
Plak!
"Aww," ucap Kai lalu melepas bibirnya yang masih memberikan tanda kemerahan di ceruk leher Sela, kemudian beranjak dari tempatnya, saat kepalanya di lempar remote pendingin ruang.
Begitu pun dengan Sela yang segera turun dari tempat tidur sambil menutupi lehernya, saat dirinya melihat mama Leni berjalan mendekat ke arahnya.
"Aww Mama, apa yang mama lakukan?"
Tapi mama Leni tidak menghiraukan putranya tersebut dan langsung menjewer telinganya untuk turun dari tidur.
"Mama, ini namanya kekerasan, tadi melempar kepalaku dengan remote, sekarang menjewer telingaku, aku ini anak Mama!"
"Jangan banyak bicara, apa yang sedang kamu lakukan?"
"Mama tahu lah apa yang sedang aku lakukan, seperti Mama tidak pernah muda aja,"
"Kai!"
"Mama sakit!" teriak Kai saat mana Leni malah menarik telinganya dengan kencang.
"Ma, jangan seperti ini aku malu,"
"Malu kamu bilang? Malu dengan siapa?" tanya mama Leni dan melepas tangannya yang masih menarik telinga Kai. "Seharusnya kamu malu pada Tuhan, dengan apa yang kamu lakukan tadi!"
"Iya Maaf ma,"
"Aku juga minta maaf Ma," sambung Sela sambil menundukkan kepalanya malu, dan tangannya terus menutupi Lehernya, saat dirinya yakin pasti bekas ciuman Kai di lehernya meninggalkan bekas biru kemerahan.
"Kamu tidak salah sayang, pasti ini ulah Kai, mama tahu persis,"
"Ko aku sih Ma?"
"Siapa lagi memangnya, mama hafal persis setiap mama membangunkan mu, mama selalu mendengar kamu mengigau, oh no lebih cepat ah Sela sayangku," ucap mama Leni menirukan perkataan saat Kai sedang mengigau. "Dan setelah itu celana–
__ADS_1
Belum juga mama Leni meneruskan perkataanya Kai sudah membekap mulutnya.
"Ma, jangan membuat aku malu di hadapan wanita pujaan ku," bisik Kai di telinga mana Leni lalu melepas tangannya.
"Tapi itu kenyataannya, dan itu benar kan?"
"Mimpi basah tante? Sungguh malang kau teman, aku rasa milikmu sudah tidak normal, karena karatan," sambung Bima yang baru masuk ke dalam dan menertawakan Kai.
"Sialan!"
"Sayang kita turun dan sarapan terlebih dulu, mama sudah lapar,"
Ajak mama Leni lalu menggandeng tangan Sela. "Jangan di tutupi nanti mama olesi obat, biar cepat hilang," ujar mama Leni dan menarik tangan Sela yang satunya, yang masih menutupi lehernya, lalu keduanya keluar meninggalkan Kai dan Bima yang masih berada di dalam kamar.
Selepas kepergian Sela dan mama Leni, Kai memeluk tubuh Bima dengan penuh kebahagiaan.
"Jangan memelukku, aku masih normal,"
"Selamat teman, ternyata usahamu teman sia-sia," dan Bima pun langsung memeluk tubuh Kai untuk memberi selamat.
"Jangan memeluk ku, aku pria normal,"
"Kampret!" Bima melepas pelukannya lalu mendorong tubuh Kai, dan keduanya langsung tertawa bersama.
"Bima, sebelumnya aku ingin mengucapkan banyak terima kasih pada mu, kalau bukan karena dirimu, aku tidak mungkin bisa mendapatkan Sela,"
"Hanya itu?"
"Tentu saja tidak, gaji kamu aku naikkan jadi dua kali lipat,"
"Bukan sepuluh?"
"Ya sudah tidak jadi,"
__ADS_1
"Dasar pelit!"
"Oh iya tumben kamu pagi-pagi sudah datang, apa ada hal penting? Bagaimana dengan nenek lampir?"
"Dia sedang di tangani oleh dokter, dan aku sudah menyerahkannya pada polisi,"
"Bagus,"
"Tapi bukan informasi itu yang ingin aku sampaikan,"
Mendengar perkataan Bima dengan nada serius, Kai pun langsung menatap sahabatnya dan juga bawahannya tersebut.
*
*
*
Risa dengan terburu buru melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu, saat bel rumah berbunyi dan meninggalkan Nana yang sedang berada di ruang keluarga bersama mbok Ijah, saat dirinya yakin pasti sela yang pulang ke rumah, saat semalam tidak pulang dan juga tidak memberi kabar kepadanya.
"Kemana saja kamu tidak–
Risa menghentikan ucapannya saat sudah membuka pintu, dan menatap seseorang yang berdiri tepat di depan pintu, yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Hendri, kamu?" tanya Risa tidak percaya jika Hendri bisa berdiri tegak meskipun satu lengannya mengapit tongkat untuk membantunya berjalan.
"Apa aku boleh masuk?"
"Tidak, pulang lah!"
"Aku ingin bertemu dengan putriku, dan aku minta maaf atas apa yang telah aku lakukan padamu dulu, aku mohon maafkan aku Risa,"
Bersambung...........................
__ADS_1