Sebelumnya maaf, aku tidak mengatakan sejujurnya padamu, jika aku dan juga Kai sudah berteman sejak lama, dan foto-foto kamu yang memenuhi ruangan ini, aku yang mengambilnya atas perintah–


" Kai, aku sudah tahu, mama Leni sudah menceritakan semuanya padaku tadi," sambung Sela memotong perkataan Bima, dan pandangan terus menatap satu persatu foto dirinya yang berada di setiap jengkal dinding ruangan tersebut.


"Bagus kalau kamu sudah tahu, dan kamu tahu kenyataanya jika Kai mempunyai cinta yang besar padamu,"


"Tapi aku kecewa padamu Bima,"


"Sekali lagi aku minta maaf padamu, aku melakukan ini juga ada alasannya,"


Bima meraih tangan Sela yang akan keluar dari ruangan tersebut, lalu Bima menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutup tutupi lagi.


*


*


*


Sela membuka perlahan pintu kamar yang bersebelahan dengan kamar di mana tadi dirinya berada, saat mama Leni mengatakan Kai masih tidur di kamar tersebut.


Dan benar saja, mata Sela langsung tertuju pada Kai yang masih tidur pulas di atas tempat tidur.


Kemudian Sela melangkahkan kakinya pasti ke arah tempat tidur untuk menghampiri Kai.


"Kai," panggil Sela saat sudah mendekati Kai, tapi tidak ada pergerakan dari Kai yang masih tertidur pulas, lalu Sela duduk di pinggiran tempat tidur, dan tangannya membelai wajah Kai.


"Aku kira kamu–

__ADS_1


Belum juga Sela menyelesaikan ucapannya tangannya sudah di pegang oleh Kai, lalu Kai menarik Sela dan membawanya ke dalam pelukannya.


Bersambung................


__ADS_2