
Anton terus mondar mandir di depan ruang perawatan Sela, saat dirinya tahu adiknya di rawat di rumah sakit yang sama di mana Harza berada.
Anton antara yakin dan tidak yakin dengan apa yang ingin dirinya katakan pada Sela, tapi tidak ada salahnya dirinya bertanya terlebih dahulu kepada adiknya, apa yang ada di benaknya.
Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Anton, lalu mengetuk pintu ruang perawatan Sela, dan langsung masuk ke dalam saat ada seseorang yang menyuruhnya masuk.
"Anton," ucap Kai yang sedang duduk di sofa ruangan tersebut, lalu beranjak duduknya.
"Bagaimana keadaan Sela?" tanya Anton dan sekilas menoleh ke arah ranjang di mana Sela sedang tertidur lelap.
"Dia sudah membaik,"
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Tidak ada, dia hanya kelelahan," jawab Kai lalu mempersilahkan Anton duduk, di ikuti oleh dirinya yang duduk kembali di tempatnya semula. "Kenapa wajahmu begitu cemas, Sela memang adikmu, tapi sekarang dia adalah istriku dan kamu tidak perlu cemas lagi, karena aku akan melindungi istriku dari orang-orang jahat yang akan mencelakainya,"
"Terima kasih aku percaya padamu, tapi ada yang ingin aku sampaikan padamu, dan ini penting,"
Kai langsung menatap ke arah Anton yang duduk tepat di hadapannya saat Anton berbicara penuh dengan keseriusan.
"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan, aku akan mendengarnya,"
"Ini tentang Harza,"
"Ada apa dengan Harza, hari dia akan di jemput petugas polisi bukan?" tanya Kai sambil menautkan ke dua alisnya.
"Iya benar, tapi apa kamu tidak ingin mencabut laporan ke kantor polisi dari tuntutan yang kamu laporkan?"
__ADS_1
"Kenapa kamu berkata seperti ini? Kamu sendiri juga mendukungku untuk melaporkannya ke kantor polisi tempo hari,"
Tapi Anton tidak menjawab pertanyaan Kai, yang langsung beranjak dari duduknya.
"Iya aku tahu, maaf aku berkata seperti ini padamu, hanya karena aku kasihan pada Rani yang sedang mengandung anaknya,"
"Anak?" tanya Kai dan juga langsung beranjak dari duduknya.
"Sudahlah tidak perlu di bahas lagi, mungkin ini hukuman bagi Rani dan Harza karena sudah membuat Sela menderita, maaf aku tadi telah lancang memintamu untuk mencabut laporan mu terhadap Harza," ujar Anton sambil tersenyum lalu berjalan menuju pintu ingin keluar dari ruangan tersebut, namun langkahnya terhenti saat Kai memanggilnya.
"Maaf aku tidak bisa mencabut laporan ku untuk saat ini, biarkan dia mendapat hukuman dari perbuatannya,"
"Iya aku tahu," ujar Anton sambil tersenyum lalu membalik badannya dan keluar dari ruang perawatan Sela.
Anton yang sudah berada di luar ruang perawatan Sela melangkahkan kakinya dengan cepat saat melihat ada beberapa polisi yang membawa Harza keluar dari rumah sakit, Anton yang tidak melihat keberadaan Rani langsung berlari menuju ruang perawatan di mana Harza pernah mendapat perawatan.
"Rani," panggil Anton sambil membuka pintu ruang perawatan Harza dan langsung bernafas lega, melihat adiknya seorang diri di ruangan tersebut sambil membereskan pakaian Harza.
Tapi Anton tidak menjawab dan menghampiri Rani lalu memeluk adiknya tersebut.
"Maafkan kakakmu ini,"
"Kak lepaskan," ujar Rani sambil melepas pelukan Anton. "Untuk apa kakak minta maaf?"
"Karena kakak sudah memisahkan kamu dengan Harza, tapi kakak janji selama Harza berada di dalam penjara kakak akan menjaga kalian, dan kakak akan mempersatukan kalian kembali saat Harza sudah bebas nanti, dan maafkan om mu ini sayang," ujar Anton beralih mengeluh perut Rani.
"Kak, kakak ta–
__ADS_1
" Jangan bicara lagi, kakak sudah tahu, tapi kenapa kamu tidak memberi tahuku juga kamu sedang mengandung?"
"Aku tidak ingin kakak kecewa karena aku mengandung anak Harza," ujar Rani tapi tidak di hiraukan oleh Anton yang langsung memeluk Rani.
"Maafkan kakakmu ini,"
*
*
*
Sebulan berlalu, dan kehidupan benar-benar berjalan dengan normal seperti semula, Sela pun menjalani kesehariannya sebagai istri yang sangat baik untuk Kai, hanya saja Sela sering bosan karena terus berada di rumah, saat Kai tidak mengizinkan keluar rumah tanpa bersamanya, dan hari ini Sela pertama kalinya berbohong pada Kai.
"Iya aku di rumah dan aku sedang berada di kamar menonton televisi," ujar Sela dari balik sambungan ponselnya. "Oke bay," dan Sela pun langsung menutup sambungan ponselnya. "Maaf aku berbohong," Sela tersenyum dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur miliknya yang berada di toko kue miliknya, saat hari ini dirinya memutuskan untuk mengunjungi toko kuenya setelah Kai berangkat ke kantor.
Sela memijat lengannya saat merasakan pegal setelah membantu karyawannya di toko kue nya yang sekarang berkembang dengan pesat.
"Masuk saja Ria," ujar Sela saat pintu dimana sekarang dirinya berada di ketuk, dan Sela yakin itu adalah Ria salah satu karyawannya.
"Oh jadi sekarang sudah pandai berbohong,"
"Kai," ucap Sela saat Kai yang masuk, dan Sela akan beranjak dari tidurnya tapi langsung di tahan oleh Kai dan langsung mengungkung Sela di bawahnya
"Dan terimalah hukuman ini karena kamu sudah berbohong padamu,"
"Kai ini bukan hukuman, dan semalam kita sudah melakukannya,"
__ADS_1
"Aku tidak peduli sayang," ujar Kai yang langsung mencium bibir istrinya yang mengandung magnet baginya. Lalu satu tangannya menyelusup masuk ke dalam baju yang istrinya kenakan.
Bersambung.....................