
Sela yang sudah sampai di dalam kamar, berjalan menghampiri Harza yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur sambil memegangi keningnya.
"Mas, maafkan aku karena–
"Diam! Dan jangan katakan apa pun. Aku bukan papa yang bisa kamu bohongi," Harza memotong perkataan Sela dan masih tetap pada posisinya tanpa menatap ke arah Sela.
Kemudian Sela memberanikan diri duduk di samping Harza, dan memegang bahu sang suami.
"Demi Tuhan. Apa yang Mas Harza tuduhkan padaku, itu tidak benar Mas. Aku bersumpah,"
"Dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah percaya padamu!" Harza berkata dengan penuh penekan kemudian menyingkirkan tangan Sela dengan kasar, lalu berdiri dari tempatnya, untuk mengambil bantal dan guling lalu melemparnya ke arah Sela.
"Aku tidak ingin tidur bersamamu di ranjang yang sama, menyingkirlah dari tempat tidurku!"
__ADS_1
"Mas Harza kenapa memperlakukan ini padaku Mas?"
"Jangan banyak bertanya, minggir lah dari hadapanku," ujar Harza kemudian mendorong tubuh Sela dengan kasar hingga Sela terjauh di lantai, bukannya menolong, Harza malah tersenyum sinis kemudian mematikan lampu kamarnya lalu naik ke atas tempat tidur.
Sela yang baru pertama kali mendapat perlakuan kasar dari sang suami, hanya bisa menangis, entah mengapa dirinya merasa menjadi wanita yang sangat lemah kali ini. Kemudian Sela beranjak dari tempatnya menuju sofa yang berada di dalam kamarnya dengan air mata yang terus membasahi pipinya.
Mata Sela tertuju pada jam dinding yang berada di kamarnya saat dirinya tidak merasakan kantuk sedikitpun, meskipun dengan pencahayaan yang minim Sela masih bisa melihat dengan jelas, jarum pendek yang terdapat di jam dinding kamarnya menunjukkan angka tiga, kemudian Sela menghapus sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipinya. Entah mengapa Sela yang akan beranjak dari tempatnya, langsung mengingat lagi perkataan Kai kemarin siang.
"Sela jangan dengarkan dia, dia bukan siapa-siapa kamu, ingat itu." gumam Sela pada dirinya sendiri kemudian berjalan menuju arah tempat tidurnya.
"Mas. Kenapa kamu jadi berubah seperti ini, aku memang salah karena tidak memberi tahu kamu sudah pergi dengan orang lain, sekali lagi maafkan aku mas," ucap lirih Sela sambil membelai wajah sang suami yang sangat di rindukan nya.
Sela yang sedang membelai wajah sang suami langsung tersenyum penuh kebahagian saat Harza yang masih terpejam memegang tangan Sela dengan lembut.
__ADS_1
"Rani, jangan menggodaku," ujar Harza sambil mencium tangan Sela dengan mata yang masih terpejam.
Deg!
Sela yang mendengar nama wanita lain keluar dari mulut sang suami, menarik tangannya dan langsung beranjak dari pinggiran tempat tidur, dengan perasaan yang tidak karuan.
Kemudian mata Sela tertuju pada ponsel milik Harza yang tergeletak di atas meja nakas.
Ingin rasanya dia melihat isi ponsel milik sang suami. Karena perasaannya menuntun dirinya untuk melihat isi ponsel tersebut. Dengan perasaan takut karena tidak pernah sekalipun Sela pernah melihat ponsel Harza tanpa meminta izin terlebih dahulu, akhirnya Sela memberanikan diri untuk membuka ponsel Harza yang baru saja dirinya ambil.
Sela mengerutkan keningnya setelah menekan pin ponsel milik sang suami yang dirinya tahu mengunakan tanggal pernikahannya, tapi tidak bisa dibuka, kemudian Sela mencoba menggunakan tanggal lahir Harza namun juga tidak bisa terbuka, kemudian Sela yang sudah lelah memasukkan berbagai macam pin yang biasanya di pakai sang suami tapi tetap tidak bisa dibuka, akhirnya menaruh ponsel tersebut di tempatnya kembali.
"Kemarilah," ucap Harza dengan mata yang terpejam sambil menarik tangan Sela dan membawanya ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Bersambung....................