BALAS DENDAM Terindah

BALAS DENDAM Terindah
53. Omong Kosong


__ADS_3

Prang!


Semua yang ada di meja rias milik Sela di rumah yang lama hancur berantakan, saat Harza menarik taplak mejanya, lalu Harza mengepalkan tangannya dan memukul kaca meja rias hingga kaca tersebut pecah dan melukai tangan Harza, yang sekarang terus mengeluarkan darah, setelah kepulangannya dari sidang perceraian.


"Sial!!!!!!" teriak Harza lalu menjatuhkan tubuhnya dengan kasar, di atas tempat tidur, tempat tidur yang selama dua tahun lebih dirinya tempati bersama dengan Sela.


Menyesal? Tentu saja Harza menyesal, bukan karena tidak bisa mempertahankan pernikahannya dengan Sela, melainkan dirinya tidak bisa mendapatkan sepeser pun harta papa Doni, meskipun dirinya anak kandung papa Doni satu satunya, hanya mobil miliknya dan rumah sekarang yang di tempati yang dirinya terima dari papa Doni.


Lalu Harza beranjak dari tidurnya, dan mengacak acak rambutnya kasar, tidak memperdulikan sakit di tangannya. Karena pikirannya tertuju pada Rani, wanita yang selalu memenuhi hatinya karena tidak lama lagi keduanya akan melangsungkan pernikahan.


"Semoga kamu mengerti keadaan ku sekarang,"


Harza beranjak dari duduknya, karena dirinya yakin jika Rani pasti akan menerimanya, meskipun menikah tanpa mahar perusahan yang di inginkan nya, apa lagi saat ini Harza benar-benar menjadi pengangguran.


*


*


*


"Kalau kamu masih bertahan dengan Harza, kamu benar-benar wanita bodoh, jangan bilang cinta, di dunia ini cinta hanyalah omong kosong, semua yang kita inginkan memerlukan uang, apa yang kamu harapkan jika kamu masih bertahan dengan Harza, pikirkan dengan baik-baik apa yang aku katakan ini Rani!" ucap Anton yang sedang duduk berhadapan dengan Rani di rumahnya.


Dan tidak mendapat jawaban dari Rani, yang masih saja diam dan sesekali meminum cokelat panas yang berada di hadapannya.


"Kenapa kamu hanya diam?"


"Terus aku harus bagaimana?"

__ADS_1


"Kita harus menyusun rencana untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milik kita, kamu tahu bukan, orang tua Sela juga berperan dalam kehancuran keluarga kita?"


Mendengar ucapan kakaknya, Rani hanya melirik ke arah Anton, sambil menyeruput cokelat panasnya kembali.


"Apa rencana kita selanjutnya?" tanya Rani, dan Anton pun langsung memberi tahu apa rencana ke depan.


Senyum sinis terukir dari sebelah sudut bibirnya, selepas kepergian Anton dari rumahnya.


"Sela, Sela, Sela, sehebat apa pria yang selalu membantumu itu, tidak ada yang tidak mungkin bagi Rani, untuk mendapatkan apa yang di inginkan nya," ucap Rani, dan tatapan matanya langsung tertuju ke arah pintu, yang di buka oleh Harza dan langsung masuk ke dalam rumahnya.


*


*


*


"Sayang, bagaimana kabarmu hari ini? Maaf beberapa hari ini, aku tidak sempat mengunjungimu, kamu tahu kan apa yang sedang aku alami, aku sungguh merindukanmu,"


Harza lalu memeluk bahu Rani, dan membawanya ke dalam pelukannya.


Tapi dengan segera Rani melepas pelukannya, lalu beranjak dari duduknya.


"Sayang ada apa denganmu? Kenapa kamu begitu dingin padaku, iya aku akui aku salah, karena sebentar lagi kita akan menikah dan aku tidak bisa memberikan mahar yang kamu inginkan, tapi aku juga sudah memberi tahu kamu semuanya sebelumnya, dan kita sudah berjanji, untuk selalu bersama selamanya bukan,"


Senyum sinis terukir dari sebelah sudut bibir Rani, lalu membalik tubuh nya untuk menatap Harza yang sebelumnya juga ikut berdiri dan mencekal tangannya saat dirinya akan meninggalkan Harza.


"Janji? Janji apa? Kapan aku mengucapkan janji padamu? Dan lepaskan tanganmu," ucap Rani lalu melepas tangan Harza dengan kasar.

__ADS_1


"Sayang ada apa dengan mu? Kenapa kamu berubah?"


"Ada apa denganku? Kenapa aku berubah? Aku baik-baik saja, dan aku tidak pernah berubah, dari dulu aku seperti ini,"


Mendengar jawaban Rani, membuat Harza begitu bingung dengan perubahan sikap Rani padanya, yang tidak pernah di tunjukkan Rani sebelum nya.


"Oh ya Harza Rahendra, lupakan tentang pernikahan kita, dan sekarang pergi dari rumahku, karena aku tidak ingin menikah dengan orang miskin seperti dirimu!"


Bagai petir di siang bolong, membuat Harza begitu terkejut dengan perkataan Rani, lalu dirinya meraih ke dua bahu Rani untuk menghadap ke arahnya


"Kamu tidak serius mengatakan itu kan sayang?"


"Tentu saja serius, dan silahkan pergi dari rumahku, mulai sekarang, aku tidak mengenal siapa kamu!"


Plak!


Plak!


Bersambung.....................


PERINGATAN!!!!!!!!!!


Selalu tekan like, setelah membaca dan berikan komen kalian, meskipun hanya nulis lanjut, up dan apa lah sesuka kalian, memberi masukan boleh sekali, dan aku berharap itu.


Karena like dan komen kalian membantu novel ini lebih berkembang.


sudah lah curcol sore ini, untuk yang selalu like dan komen makasih sayang, aku selalu baca komen kalian, meskipun belum sempat bales karena tidak tahu mau bales apa 🤭🤭🤭🤭. Tapi aku selalu terhibur dengan komen kalian, sekian dan kapan terima gaji 🤣🤣🤣🤣😘😘😘😘😘😘🥳🥳🥳🥳

__ADS_1


__ADS_2