BALAS DENDAM Terindah

BALAS DENDAM Terindah
79. Bukti?


__ADS_3

Papa Doni sedang menikmati makan malam yang di masak oleh asisten rumah tangganya, yang sebenarnya tidak pernah dirinya pecat, meskipun dirinya sudah tidak memegang perusahaan, tapi dirinya masih mampu untuk menggaji asisten rumah tangga, dengan uang yang di hasilkan dari perkebunan kelapa sawit miliknya yang ada di Kalimantan, perkebunan yang di berikan orang tua angkatnya, yang lebih tepatnya orang tua Dery ayah kandung dari Sela.


Baru beberapa suap memakan makanan yang ada di hadapannya, papa Doni menaruh sendok nya, saat nafsu makannya tiba-tiba hilang, kala mengingat kembali, dirinya kehilangan sesuatu yang sangat berharga yang pernah Dery berikan padanya.


"Ya Tuhan mudah mudahan Sela tidak menemukan kertas itu, dan aku tidak ingin Sela membenciku lagi, jika dia tahu rahasia besar apa yang aku sembunyikan darinya selama ini," ucap papa Doni mengingat lagi kertas penting pemberian Dery hilang entah kemana,"


"Tuan," panggil asisten rumah tangga papa Doni dan menghampirinya ke meja makan.


"Ada apa?"


"Di depan ada seseorang yang ingin menemui tuan,"


"Siapa?"


"Tidak tahu Tuan, saya belum pernah melihat pria itu,"


"Pria?"


"Iya Tuan, kalau Tuan tidak ingin menemuinya biar saya sampaikan jika Tuan sudah tidur,"


"Tidak perlu, aku akan menemuinya,"


"Baiklah Tuan, saya akan menyuruhnya untuk masuk,"


"Tidak perlu biar aku saja yang menghampiri nya langsung,"


"Baik Tuan,"

__ADS_1


Papa Doni segera beranjak dari duduknya den melangkahkan kakinya menuju pintu. Papa Doni yang baru saja membuka pintu langsung mengerutkan keningnya saat melihat pria yang berdiri di depan pintu.


"Kamu?"


"Apa aku boleh masuk?" tanya balik pria tersebut tanpa menjawab pertanyaan papa Doni, dan langsung masuk ke dalam rumah melewati papa Doni tanpa permisi. "Bagaimana rasanya tinggal di rumah ini om Doni, apa kamu merasa tenang? Aku yakin tidak, karena kamu melupakan siapa pemilik rumah ini,"


"Apa kamu kira ini rumahmu? Tidak Anton!" tegas papa Doni dan berjalan menghampiri Anton yang sudah duduk di sofa ruang tamu rumah papa Doni, yang lebih tepatnya rumah orang tua angkat papa Doni.


"Pergi dari rumahku, dan kembali pada ibumu yang ja lang itu! "


Mendengar perkataan papa Doni Anton langsung berdiri dari duduknya sambil mengepalkan ke dua tangannya.


"Kapan kalian akan sadar jika ibuku yang sedang terbaring lemah di rumah sakit bukan ja lang seperti yang kalian tuduhkan selama ini. Apa kalian lupa pada apa yang telah kalian lakukan dulu padanya, melemparnya ke jalanan, atas kesalahan yang tidak pernah dia lakukan, kamu masih ingat bukan Doni? Ibuku selalu menunjukkan bukti-bukti jika dia tidak bersalah tapi kalian menganggapnya tidak pernah ada lagi,"


"Bukti?"


Papa Doni mengerutkan keningnya, setelah mendengar semua pernyataan yah terlontar dari mulut Anton, yang sudah dirinya kenal sejak lahir.


Lalu Anton mengambil sesuatu dari kantong celananya, dan memberikan ke tangan papa Doni.


"Pasti kamu sedang mencari ini bukan? Om Doni tercinta?" tanya Anton sambil tersenyum sinis. "Bisa bisanya kamu mengarang cerita, jika Sela menantu mu itu adalah pewaris tunggal perusahaan itu, apa karena dia adalah anak dari sahabatmu?"


"Bukan hanya itu, dia juga satu satunya darah daging Dery,"


"Apa!"


*

__ADS_1


*


*


Sela membuka matanya saat jam di dinding kamarnya menunjukan pukul enam pagi, dan ini pertama kalinya dia bangun sesiang ini, karena mulai hari ini dirinya tidak akan berangkat ke kantor, dan hanya fokus pada pernikahannya yang akan di gelar beberapa hari lagi.


Sela yang enggan turun dari tempat tidur langsung mengambil ponsel miliknya yang terdapat di atas meja nakas samping tempat tidurnya lalu memainkan nya.


"Masuk, tidak dikunci," ucap Sela saat ada yang mengetuk pintu kamarnya mempersilakan nya untuk masuk, dan dirinya terus fokus pada ponsel yang ada di tangannya.


"Selamat pagi,"


Sela yang tidak asing dengan suara yang di dengarnya, langsung menatap sumber suara.


"Kai," ucap Sela sambil mengerutkan keningnya, bisa bisanya kai datang ke rumahnya pagi-pagi buta.


Tapi Kai tidak menghiraukan ucapan Sela karena dirinya langsung naik ke atas tempat tidur, lalu merebahkan tubuhnya di samping Sela dan memeluk nya dengan erat.


"Kai, apa yang kamu lakukan? Lepaskan!"


"Tidak akan,"


"Kai!"


Bersambung.......................


Readers emcun: Kelamaan, langsung hajar Kai G P L

__ADS_1


Aku yang polos: Iya Kai benar, eh maksudnya jangan Kai belum sah, sabar Kai🤭🤭🤭🤭🤭🤭


__ADS_2