
Sela yang terkejut karena sang suami membawanya ke dalam pelukannya langsung tersenyum senang, dan membuang kecurigaan terhadap Harza yang sempat terbesit di dalam benaknya.
"Tetaplah bersamaku Rani, tenang saja aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu sampai kapanpun,"
Deg!
Sela yang mendengar nama itu kembali keluar dari mulut suaminya merasa dadanya sesak dan jantungnya serasa tidak berdetak lagi. Senyum yang tadi terukir dari dari ke dua sudut bibirnya kini entah hilang kemana.
Air mata yang sudah kering karena semalaman menangis akhirnya membasahi pipinya kembali, dan Sela langsung melepas pelukannya dari Harza yang tidur begitu pulas.
"Aku tahu sekarang mas. Jadi kamu menuduhku karena kamu sendiri yang bermain di belakangku, baiklah kalau itu yang kamu inginkan Mas, dan aku akan mengikuti permainnanmu," ucap Sela yang masih merasakan sesak di dadanya, lalu menghapus air matanya kemudian berlalu menuju ke arah kamar mandi.
Hampir setengah jam Sela berada di bawah guyuran air shower, sambil mengingat lagi kejadian akhir-akhir ini, yang membuat dirinya yakin bahwa perubahan sang suami pasti karena ada orang ketiga. Tapi Sela tidak mau bertindak gegabah menuduh Harza tanpa bukti.
Papa Doni yang memang memutuskan untuk menginap di tempat Harza langsung melempar senyum kepada Sela yang sedang menyiapkan secangkir teh di hadapannya sebelum sarapan.
"Nak. Apa kamu dan Harza sudah baikkan?"
Sela yang mendengar perkataan papa Doni langsung tersenyum sebisa mungkin dirinya harus terlihat baik-baik saja.
"Apa Papa tidak melihat wajahku yang ceria ini? Dan tentunya aku dan juga Mas Harza sudah baikkan Pa,"
__ADS_1
"Bagus kalau begitu. Papa ikut bahagia mendengarnya nak, di mana Harza?"
"Masih di kamar Pa. Sebentar lagi turun, oh ya Pa. Mama dimana?"
"Dia langsung pulang semalam,"
"Oh baiklah aku tinggal kedapur dulu Pa,"
"Untuk apa?"
"Membuat sarapan,"
"Pa, biar aku saja yang membukanya,"
"Kalau begitu kita buka bersama," ujar papa Doni dan berjalan terlebih dahulu ke arah pintu di ikuti Sela dari belakang.
"Selamat pagi Tuan," sapa wanita paruh baya yang sadang menentang susunan tempat makan di tangan kanannya dan di sebelah kirinya terdapat koper, tepat di depan pintu saat Sela membuka pintu rumahnya.
"Selamat pagi Bi Ijah, perkenalkan ini menantuku. Apa Bi Ijah siap bekerja di rumah ini?"
"Siap Tuan. Perkenalkan Nona, saya Bi Ijah dan mulai sekarang saya akan bekerja di sini atas perintah Tuan Doni," jelas wanita paruh baya tersebut sambil mengulurkan tangannya ke arah Sela,"
__ADS_1
"Sela," ucap Sela sambil berjabat tangan kemudian menatap ke arah papa Doni.
"Jangan menolak lagi nak, papa hanya tidak ingin kamu kelelahan mengurus rumah sebesar ini sendirian,"
"Tapi pa–
" Jangan ada tapi oke, Harza juga tidak akan menolak, percaya pada papa," jelas papa Doni sambil menepuk bahu Sela, kemudian menyuruh bi Ijah untuk langsung bekerja dan menyiapkan sarapan yang di bawanya.
Sela melayani suaminya seperti hari-hari biasa, dan tidak nampak sedang ada masalah, apalagi saat Sela terus melempar senyum ke arah Harza yang merasa heran dengan sikap Sela, tidak seperti malam hari.
"Kenapa dia terlihat bahagia, ah sudahlah mungkin dia menutupi kesedihannya karena ada papa, baguslah setidaknya papa tidak akan memarahiku," gumam Harza dalam hati kemudian menyantap sarapan yang sudah tersaji di piringnya.
Setelah selesai menyantap sarapannya Harza langsung beranjak dari duduknya, tapi dirinya urungkan saat papa Doni menyuruhnya untuk duduk kembali.
Brak!
Papa Doni menggebrak meja makan dengan kencang sambil manatap tajam ke arah Harza yang begitu terkejut begitupun dengan Sela.
"Jawab jujur, untuk apa kamu keluar kota? Jangan bilang ada proyek. Karena perusahaan papa tidak ada proyek di luar kota, jawab Harza! Dan lihat papa," ucap kesal papa Doni saat Harza memalingkan wajahnya ketika papa Doni terus saja menatapnya dengan tajam.
Bersambung.....................
__ADS_1