BALAS DENDAM Terindah

BALAS DENDAM Terindah
08 Menyakitkan


__ADS_3

"Jadi…"


"Jangan berpikir macam-macam tentang Harza. Kalau dia ada main dengan perempuan lain juga tidak masalah. Untuk apa dia masih terus bersama dengan dirimu yang tidak sama sekali bisa memberikan keturunan," celetuk mama Nisa mama mertua dari Sela yang langsung pergi masuk ke dalam rumah meninggalkan suaminya dan juga Sela yang begitu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh sang mama mertua.


Memang Sela akui selama ini ibu mertuanya tersebut tidak menyukai dirinya. Tapi Sela tidak pernah menyangka kalau mama mertuanya akan mengatakan hal yang menyakitkan bagi Sela. 


"Nak. Jangan dengarkan perkataan mama kamu dan maafkan dia," ujar papa Doni papa mertua Sela sambil meraih tangan Sela lalu menggenggamnya dan menepuk punggung tangan Sela untuk menenangkan Sela. Karena selama ini hanya Papa Doni dan juga Harza yang menyayangi Sela. 


"Mama tidak salah Pa. Aku yang salah karena sampai sekarang aku belum juga memberikan cucu pada Papa dan juga Mama,"

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan nak? Itu tidak benar. Jodoh, maut hingga keturunan Tuhan lah yang menentukannya. Tuhan tahu kapan terbaik memberikan keturunan pada umatnya. Jadi jangan katakan yang tidak-tidak. Lagian kalian menikah belum lama. Jadi jangan jadikan beban ya nak,"


"Baik pa," ucap Sela pasrah tidak tahu apa yang harus dirinya katakan. Kemudian Papa Doni langsung mengalihkan pembicaraan saat tahu Sela begitu terpukul dengan perkataan sang istri. Dan Sela pun langsung membuang jauh kesedihan karena perkataan sang mama mertua dan juga pikiran negatif tentang Harza saat Papa mertuanya begitu lihai menghibur Sela. Papa mertua yang sudah di anggap Papa sendiri oleh Sela saat Sela sudah tidak memiliki orang tua kandung yang sudah meninggal dunia.


Hingga terdengar keributan dari dalam rumah membuat Papa Doni langsung beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam rumah diikuti oleh Sela dari belakang. 


"Istri macam apa. Ini tidak becus itu tidak becus. Mengurus anak sendiri saja tidak bisa," teriak mama Nisa memarahi wanita yang sedang duduk di sofa sambil memangku anak kecil yang sedang menangis. 


"Hendri apa ini yang Papa ajarkan kepadamu?" tanya Papa Doni saat pria tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah kakak dari Harza, berjalan melewati Papa Doni. Tapi tidak dihiraukan oleh Hendri yang langsung keluar dari rumah sambil melirik ke arah Sela.

__ADS_1


"Ma ada apa ini pagi-pagi sudah ribut?" tanya Papa Doni saat sudah mendekat ke arah istrinya yang sedang memarahi menantunya. 


"Tanya saja pada menantu Papa ini. Punya menantu tidak ada satupun yang benar yang satu mandul. Yang satu lagi tidak bisa melakukan apapun," ucap kesal mama Nisa sambil melirik ke arah Sela kemudian pergi menuju kamarnya. Dan Papa Doni yang baru saja menenangkan Risa menantu pertamanya langsung menyusul sang istri. Kemudian Sela langsung duduk di samping istri dari kakak iparnya tersebut. 


"Sabar kak. Kita sudah tahu bagaimana sifat mama," ujar Sela sambil merangkul bahu Risa. 


"Tapi aku sudah tidak kuat lagi tinggal di rumah ini Sela. Dan rasanya aku ingin bercerai dengan mas Hendri yang semakin kesini semakin kasar kepadamu,"


"Jangan katakan itu kak. Ingat ada si kecil di antara kalian. Berdoa saja agar mas Hendri bisa merubah sikapnya," ujar Sela untuk menasehati Risa yang sudah Sela anggap sebagai sahabatnya.

__ADS_1


"Syukurlah mas Harza tidak pernah berbuat kasar padaku. Dan selalu menyayangiku," gumam Sela dalam hati sambil tersenyum, dan terus memeluk bahu kakak iparnya tersebut untuk menenangkannya. 


Bersambung.........


__ADS_2