
Kai menoleh ke arah Hendri yang berteriak seiring dengan suara tembakan, lalu Hendri jatuh ke atas aspal sebelum menembak Kai, karena dirinya duluan yang terkena tembakan dari pistol anak buah Bima yang baru saja datang bersama dengan Bima.
Kemudian Bima mendekat ke arah Kai, yang sebelumnya menyuruh anak buahnya untuk mengamankan Harza dan juga Hendri yang sedang mengerang kesakitan memegangi ke dua pahanya yang terkena timah panas.
"Maaf aku datang terlambat, kamu baik-baik saja?" tanya Bima sambil menahan tubuh Kai yang hilang ke seimbangan.
"Sepertinya kakiku terluka,"
"Baiklah aku akan mengantarmu ke rumah sakit, untuk Harza dan Hendri biar anak buah ku yang menangani nya, kamu tidak perlu kuatir, aku tahu apa yang harus aku lakukan pada mereka,"
"Aku serahkan mereka padamu, jangan sampai mereka mengganggu kehidupan ku dan juga Sela, kalau perlu masukan mereka ke dalam penjara,"
"Sebelum mereka aku masukan ke dalam penjara, biarkan mereka merasakan pelajaran diriku terlebih dahulu,"
"Bima ingat jangan sampai kamu–
"Aku tidak akan membuatnya mati, kamu tenang saja, paling hanya sekarat," sambung Bima memotong perkataan Kai, lalu memapah Kai menuju mobilnya.
*
*
*
Pagi hari Sela yang baru sampai di perusahaan Maraja sambil menenteng paper bag di tangan kanannya, yang berisi sarapan untuk Kai yang akhir-akhir ini sering dirinya bawa, saat Kai tidak menjemput nya dan menikmati sarapan bersama, dan Sela pun keluar lagi dari perusahaan tersebut, saat sekretaris Kai mengatakan jika Kai sedang di rawat di rumah sakit.
"Kai kenapa kamu tidak memberi tahu ku, jika kamu sakit," ucap Sela penuh kekuatiran, lalu berjalan menuju mobilnya yang terparkir tepat di lobi perusahaan Kai, dan menyuruh sopir pribadi nya mengantarnya ke rumah sakit di mana Kai sedang mendapat perawatan.
*
__ADS_1
*
*
Sela yang sudah berada di rumah sakit berjalan dengan terburu buru menuju ruang perawatan Kai, saat sebelumnya dirinya sudah menghubungi Kai.
Sela membuka pintu ruang perawatan Kai dengan pelan, lalu matanya tertuju ke arah ranjang di mana Kai sedang terbaring, dan tersenyum padanya, lalu beranjak dari tidurnya dan duduk di atas ranjang, tapi Sela tidak membalas senyumannya, malah dirinya mengerucutkan bibirnya sambil mendekat ke arah Kai.
"Tetap saja manis dan begitu mengemaskan, kalau kaki ku tidak sakit, sudah aku bawa kamu– ach Sela sakit!"
Kai tidak jadi meneruskan perkataanya, dirinya malah berteriak kesakitan, saat Sela yang sudah mendekat langsung mencubit lengannya dengan kencang.
"Aku sedang sakit, masa kamu memperlakukan ku seperti ini, harusnya–
"Apa kamu tidak tahu aku sangat kuatir, dan aku susah bernafas saat mendengar kamu dirawat di rumah sakit," Sela memotong perkataan Kai lalu memeluknya dengan erat.
"Kai,"
"Ach Sela!" teriak Kai lagi saat Sela melepas pelukannya dan beralih mencubit lengan nya kembali.
"Aku sedang tidak bercanda," ujar Sela lalu menempelkan punggung tangannya di kening Kai. "Tidak panas, "
"Tentu saja tidak,"
"Terus kamu sakit apa?"
"Sakit mata, karena saat aku bangun tidur tadi tidak melihat bidadari bernama Arsela Maharani,"
"Kai,"
__ADS_1
"Sela, aww sakit," Kai langsung memejamkan matanya menahan sakit saat Sela memukul kakinya yang sudah terpasang strap untuk menyangga kakinya yang mengalami retak tulang, akibat pukulan Harza yang sangat keras, menggunakan tongkat bisbol.
Lalu Sela membuka selimut yang masih menutupi kaki Kai, dan mengerutkan keningnya mengetahui jika kaki Kai terluka,
"Ada apa dengan kakimu?" tanya Sela penuh selidik.
"Jatuh saat akan turun dari mobil," Kai menjawab sambil tersenyum dan menaikkan kedua alisnya naik turun, tidak ingin Sela tahu yang sebenarnya.
"Jangan bercanda, tidak mungkin jatuh bisa seperti ini, atau jangan-jangan–
Sela tidak meneruskan perkataannya, dirinya langsung mengambil tas yang tadi dirinya taruh di atas meja di samping ranjang perawatan Kai, dan ingin meninggalkan Kai, sebelum Kai menahan tangannya.
"Mau ke mana?"
"Pasti ini perbuatan Harza betul kan, dan aku akan memberi perhitungan padanya,"
"Tidak perlu, Bima sudah mengurusnya, tetap lah berada di sini menemani ku hari ini," pinta Kai membuat Sela langsung membalik tubuhnya untuk menatap Kai.
"Kenapa kamu tidak memberi tahu ku sebelumnya?"
"Untuk apa," jawab Kai dan menarik tangan Sela dan membawanya ke dalam pelukannya. "Tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain dirimu, tenang saja tidak akan lama lagi aku juga sembuh,"
kemudian Sela langsung melepas pelukannya dan menatap Kai.
"Ini juga ka–
"Jangan katakan apa pun dari sini," Kai memotong perkataan Sela sambil mengusap bibir Sela, dan mendekatkan wajahnya ingin mencium bibirnya, sebelum ada seseorang yang masuk ke dalam ruang perawatan nya sambil berdehem.
Bersambung.......................
__ADS_1